Yogyapos.com (REMBANG) - Petani garam di Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, masih menghadapi tantangan klasik dalam meningkatkan pendapatan akibat fluktuasi harga pasar dan minimnya inovasi pengolahan hasil tambak.
Menyikapi persoalan ini, tim dosen dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menginisiasi kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Diversifikasi Produk Olahan Garam sebagai Solusi Alternatif Peningkatan Pendapatan Petani Garam” di Desa Tambak Agung, Kecamatan Kaliori. Pengabdian ini dilaksanakan dari Februari hingga Mei 2025.
BACA JUGA: Kapolres Tegas, Puluhan Botol Miras Disita dari Seorang Penjual di Bantul
Kegiatan ini diketuai oleh Dosen Program Studi Agribisnis UMY Dr Aris Slamet Widodo dan Dosen Sosiologi UWM Puji Qomariyah, dengan menggandeng Koperasi Tani Sari Makmur sebagai mitra lokal. Koperasi ini dikenal aktif dalam pengolahan hasil pertanian dan produksi garam rakyat di wilayah Rembang.
Pendampingan petani garam oleh Aris Slamet Widodo dan Puji Qomariyah || YP-Ist
Program ini menyasar upaya pendampingan petani garam untuk menciptakan nilai tambah melalui diversifikasi produk olahan garam. Beragam pelatihan telah dilakukan, mulai dari pembuatan bombs salt, eco detergent, sabun cuci tangan, vanilla sea salt, cabe garam, bumbu tabur bangkok, sea salt candy, hingga garam rebus.
BACA JUGA: Sanggar Unggah-ungguh Hamemayu Hayuning Budaya di Destinasi Wisata Sambirejo
Produk-produk ini memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan potensi pasar yang luas. Meskipun sampai hari ini produk yang dihasilkan baru garam industri, garam meja dan garam kosmetik.

Dr Aris Slamet Widodo menjelaskan, diiversifikasi produk olahan garam ini tidak hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi petani. Dengan pendekatan kolaboratif, ia berharap dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir Rembang.
BACA JUGA: Mahasiswi Asal Wonosobo Meninggal Dunia Setelah Tertabrak Mobil
“Dan Program ini tidak hanya fokus pada pelatihan teknis, tetapi juga memberikan edukasi mengenai strategi pemasaran, desain kemasan menarik, hingga pengelolaan usaha berbasis kelompok agar petani mampu bersaing secara kolektif," katanya, Jumat (2/5/2025).
Gudang garam milik petani || YP-Ist
Adapun endekatan yang digunakan bersifat partisipatif dan memberdayakan, di mana petani dilibatkan sejak tahap perencanaan, pelatihan, hingga evaluasi hasil.
BACA JUGA: Johan Imanuel Desak Kemnaker Buka Posko Pengaduan Penahanan Ijazah Pekerja
Sementara itu, Puji Qomariyah menambahkan bahwa aspek sosial dan budaya lokal juga menjadi perhatian penting agar inovasi produk tetap selaras dengan karakter masyarakat.
BACA JUGA: Masuk PTN Lewat Pintu Belakang: Lelah Belajar, Kalah oleh Kecurangan
“Dalam Aspek sosiologis dalam program ini mendorong sinergi antar kelompok tani dan pelaku usaha, sehingga inovasi dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
BACA JUGA: Kisruh Tanah Mbah Tupon, Bibit Rustamto Mendorong Pengaduan ke Polisi
Sementara Ketua Koperasi Tani Sari Makmur, Dias Eko Erry Akhmadi sebagai mitra lokal menyambut positif program ini. "Kami berharap pelatihan dan pendampingan ini menjadi langkah awal yang berkelanjutan agar petani garam kami tidak hanya bergantung pada garam mentah, tetapi bisa naik kelas melalui inovasi," ujarnya.
BACA JUGA: Pembunuhan Driver Online, Tersangka Memartil Kepala Korban Berulang
Melalui program ini, diharapkan para petani di Kaliori mampu meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat posisi ekonomi desa berbasis potensi lokal.
BACA JUGA: LBH Nusa Menempati Kantor Baru di Jalan Kabupaten Nomor 99 Sleman
Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan petani garam di daerah pesisir, sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) nomor 1 (Tanpa Kemiskinan) dan nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). (*/Red)
