Yogyapos.com (YOGYA) - Organisasi sosial Rotary Club Internasional setiap tahun mempunyai program pertukaran pelajar sedunia atau Student Exchange Program. Ribuan pelajar dari seluruh dunia bertukar tempat untuk belajar dan tinggal tentang bahasa, budaya, dan kehidupan sosial di negara yang sebelumnya belum pernah dikenalnya.
BACA JUGA: Presiden Terima Lencana Emas KTNA, Diakui Berpihak pada Petani dan Nelayan
Salah satu peserta program itu adalah Estelle Arnould. Pelajar SMA College Saint - Agustin Gerpinnes, Belgia, ini sekarang mendapatkan penempatan di Yogyakarta.
BACA JUGA: Oknum Anggota Dewan Sleman Ditahan Kejaksaan, Ini Penyebabnya
"Setelah lulus dari SMA saya tidak langsung masuk universitas. Tapi mengikuti program Student Exchange. Dan sekarang saya sudah hampir satu tahun tinggal di Yogya. Saya akan kembali ke Belgia akhir Juli nanti. Jujur, saya pasti akan kangen Yogya telah memberi banyak pengalaman baru dan kenangan indah," tuturnya, Rabu (24/6/2026).
BACA JUGA: Terkait Penahanan Raudi Akmal, Ini Respon Baharuddin Kamba dari JCW
"Sebenarnya pilihan pertama saya dulu adalah New Zealand. Namun, setelah berkas diserahkan dan wawancara dilakukan saya mendapatkan negara pilihan kedua, Indonesia. Tetapi, yang dipilihkan untuk saya ternyata Indonesia. Saya tetap senang karena memang pilihan saya" kenang Estelle.

Estelle bercerita bahwa sudah kebiasaan orang tua di Eropa mengharuskan anaknya agar melakukan traveling jauh ke negara yang berbeda kultur sebelum lanjut studi ke perguruan tinggi. Tujuannya, supaya sejak muda mereka mengenal betapa dunia ini luas dan beragam budayanya. "Kami harus belajar memahami berbagai perbedaan dan memahami arti pentingnya toleransi sebagai warga dunia," tuturnya.
BACA JUGA: Pembangunan IKN Sebagai Kota Cerdas Butuh Infrastruktur Telekomunikasi yang Andal
Estella Arnould lahir di kota Charloroi, Belgia, pada 17 September 2007 dari orang tua Francois Arnold dan Stephani Lutin. Tinggal di Belgia mengharuskannya bisa tiga bahasa yang menjadi bahasa nasional negaranya: Belanda, Prancis, dan Jerman. Selain itu di sekolah ia belajar Bahasa Inggris dan sekarang Bahasa Indonesia.
BACA JUGA: Living Lab Sungai Yogyakarta Diluncurkan di Taman Gajahwong Muja Muju
"Saya tidak sulit beradaptasi di sini. Sebelumnya saya sudah sering bertemu orang Asia. Mengapa memilih Indonesia? Pertama, karena bahasa dan tulisannya sama. Itu memudahkan saya dalam belajar hal-hal lain. Kedua, ada berbagai keunikan yang memunculkan rasa penasaran dan itu ingin saya pelajari. Misalnya, Candi Borobudur yang salah satu dari 7 keajaiban dunia, atau Bali yang menjadi tujuan wisata populer bagi orang Eropa," ucapnya.
BACA JUGA: Raih Sertifikat ISO Anti Penyuapan, Kemnaker Perkuat Sistem Pengawasan
Emille ingat ia pertama kali mengisi formulir Student Exchange Rotary Club Belgia pada 3 Agustus 2025. Setelah berkas lengkap dan Visa keluar ia berangkat. Terbang dari Brussel 9 Agustus 2025 ia mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Selanjutnya bersama terbang ke Yogyakarta untuk menetap bersama orang tua asuh yang member Rotary Club chapter Indonesia.
BACA JUGA: Advokat Akasa Surya Amicitia SH: Korban Dugaan Penganiayaan di Gondokusuman Terima RJ
"Pengalaman paling mengesankan saya selama di Yogya adalah belajar menjahit, membatik, dan membuat keramik di sekolah SMK Negeri 5 Yogyakarta. Semua siswa baik, guru-guru baik. Saya berhasil menyelesaikan dua lembar kain batik buatan saya sendiri. Itu sulit, butuh kesabaran tinggi, tapi saya puas karena saya mampu menyelesaikannya. Karya ini akan saya pulang ke Belgia untuk koleksi di rumah nanti," jelasnya.

Tentang belajar membuat keramik, Estelle juga merasa excited. Selama ini ia hanya melihat berbagai bentuk keramik dalam bentuk jadi. Sudah dalam bentuk cantik dan indah. Tetapi, selalu penasaran bagaimana caranya benda-benda itu dibuat. Rasa penasaran itu terjawab ketika ia praktikum sendiri di SMKN 5 Yogyakarta.
BACA JUGA: Brigjen Yuniar Pimpin Pertemuan Perdana Dewan Pengawas RS Dokter Soetarto
"Saya berhasil membuat tiga produk keramik. Tapi, yang lebih penting saya tahu proses dari awalnya. Dari membuat desain, memilih bahan baku, mengolah adonannya, membentuk dengan tangan sendiri, membakar setelah jadi, sampai membuat ornamen di produk itu. Rasanya seperti sedang menjadi seniman yang serius mewujudkan idenya," tandasnya.
BACA JUGA: Terdakwa Penyalahgunaan Merek Usaha Diganjar Penjara 6 Bulan Percobaan 10 Bulan
Empat bulan terakhir Estella tinggal di rumah orang tua asuhnya di Kalasan. Tinggal di rumah Fika Puspitasari dan Wawan Dewanto, yang dalam saat bersamaan anaknya, Prakasa Arka Dewanto, juga sedang menjalani student exchange di Sao Paulo, Brasil dan Agustus nanti akan kembali ke Indonesia.

"Saya senang tinggal di tempat Mama Fika dan Papa Wawan. Mereka sering mengajak hang out. Saya diajak mencoba banyak sekali kuliner. Saya makan sate ayam, sate kampung, bakmi Jawa, klepon, gado-gado, juga soto Betawi. Saya juga pertama kali dalam hidup saya mencicipi buah manggis. Kalau apel dan jeruk banyak di Belgia, tapi manggis dan salak baru pertama kalinya saya cicipi di sini. Senang punya orang tua asuh yang suka traveling dan hobi kuliner," ucapnya.
BACA JUGA: BNN Sleman Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis, Diikuti Ratusan Orang
Bagi Estelle ada tiga manfaat yang ia dapatkan selama mengikuti program Student Change Rotary Club ini. Pertama, ia bisa mengenal bahasa dan budaya bangsa lain dengan langsung tinggal bersama orang tua asuh.
"Saya tahu kebiasaan sehari-hari keluarga Indonesia. Dari pagi sampai malam. Bagaimana cara berkomunikasi orang tua dan anaknya. Menu makannya setiap hari. Ke mana mereka belanja dan bermain. Dan banyak lagi," jelasnya.
BACA JUGA: 356 Petugas PPIH Daker Makkah Tiba di Tanah Air, Bawa Pengalaman untuk Penguatan Layanan Haji
Kedua, ia senang bisa bertemu dengan banyak pelajar lain ketika ikut proses belajar mengajar di sekolah. Hal itu membuat kemampuannya berbahasa Indonesia semakin lancar. "Saya sudah mengerti semua percakapan mereka, meskipun saya masih harus berpikir untuk berucap dengan kata-kata," tandasnya.
BACA JUGA: KKN Mahasiswa UGM di Pesisir Manokwari, Merancang Regenerasi Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal
Ketiga, ia merasa pengalaman hidupnya dan wawasannya bertambah banyak. Membatik, membuat produk keramik, menjahit baju, mencoba aneka kuliner lokal, adalah beberapa hal positif yang ia dapatkan selama hampir satu tahun berada di Yogya.
BACA JUGA: Tutup Tahun dan Pentas Seni KB Putra Handayani Berlangsung Semarak
Setelah kembali ke Belgia bulan depan, Estelle berencana akan segera mendaftar ke universitas. "Saya punya cita-cita menjadi menjadi Okupasi Terapis yang profesional. Untuk itu saya harus memperdalam ilmu itu di perguruan tinggi. Rencana saya akan kuliah di Swiss atau Belgia. Saya melihat bidang Terapi Okupasi akan semakin dibutuhkan di Eropa, " ujarnya.
Satu hal yang membuat Estelle surprise saat di Yogya adalah seringnya ia melihat banyak siswa yang mengantuk bahkan tertidur ketika guru menerangkan mata pelajaran di kelas.
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Dorong Pengolahan Sampah dan Pekarangan Produktif
" Kata teman-teman belajar itu nanti saja menjelang ujian. Hal itu tidak bisa terjadi di Belgia. Semua siswa harus serius dalam belajar. Kalau tidak mereka akan ketinggalan dan harus mengulang. Semua pelajaran adalah bekal untuk masa depan. Guru kami selalu mengingatkan gak itu. Tapi, di sini kulturnya berbeda. Guru juga tidak memberikan hukuman apa-apa," ungkap Estelle sambari menggelengkan kepalanya. (Ebo)
