Dilepas Kepala Disbud Bantul, Memetri Kali Progo Berlangsung Sakral

share on:
Prosesi Memetri Kali Progo || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (BANTUL) - Suasana hidmat dan sakral mewarnai prosesi kirab Memetri Kali Progo di area Bendungan Sapon Dusun Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul. Dilepas Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul Nugroho Eko Setyanto SSos MM di Kedai Nyawiji, prosesi diikuti ratusan warga Bendo yang membawa carang (anyaman daun kelapa berisi nasi gurih).

Dalam sambutannya saat melepas kirab budaya, Nugroho menyampaikan Dinas Kebudayaan Bantul sangat mendukung digelarnya Memetri Kali Progo. “Mungkin dari segi pendanaan belum maksimal tetapi semangat warga untuk memetri kali sangat bagus. Apalagi Kali Progo adalah sumber air yang sangat diperlukan masyarakat,” tandasnya.

Lebih jauh disampaikan, pelestarian tidak hanya biota yang ada di sungai tetapi juga pelestarian lingkungan yang lain. "Dengan Memetri Kali Progo ini ada rasa keterpanggilan dari masyarakat baik di sekitar maupun yang lainnya karena Kali Progo ini lintas wilayah. Kita berharap di tempat lain sepanjang Progo ini juga melakukan hal yang sama walaupun dengan bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan kreatifitas dan karakter masyarakat,” jelasnya menjawab pertanyaan yogyapos.com, di sela acara.

Prosesi kirab Memetri Kaliprogo diawali oleh Bergada Proketen, Bergada Iwak, puja doa mantra oleh Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan pimpinan R. Bambang Nursinggih SSn, masyarakat padukuhan Bendo dan berbagai komunitas peduli sungai. Bergerak dari Kedai Nyawiji, mengelilingi Dukuh Bendo dan masuk ke area Kali Progo di sisi bawah Bendungan Sapon. 

Kepala Dinas Kebudayaan Bantul melepas kiran dengan memberikan kendi air Kali Progo ||YP-Wahjudi Djaja

Prosesi Memetri Kali Progo ditandai performing art oleh Sanggar Bimo Murti dengan tujuh penari membawa tujuh kendi berisi air dari tujuh sungai, yakni Kali Progo, Kali Winongo, Kali Code, Kali Gajahwong, Kali Kuning dan Kali Opak. Performing art diiringi musisi Denny Dumbo, personil Sirkus Barock dengan pembacaan narasi oleh Wahjudi Djaja selaku pendamping wisata.

Wahjudi Djaja menyampaikan tujuh kendi itu merupakan simbolisasi Sapta Sendavah, yakni tujuh sungai yang menjadi penanda wilayah Mataram (Yogyakarta).

“Ini merupakan gerakan awal untuk mengangkat kembali makna dan peran sungai bagi kehidupan dan peradaban. Sungai dulunya adalah halaman depan, yang dalam perkembangannya berubah menjadi halaman belakang tempat sampah. Inilah yang harus kita sadarkan dengan jalan budaya Memetri Kali Progo,” tandas dosen STIEPAR API Yogyakarta ini.

Lurah Trimurti Agus Purwaka ST selepas menebar ikan menyampaikan penghargaan atas kerja keras warga Dukuh Bendo yang telah menggelar Memetri Kali Progo. Sedangkan Dukuh Bendo, Partono, mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak sehingga Memetri Kali Progo bisa dilaksanakan dengan sakral dan hikmat. (Iud)

 

 

 

 


share on: