KENDATI kontestasi Pilbup Sleman 2020 masih setahun, namun bagi Dr Najib Ali Gisymar SH MH ini momen yang tepat untuk mulai menjaring aspirasi warga Sleman. Yogyapos.com mencoba mewawancarai figur cerdas ini pada awal pekan lalu, di Cengkir Resto, Dusun Sumberan, Jl Damai, Ngaglik, Sleman. Berikut hasilnya:
Apa yang menjadi pemantik Anda ikut meramaikan Pilbup Sleman 2020? Apakah ada dorongan dari komunitas ataupun masyarakat?
Saya melihat dinamika jelang Pilbup Sleman kok adem ayem. Tidak semeriah di Bantul dengan munculnya sejumlah figur. Pandangan saya, di Sleman baru Sri Muslimatun (Wabup Sleman sekarang) yang siap maju. Figur lain belum nampak. Melihat peluang dan potensi tersebut, saya bersama tim pun berdiskusi dan berusaha memetakan 17 kecamatan di Sleman. Dan, Bismillah mohon doanya saya siap maju pada Pilbup Sleman 2020.
Pak Najib, Anda kan seorang nonpartai. Anda lebih dikenal sebagai praktisi hukum dan doktor di bidang hukum bisnis yang mumpuni. Bagaimana cara Anda merebut simpati warga Sleman dan mendulang suara?
Iya, saya memang tidak punya partai. Tapi Insya Allah, dengan waktu yang masih relatif lama, saya dan tim mulai bergerak perlahan. Saya juga intens menjalin komunikasi dengan teman-teman di Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Saya juga sudah sowan ke sejumlah partai politik. Bekal ilmu hukum yang saya tempa di Universitas Islam Indonesia (UII) akan menjadi poin penting dalam menyusun sejumlah program fresh ke masyarakat Sleman. Edukasi dan pemahaman hukum kepada warga itu sangat penting. Untuk merebut simpati dan mendulang suara, biar itu nanti berproses. Masih terlampau dini membahas soal itu. Yang jelas, banyak ide dan gagasan untuk mengoptimalkan potensi di Sleman.
Sektor apa yang hendak Anda prioritaskan? Dan se-urgensi apa sektor tersebut?
Banyak sektor di Sleman yang berpotensi dan belum digarap secara optimal. Dengan tidak menganaktirikan sektor lain, saya melihat potensi wisata di Sleman sangat besar sekali. Ini aset jangka panjang yang harus dikelola secara cerdas dengan melibatkan semua stakeholder. Apalagi jika kita membedah turunan dari sektor wisata, sangat luas. Disitu ada jasa, akomodasi, transportasi, kuliner, seni dan budaya, entertainment, treatment service dan product knowledge. Kaliurang adalah spot yang akan saya jadikan pilot project tourism. Potensi Kaliurang luarbiasa. Saya menganalogikan kontur dan geografis Kaliurang hampir mirip dengan Genting Resort di Malaysia. Udara yang sejuk, dikelilingi perbukitan dan pepohonan yang rindang. Dalam gumam saya, bisa ini Kaliurang digarap layaknya Genting Resort.
Wisata tak lepas dari aspek sumber daya manusia (SDM). Apakah harus ada pembekalan dan pelatihan secara kontinyu, hingga para insan wisata ini siap terjun ke lapangan?
Pasti ada edukasi berjenjang dan workshop bagi para Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Karena mereka ini adalah motor penggerak wisata. Pemberdayaan harus dikedepankan. Imbasnya sangat multi impact. Gairah ekonomi warga sekitar pun tergerak. Penyerapan tenaga kerja juga berjalan.
Menurut perspektif Anda. Dari ke-17 kecamatan di Sleman apakah masih ada gap atau ketimpangan?
Jelas ada. Lantaran, tiap kecamatan juga mempunyai geografis yang berbeda, serta kultur sosial masyarakat yang berbeda pula. Depok, Ngaglik, Gamping dan Mlati ekonominya bergerak cepat. Prambanan dan Pakem punya destinasi wisata. Sementara Sleman bagian barat seperti Seyegan, Moyudan serta Minggir, masih belum tersentuh tangan kreatif. Hal ini yang akan menstimulus saya untuk menggenjot sektor kreatif di setiap kecamatan.
Di lini UMKM dan BUMDes apakah juga akan Anda optimalkan?
Lini ini adalah pintu pertama ekonomi kreatif bergerak. Desa yang mempunyai UMKM unggulan wajib kita dukung penuh dan didampingi. Mulai dari proses produksi, pengolahan hingga pemasaran. Sejauh ini warga masih banyak yang terkendala di pemasaran. Untuk BUMDes menjadi sangat penting lantaran ini adalah unit usaha milik desa yang legal. Dari warga untuk warga. Namun banyak juga warga yang masih awam dengan BUMDes, lantaran minimnya informasi dan pemahaman.
Untuk sektor hukum, pendidikan dan kesehatan ada tanggapan Pak?
Untuk hukum, Sleman masih menjadi penyumbang angka kriminalitas narkoba tertinggi se-DIY. Ini menjadi PR kita bersama untuk menekannya. Sedangkan untuk pendidikan, Sleman adalah gudangnya kampus. Namun ironi, masih banyak ditemukan anak-anak putus sekolah. Nanti akan kita kaji mendalam, faktor apa yang menyebabkan hal tersebut. Sementara soal kesehatan saya lebih menyoroti soal pencegahan kanker serviks dan kanker payudara yang menyerang kaum wanita. Ini bisa dicegah dengan pola makan dan istirahat yang teratur dan cukup. Serta edukasi dan melakukan rutin check up.
Hari beranjak sore. Yogyapos.com pun pamit kepada lawyer yang sempat bekerja bersama mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar dalam menangani advokasi di Timur Leste. Berikut biodata dari sosok supel dan ekspresif ini. (Fadholy)
Nama : Dr Najib Ali Gisymar SH MHum
TTL : Surakarta, 15 Oktober 1969
Alamat : Jl.Tohpati Taman Siswa Yogyakarta
Istri : Nadiah Said Nahdi SH
Anak : -Putri Arifah Najib SE –Hanan Fakhiran Najib
-Abdilah Ali Najib -Muhammad Wildan Najib
Pendidikan : -SD YPID Surakarta -SMP YPID Surakarta
-SMA Muhammadiyah 1 Surakarta -FH UII (S1, S2, S3)
Organisasi : -Ketua Perkumpulan Alumni Muhammadiyah Siji (2018-2022)
-Ketua Dewan Standar Advokat DPP Ikadin (2016-2021)
-Ketua Litbang DPP Himpunan Kurator dan Pengurus Indonesia (2017-2019)
-Wakil Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Auditor Hukum Indonesia (ASAHI, 2017-2019)
-Ketua Dewan Pendidikan Perkumpulan Profesi Likuidator Indonesia (PPLI, 2017-Sekarang)
