Yogyapos.com (BANTUL) - Hari-hari belakangan ini muncul istilah super flu. Sebagian besar orang masih bingung dengan istilah yang tiba-tiba populer, bahkan ada yang mengaitkannya dengan Covid-19.
BACA JUGA: Penipuan Online 'Love Scamming' di Sleman Miliaran Rupiah Diungkap Satreskrim Yogya
Informasi berkembang, penyakit ini telah menyebar secara global dan mulai terdeteksi di Tanah Air. Meski disebut “super”, virus ini sejatinya masih berasal dari keluarga influenza yang telah lama dikenal, namun memiliki karakteristik varian baru yang perlu diwaspadai.
BACA JUGA: Camille Stephanie Sorel, Dari Belgia Belajar Gamelan dan Membatik di Yogya
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Farindira Vesti Rahmasari MSc PhD menjelaskan, istilah super flu merujuk pada varian baru virus influenza yang pertama kali teridentifikasi di Amerika Serikat. Varian ini dilaporkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025 dan sejak itu menyebar ke berbagai negara.
BACA JUGA: Pendaftaran Lomba Fashion Show Numofest Little Runway Telah Dibuka, Roadshow 9 Kota Besar
“Super flu ini sebenarnya merupakan varian lain dari virus influenza yang sudah lama kita kenal. Virus ini termasuk influenza tipe A dengan subtipe H3N2, tetapi yang membedakan adalah munculnya subklade baru, yakni K, yang sebelumnya belum banyak ditemukan,” ujar dr Farindira, Kamis (8/1/2026).
BACA JUGA: Kemkomdigi Tindaklanjuti Dugaan Penyalahgunaan Grok AI untuk Konten Asusila
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga telah melaporkan temuan kasus super flu. Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus terkonfirmasi, meski jumlah tersebut belum menunjukkan lonjakan signifikan seperti yang terjadi di sejumlah negara lain.
BACA JUGA: Kapolresta Sleman Panen 4 Ton Jagung di Glagaharjo
Menurut dr Farindira, kemunculan varian baru influenza merupakan proses alamiah akibat mutasi virus. Mutasi tersebut dapat terjadi melalui perubahan genetik kecil yang dikenal sebagai antigenic drift, maupun melalui pertukaran materi genetik antarvirus yang berasal dari manusia dan hewan.
BACA JUGA: Pangdam Mayjen Achiruddin Pimpin Upacara Penutupan Dikmaba, Ini Pesannya
“Selain faktor mutasi, kondisi pascapandemi Covid-19 juga berkontribusi terhadap meningkatnya penyebaran influenza. Selama pandemi, paparan virus influenza relatif menurun. Setelah pembatasan dicabut, virus ini kembali menyebar lebih luas dan cepat,” jelasnya.
BACa JUGA: Bank Sleman Launching e-Kalurahan dan Undi Tabungan Mutiara
Secara klinis, super flu menunjukkan gejala yang mirip dengan influenza pada umumnya, tetapi dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Pasien dapat mengalami demam tinggi, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, serta durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu biasa.
BACA JUGA: Pemkab Sleman Teken MoU Penerapan Manajeman Talenta dengan BKN, Ini Maksudnya
“Gejalanya hampir sama, tetapi cenderung lebih berat. Demam bisa tinggi, nyeri otot lebih terasa, tubuh sangat lemas, dan masa pemulihan bisa berlangsung lebih dari dua minggu. Risiko komplikasinya juga lebih besar,” katanya.
BACA JUGA: Dwi Manunggal Group Luncurkan 'Jusc dan Mexc', Tingkatkan Target Rp 15 M Setiap Bulan
Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, ginjal, dan gangguan paru-paru memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat akibat infeksi ini.
BACA JUGA: Pemerintah Perlu Siap Hadapi The Great Reset 2030
Sebagai langkah pencegahan, dr Farindira menekankan pentingnya vaksinasi influenza untuk menurunkan risiko sakit berat dan komplikasi. Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi kunci utama.
BACA JUGA: Banjir di Sumatera dalam Perspektif Hukum Lingkungan: Sebuah Catatan Akhir Tahun
Gunakan masker saat sakit, terapkan etika batuk dan bersin, rajin mencuci tangan, istirahat yang cukup, serta jaga daya tahan tubuh. “Kebiasaan ini penting untuk mencegah penularan dan melindungi kelompok rentan,” tandasnya. (*/PW)
