Covid-19 Memaksa Slamet Beralih Pekerjaan Penjual Beragam Masker

share on:
Slamet saat mangkal di depan halam parkir timur PN Sleman || YP-agung Dwi Purwanto

PANDEMIK Covid-19 yang belum bisa dipastikan kapan lenyap telah mengakibatkan sektor usaha gogrok, bahkan sebagian diantaranya gulung tikar. Tak terkecuali sektor usaha kecil ikut termbas sehingga para pelakunya mesti cerdik memutar otak mencari kemungkinan beralih ke usaha lain yang sedikit menjanjikan. Hal inilah yang dlakukan oleh Slamet (50) warga Medari gede, Ganjuran, Caturharjo, Sleman.

“Saya terpaksa beralih, coba-coba jual masker supaya dapur tetap ngebul (berasap, red),” ucap Slamet saat dijumpai yogyapos.com di pinggiran wilayah Sleman, Jumat (1/5/2020).

Sebelum merebak wabah Covid-19, Slamet sehar-harinya sebagai penjual mainan anak-anak. Sejak lebih sebulan lalu murid-murid sekolah melakukan proses belajar di rumah. Kondisi sekolah-sekolah sepi, sehingga praktis penjualan mainan anak-anak pun tidak laku.

“Saya sempat bingung harus usaha apa agar tetap dapat pemasukan,” sela lelaki ‘tangguh’ itu saat sehari sebelumnya istirahat di sekitar parkiran kantor PN Sleman.

Di tengah kebingungan, terbersit ide beralih menjual masker. Inspirasinya datang dari kenyataaan banyak orang yang mengenakan masker sesuai anjuran pemerintah. Hitung-hitung sudah dua pekan ia menjadi penjual beragam masker keliling dari satu tempat ke tempat lain, dari pinggir perempatan jalan yang satu ke tempat serupa lainya.

Darimana masker-masker itu diperoleh? Slamet mengaku barang dagangan tersebut hasil kreasi istrinya, sebagian besar lainnya hasil kulakan. Masker berbahan kain yang kemudian dipola dan dijahit dan dimasukan ke dalam plastik. Ada juga yang bebahan serupa tissue. Harganya berkisar Rp 5.000-Rp 6.000. Dijamin steril dari ‘bibit’ penyakit karena sudah melalui proses sterilisasi.

Dengan cara keliling menjajakan dagangannya, Slamet mengaku setiap hari rata-rata bisa menjual sekitar 30 masker. “Ya cukup atau tidak cukup, penting setiap pulang bisa membawa uang untuk menyambung hidup,” tuturnya, datar.

Slamet tidak tahu kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Ia berharap virus yang telah memaksa mengubah jalan hidupnya itu segera berlalu. Jika kondisi sudah kondusif seperti semula, bapak dua anak yang kini duduk di bangku SD dan SMP ini akan kembali menjalani pekerjaan sehari-hari sebagai penjual mainan anak-anak. Itulah cita-cita sederhananya. (Agung DP)

 


share on: