Deswita Grogol Sering Raih Penghargaan, Omzet Tembus Rp 1 M

share on:
Disaat kota yang kian padat oleh gedung-gedung dan perumahan, sebagian area Deswita Grogol ini favorit bagi anak-anak untuk bermain | Foto : Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (SLEMAN) - Desa wisata (Deswita) harus mampu sejahterakan pengelola dan bermanfaat bagi masyarakat. Untuk itu diperlukan ketekunan, kesabaran, kesediaan terus belajar, dan melengkapi diri dengan karakter yang baik sehingga tamu dan pengunjung tak akan bosan untuk datang dan berkunjung.

Itulah konsep pengelolaan desa wisata sebagaimana dilakukan  Bugiman, pengelola desa wisata Grogol, Margodadi, Seyegan, Sleman, DIY. Berbincang dengannya, seperti mendengar laku hidup petani tulen.

“Bukan hal yang mudah untuk menemukan identitas sebuah desa wisata. Dulu kami mengangankan sebuah desa wisata berkarakter budaya. Karena ada banyak potensi yang dimiliki Desa Margodadi, mulai jejak Sunan Kalijaga, wayang kuna yang usianya berabad lamanya, keluarga tujuh dalang, sanggar seni, industri genteng, batik, dll. Bahkan tahun 2001 kami sudah dapat SK Gubernur sebagai desa wisata budaya,” tukas pria ramah yang akrab disapa Mas Be, kepada yogyapos.com, baru-baru ini.


Bugiman, dulu idenya diremehkan, kini para peremeh balik terpana | Foto : Wahjudi Djaja

Mas Be menjelaskan dinamika pariwisata menempatkan Grogol sebagai desa wisata berbasis alam sejak 2011. Asal usul deswita Grogol. Tanah yang jadikan basecamp Deswita Grogol ini berstatus sewa tanah kas desa. Sebelum disewa, lahan itu merupakan tempat bermain Mas Be di masa kanak-kanak. “Karena dekat sungai dan banyak mata air, produksi padinya kurang maksimal. Lalu kami sewa per tahun 3 juta,” terang pria yang rela melepaskan pekerjaan sebagai karyawan pabrik ini.

Sejak memutuskan undur diri dari pabrik, Mas Be bersama sepuluh pemuda pada awal tahun 2011 mulai mengerjakan sarana dan prasarana Deswita Grogol. Tak sedikit yang meremehkan bahkan menertawakan saat dia menyampaikan programnya di forum desa. Perlahan penuh kesabaran, dibangunlah beberapa spot dan sarana pendukung desa wisata.

"Didukung oleh Pak Ageng, Pak Dwi Riyanto, dan sesepuh Pak Zubaidi, kami bergerak. Mulai membuat proposal ke Kementerian Pariwisata sehingga memperoleh PNPM Mandiri sebesar Rp 75 juta. Itulah modal kami membangun tahap awal,” urainya.

Optimisme Mas Be dan teman-temannya memperoleh respon pengunjung. Dari tahun ke tahun tamu berdatangan baik domestik maupum mancanegara. Jumlah pengelola sekarang 60an orang. "Kepada mereka saya tekankan, kita itu ibaratnya jualan. Harus datang lebih awal dari tamu yang datang, persiapkan segalanya, harus sabar telaten, bersikap ramah, cekatan dalam melayani, serta supel dan prigel. Kita harus membuat tamu terkesan sehingga mereka mau datang kembali," katanya bangga.

Meski sebagai pemimpin, Mas Be tak serta merta main perintah. Bahkan sejak awal berdirinya Deswita Grogol, dia ‘berjibaku’ di tengah tatapan masyarakat yang memandangnya sebelah mata. Kuncinya adalah mengajak sambil guyon sehingga para pengelola tak merasa diperintah sekaligus ditunjukkan rasa tanggung jawabnya.

Deswita Grogol adalah desa wisata kelas mandiri dengan basis alam indah. Beragam jenis atraksi, kolam renang, outbond, jemparingan, susur sungai, membajak sawah bagi tamu asing, atau sekedar menyediakan tempat untuk live in dan family gathering.


Jejak Sunan Kalijaga di Deswita Grogol | Foto : Wahjudi Djaja

Berkat kegigihan Bugiman, deswita ini berulang kali meraih prestasi baik level Kabupaten Sleman maupun DIY. Tahun 2018 misalnya, meraih juara III dalam Festival Desa Wisata Kabupaten Sleman. Deswita dengan 30 homestay ini berhasil membukukan omzet lebih dari Rp 1 M tahun 2017. Itu semua, dia akui, karena adanya dukungan masyarakat dan pemerintah terutama Dinas Pariwisata Sleman yang hadir dengan beragam program pelatihan dan penguatan kapasitas.

Kehadiran Bugiman dengan desa wisata berbasis masyarakat yang semula diragukan ini kini dirasakan manfaat dan dampaknya. Partisipasi pengelola bagi pembangunan dusun Grogol dibuktikan dalam berbagai bentuk. "Tiap lebaran kami bikin bingkisan untuk keluarga kurang mampu. Jika para pemuda menggelar kegiatan, kami pun andil dengan memberikan bantuan dana. Bahkan saat desa membangun jalan, kami pernah membantu dana separo dari anggaran. Belum termasuk penggunaan sound system jika ada orang meninggal, misalnya,” jelas Mas Be penuh keyakinan.

Baginya, keberadaan Deswita harus memberikan manfaat bagi pengelola dan masyarakat. Dia memprogramkan penghasilan para pengelola tidak saja layak tetapi juga bisa melebihi dibanding kerja di tempat lain. Di kalangan pengelola juga tumbuh kesadaran, kalau tidak datang atau datang terlambat saat ada kunjungan, mereka tak menuntut penghasilan yang sama.

Saat ditanya tentang kiat dan strateginya membangun dan mengelola Deswita Grogol, Mas Be menjelaskan,

"Saya ini apa adanya kok mas. Karena ini kita niatkan sebagai usaha bersama, ya mari kita cintai dan kelola sekuat tenaga. Pasti ada hasilnya. Kita harus jujur dan sabar sejak awal apalagi menghadapi tamu yang berlainan karakternya, karena merekalah yang akan memberitakan Grogol keluar,” pungkasnya. (Wahjudi Djaja)

 


share on: