Cintai Kereta Api Melalui Loko Uap

share on:
Anggota SSC menyempatkan diri mengabadikan kenangannya dengan backgroun lokomotif uap || YP-Deddy Herdito

Yogyapos.com (SOLO) - Semboyan Satoe Community (SSC) mengadakan trip kereta api uap Jaladara di Surakarta, Sabtu (13/11). Jaladara adalah kereta api wisata yang ada di kota Surakarta yang beroperasi mulai Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota dengan jarak tempuh 6 kilometer.

Pada perjalanan kali ini digunakan lokomotif uap D 1410. Lokomotif ini cukup istimewa karena merupakan permintaan khusus Presiden Joko Widodo pada PT KAI (Kereta Api Indonesia) yang karena potensi dan sejarahnya sangat disayangkan apabila hanya berada di Taman Mini Indonesia Indah, mendampingi lokomotif uap yang ada sebelumnya yaitu seri C 1218.

Kegiatan ini juga dibersamai Deputi Executive Vice President (EVP) PT KAI Daop 6 Yogyakarta Ririn Widiastuti, yang berpesan agar SSC tetap membantu KAI menjaga citra khususnya di media sosial yang dimiliki SSC. “Harapannya SSC mampu membantu KAI di media sosial tentang apa yang menjadi aturan, baik tentang keselamatan atau tata tertib berkereta” kata Ririn.

Deputi EVP Daop 6 Yogyakarta tersebut menghimbau agar pengambilan gambar maupun video di lingkungan stasiun maupun jalan rel untuk tetap berhati-hati dengan mewaspadai lingkungan sekitarnya. Ririn juga berkeinginan agar kolaborasi KAI dengan SSC kedepannya makin berjalan baik dan memberi mutual benefit bagi kedua pihak dan dapat membuat sinergi yang luar biasa.

Ketua SSC Teguh Iman Santosa mengatakan, SSC adalah perkumpulan pecinta kereta api yang memiliki visi sama untuk mewujudkan kecintaan pada dunia perkeretaapian.

“Aktivitas ini merupakan salah satu upaya kami menggerakkan kembali geliat ekonomi terutama di sektor pariwisata di kota Surakarta setelah terdampak pandemi Covid-19,” kata Teguh.

Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 50 orang anggota SSC dan berhasil menarik perhatian banyak orang saat melintas di jalan utama kota Solo, Slamet Riyadi.

Tiket perjalanan ini pun didesain sedemikian rupa meniru tiket Edmonson yang merupakan bukti pembayaran kereta api pada jaman dahulu. Salah satu anggota SSC, Yoga Bagus Prayogo menjelaskan lokomotif D1410 merupakan lokomotif uap yang didatangkan oleh Staatsspoorwegen pada tahun 1921 dari pabrik Hanomag-Hannover Jerman. 

“Memiliki nomor seri pabrik 9653 dengan susunan roda 2-8-2T,tipe D14 merupakan lokomotif langsir kelas berat pada awalnya dan merupakan jenis yang mirip dengan tipe D50,” ujarnya.

Dinilai memiliki performa yang baik, D14 kemudian dipergunakan sebagai lokomotif dinasan pegunungan di Jawa Barat sebagai penarik kereta api penumpang dan barang.Persebaran D14 berpusat di Djatinegara dan Cianjur. Pemerhati lokomotif uap tersebut mengatakan kereta penumpang yang digunakan Jaladara adalah tipe CR16 dan CR144 yang merupakan kereta penumpang kayu bergandar 2 dan dilengkapi rem tangan.CR16 merupakan kelas 3 yang dipergunakan untuk angkutan pasar dimana ada pintu geser besar untuk mempermudah naik turun penumpang dan pedagang pasar, sedangkan CR144 merupakan kereta kayu kelas 3 yang dilengkapi dengan toilet.

Toilet ini merupakan modifikasi sewaktu armada ini disiapkan untuk kereta wisata. Kedua kereta ini sebelumnya dipersiapkan untuk kereta wisata Banjar-Pangandaran di era 1990an.

“Namun pada saat ordebaru bubar, kedua kereta ini dikirim ke Ambarawa untuk dipreservasi dan kemudian dipergunakan untuk kereta wisata di Solo,” tutup Yoga. (Deddy Herdito)


share on: