KOREOGRAFER Yogya Bimo Wiwohatmo pentaskan Bedhayan Anak Bajang yang adopsi dari Novel karya Sindhunata berjudul ‘Anak Bajang Mengayun Rembulan’, di Gedung Labotarium ISI Yogya, Senin (17/10/2022).
Dalam pementasan ini disamping di sutradarai oleh Bimo Wiwohatmo sendiri, juga mengandeng berkolaborasi dengan sejumlah seniman diantaranya Butet Kartaredjasa, Ni Made Purnama (Narator) Gandung Djatmiko (Perancang Tari dan MusiK) Beni Susilo Wardayo (Perancang Tata Panggung) Beni Susilo (Perancang Tata Suara) Eko Sulkan (Tata Cahaya) Joni Asmara (Perancang Visual) Romani Iskandar (Perancang Topeng) dan Nita Azhar (Perancang Busana).

Dalam Sambutannya sebelum pementasan Sindhunata menyampaikan terimakasih kepada siapa pun lembaga yang terkait mewahanakan karyanya Anak Bajang Mengayun Bulan kedalam pentas tari berjudul Bedhayan Bocah Bajang oleh Bimo Wiwohatmo yang mengalihkan karyanya sebuah formonce tari.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-hari-kedua-festival-teater-kampung-muncul-suasana-komunal-824
“Semoga karya Anak Bajang Mengayun Bulan dinikmati warga jogja dalam bentuk tari,” ujarnya.
Sindhunata berpendapat sebagai seorang sastrawan begitu karya itu sudah menjadi milik publik, maka penciptanya (seniman) mati dan karyanya yang hidup. Maka terserah mau diapakan dibuat bagaimana terserah mau memperlakukanya silahkan sebebas besanya untuk menginterpretasikan isinya dan seluruh simbol-simbol mungkin membantu alih wahana ke pentas tari.
Para pendukung pergeralaran tari 'Bedhayan Anak Bajang' di Kampus ISI Yogya || YP-Agung Dwi Purwanto
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-pentas-monserrat-teater-alam--monumen-kreasi-menolak-senjakala-35
“Saya rasakan ketika menulis 'Bocah Bajang Mengayun Bulan' ini, saya masuk ke alam keindahan yang tidak bisa diekspresikan pada kata-kata. Keindahan itu seperti sebuah senandung, seperti rangkuman kata-kata, namun berbagai macam gerak tari yang tidak bisa diramgkum dalam kata-kata. Betapa miskinnya kata-kata untuk mengungkapkan itu semua,” ungkapnya.
Ia yakin justru pada waktu membayangkan gerak-gerak yang indah dan kecantikan citrawati serta putri domas gerak-gerak yang indah dari alam itulah tidak mampu dengan kata-kata meskipun dirinya berusaha setengah mati.
“Dan saya kira inilah yang bakal kita saksikan bagaimana akhirnya kata-kata terbatas itu menjadi sebuah gerak tari. Seni itu mencakup berbagai hal dan dalam hal ini alih wahana kata-kata menjadi gerak tari,” pungkasnya. (*/Agn)
