Dunadi, Maestro Pematung Pengagum Bung Karno

share on:
Dunadi dan Patung Sudirman berkuda || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (BANTUL) - Mematung Bung Karno itu tidak boleh sembarangan. Kalau hanya mencari ciri khasnya, cukup dengan peci, pakaian yang seperti itu. Orang melihat sosok Soekarno, seperti di foto-foto yang banyak beredar itulah. Namun kalau ingin membuat patung Soekarno dengan serius, harus benar-benar paham dari segi anatomi, proporsinya, dan penggambaran karakter yang tepat.  

Demikian disampaikan Maestro Pematung Dunadi, mengawali perbincangan dengan yogyapos.com beberapa waktu lalu di bengkel kediamannya. Dunadi menjelaskan, membuat patung orang itu sulit. Walaupun setiap orang mempunyai organ sama, tapi bentuknya berbeda.

“Semua itu anugerah. Tuhan menciptakan yang sama tapi tak serupa. Bahkan meski kembar identik pun tetap ada pembeda,” tegasnya di  Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kapanewonan Sewon, Bantul. 

Danadi

Secara pribadi ia memang pengagum Bung Karno. Patung Bung Karno menunggang kuda di halaman Kementerian Pertahanan (Kemhan) adalah patung karyanya ke-15. Sebelumnya, patung ke-14 adalah patung Bung Karno membaca, pesanan Pemkot Surakarta. “Membuat patung Bung Karno itu harus mengingat patung itu mencerminkan saat beliau berusia berapa. Bagaimana kondisi emosi yang hendak dicerminkan dari patung itu, Apakah tengah sedih atau senang. Yang pasti postur Bung Karno itu sangat proporsional,” terangnya lagi.

Dalam dunia seni patung Indonesia, Dunadi bukan sosok baru. Berbagai karya telah dilahirkan seniman kelahiran Bantul, 3 Agustus 1960 dan pemilik Studio Satiaji Sculpture & Art Work Yogyakarta ini. Dalam rekam jejaknya, lulusan Seni Rupa, Program Studi Seni Patung, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta tahun 1988 karya-karyanya baik berupa  diorama, monumen, relief, patung besar hingga kecil tersebar di beberapa kota di Indonesia, beberapa diantaranya bahkan dikoleksi kolektor dari Eropa dan beberapa negara Asia.

Banyak pujian dilontarkan atas karya-karya Dunadi. Dia dinilai sebagai perupa dengan ciri khas kemiripan karakter tokoh yang sangat presisi dan terukur detail ketepatannya. Tak heran banyak karya-karya monumennya tersebar di banyak kota di Indonesia juga manca negara.

Dalam kisahnya, Dunadi pertama kali membuat patung Bung Karno ketika masih duduk dibangku SMA di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI), Saat itu, dia sedang membantu proyek gurunya yang bernama Pak Kabul. Selepas itu, seiring dengan perjalanan waktu, pesanan terus bergulir. Selanjutnya banyak sekali orang yang memesan patung kepada Dunadi. “Ada Bung Karno, Panglima Sudirman, Oerip Soemoharjo, Diponegoro, Soeharto dan lain-lain” ujarnya.

Dikatakannya, biasanya orang pesan patung hanya mengirimkan foto saja. Namun sebelum membuat patung  terlebih dahulu  dipertimbangkan apa latar belakang pembuatan foto itu. Apakah  ada sejarah serta apa yang menjadi latar belakang di foto itu. Kondisi atau momentum seperti apa yang hendak diperingati. Dunadi mengatakan, untuk tokoh yang penting biasanya memang berkonsultasi dulu dengan pihak keluarga.

“Kalau untuk sosok Pak Karno karena sudah sering membuat, maka tidak perlu konsultasi lagi dengan keluarga,” tandasnya. 

Keterlibatan Dunadi dengan seni rupa sebenarnya dimulai sejak kecil. Saat SD dia pernah menjuarai lomba melukis se-DIY. Namun ketika duduk di bangku SMP, seorang guru seni rupanya melihat bakat Dunadi sebagai pematung. Oleh karena itu, gurunya menyarankan agar Dunadi belajar membuat patung.

“Kata gurunya, pelukis sudah banyak, pematung relatif langka,” ujarnya

Dunadi melihat Proses pembuatan Patung || YP-Yuliantoro

Akhirnya selepas lulus SMP, Dunadi melanjutkan ke SSRI Dunadi melanjutkan ke ISI. Di perguruan tinggi seni ini ia dibawah bimbingan dosen sekaligus master patung Indonesia, Edi Sunarso. Karena itu, bakatnya terus diasah hingga menjadi profesional. 

“Untuk menjadi pematung itu basic belajarnya realis. Sesudah menguasai baru dikembangkan dengan ciri khas masing-masing. Saya senang menciptakan sesuatu jarang ada,” papar Dunadi yang saat ini sedang mengerjakan patung Bung Karno setinggi 12 meter untuk dipasang di Pantai Indah Kapuk (PIK). 

Sempat menjadi dosen di UNS namun akhirnya memutuskan fokus di patung. Jika dibandingkan dengan seniman di bidang seni rupa lain,  pelukis misalnya, jumlah pematung itu sangat sedikit karena itu Dunadi agak khawatir dengan regenerasi pematung ini. Kolektor patung juga jauh lebih sedikit bila dibanding pecinta lukisan.

“Di era komputerisasi dan digitalisasi ini sebenarnya teknologi pembuatan patung menjadi sangat mudah. Namun hasilnya mentah, sense of artnya hampir tidak ada,” Dunadi mengakhiri perbincangan. (Yuliantoro)

 

 

 

 

 


share on: