Edu Sianturi Pencetak 'Palapa' Jawara, Dapat 'Kue Jawara' Lomba pun Ditakeover Rp 6 Juta

share on:
Edu menenteng branjangan 'kue jawara' sebelum ditakeover || YP-Ismet NM Haris

Yogyapos.com (BATUL) - Lama-lama kiblat branjangan jawara akan beralih ke Desa Potorono, Bantul. Hal ini bukan suatu yang mustahil, sejak Eduaward Sianturi (48) bermukim di sana.

Betapa tidak? Tangan dingin pemilik kandang ring EF-Jogja ini sudah terbukti piawai memoles branjangan-branjangan jawara. Modal awal sekitar 5 tahun lalu hanyalah sepasang branjangan yang dibelinya Rp 10 juta dari Purwokerto.

Berkat ketekunan yang didasari hobi, sarjana teknik ini kemudian memoles sedemikian rupa hingga saat digantangkan pertama kali di event lomba ternyata koncer alias meraih juara. “Saya beli ketika usianya masih 6 bulan. Saya kasih nama Palapa,” tukas Edu, sapaan akrabnya, di rumahnya Dusun Salakan RT 10 Gang Sadewa, Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Di rumah itu pula ia memulai breeding dengan Ring EF-Jogja yang kini sudah lekat bagi para hobiis burung berkicau tanah air.

Edu mengatakan, entah berapa banyak anakan dari trah Palapa yang sudah beralih ke tangan orang lain. Sejumlah maniak branjangan kini rela inden untuk mendapatkan trah Palapa. Risikonya, stok gacoan jawara yang dimilikinya pun jadi terbatas.

“Lah gimana lagi. Setiap kali saya mau mencetak jawara baru selalu ada saja kawan datang dari luar kota. Rela menginap di sini berhari-hari untuk dapat meminang trah Palapa,” tuturnya sembari menepuk jidat, lalu ngakak.

Edu mengaku, dulu trah Palapa kondisi trotol cuma dibandrol Rp 15 juta. Tapi sekarang sudah naik menjadi Rp 50 juta. Itu pun mereka yang berminat harus inden.

Apa rahasia dia sanggup mencetak branjangan jawara, termasuk setingkat Palapa yang punya kombinasi lengkap speed, tembakan maupun roll dan kicau kristal? Edu bogkar rahasia, bahwa semua itu sangat tergantung dari kepekaan. Soal kepekaan ‘menggauli’ gacoan inilah yang tidak bisa ditiru. Dan di situlah agaknya keunggulan dia sebagai breeder maupun pemain lapangan (gantang).

Sedagkan perawatan dilakukan seperti umumnya merawat burung lomba. Dari pola jemur hingga asupan extra fooding, disesuaikan dengan karakter burung. “Satu hal, branjagan di habitat asalnya merupakan burung yang suka bergelimang sengatan matahari. Itu yang harus diperhatikan,” selanya.

Di sisi lain untuk mencetak mental fighter branjangan jawara adalah pada ketersediaan pemasteran dengan menghadirkan burung-burung master. Pemasteran dilakukan sejak usia dini, diantaranya master ciblek sawah, cigun, kolibri, sogok ontong, lovebird, rambatan hingga kenari durasi pajang dan melengking.

Tingkat kepercayaan hobiis burung tanah air terhadap Edu sebagai pencetak branjangan jawara kini tak terelakkan. Hingga baru-baru ini terjadi kisah nyata dan menakjubkan pasca mejuarai lomba di Jatim, Edu mendapat tambahan dorrprize seekor branjangan trotol.

Feeling dia menyatakan, betina brajangan sebagai ‘kue jawara’ lomba itu mencoba dipoles untuk indukan. Ia yakin kelak bakal sanggup menghasilkan aakan yang berkualitas. Namun niat ini harus pupus, karena terdengar oleh telinga seorang pemain kawakan yang masih dinas di kepolisian dan langsung datang melakukan takeover Rp 6 juta.

“Kalau sudah begini saya ndak bisa mengelak,” tutur Edu, tersenyum. Dan senyum inilah yang akan mengembang lagi jika menjuarai Piala Raja. Pasalnya, pada 28 ovember 2021 nanti, Edu siap menurunkan gacoan Palapa di event supremasi burung bergengsi yang diinisiasi PBI di Candi Prambanan.

Maka yogyapos.com yang kebetulan menyaksikan proses takeover branjangan ‘kue jawara’ itu pun ikut berdecak kagum. Selamat, semoga sanggup mengulang sukses Piala Raja, kawan. (Met)

 


share on: