Yogyapos.com (YOGYA) - Perguruan Nasional KaHaDe bersama Institute KaHaDe dan Bulletin Neng Ning Nung Nang, akan menyelenggarakan diskusi virtual (zoom) dengan tema ‘Pendidikan Dan Hak Asasi Manusia’, Selasa (25/5/2021) Pukul 19.30-21.00.
Diskusi akan menampilkan nara sumber yang diantaranya Drs Ahmad Taufan Damanik MA (Ketua Komnas HAM), Dr H Urip Wahyudin MSi ( Dosen Universitas Cendrawasih), Prof Dr Hj Ema Marhumah MPd ( Dosen UIN Sunan Kali Jaga) dan Farida Mahri (Yayasan wangsakerta ceribon). Acara akan dipandu oleh Odi Salahudin dari Divisi Litbang Perguruan Nasional KaHaDe.
Sigit Sugito selaku pimpinan redaksi Bulletin Neng Ning Nung Nang yang dalam acara tersebut sebagai penggagas acara ‘Satu Abad Taman Siswa’ berharap, berbagai diskusi yang akan diselenggarakan hingga tahun 2022 sebagai penanda usia berdirinya Perguruan Taman Siswa yang genap berusia 100 tahun sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Hadjar.
“Kami juga berhara pemikiran–pemikiran yang muncul dalam diskusi tersebut akan menjadi pijakan untuk membangun road map pendidikan di Indonesia, sehingga pendidikan yang ada bersenyawa dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sosialnya,” katanya, Minggu (23/5/2021).
Menurut dia, mendiskusikan pendidikan yang berpihak kepada kebutuhan menjadi penting untuk menengok kembali model pendidikan yang di gagas oleh Ki Hadjar Dewantara. Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar pada tahun 1922 menjadi titik pijak model pendidikan yang berbasiskan kebutuhan.
Pada masa itu, penjajahan hadir di Hindia Belanda, dengan segala bentuknya adalah hak warga menjadi tereduksi. Pendidikan hanya melayani golongan tertentu yang memiliki akses pada penjajah.
Pendidikan yang menghamba pada “kebebasan” ekpresi individu warga untuk mengembangkan diri tereduksi oleh peraturan-peraturan dan “menghamba” kepada kepentingan penjajah.
“Ki Hadjar Dewantara hadir dengan perjuangan yang mengedepankan model pendidikan dengan menumbuhkan rasa “merdeka” baik secara bathin maupun secara lahir, dengan itu dimungkinkan tumbuh rasa “nasionalisme” yang pada akhirnya mengerakan seluruh mitra didik untuk berjuang bersama menjadi suatu bangsa yang bebas dari penjajah,” paparnya. (*/Met)
