SECARA naluriah perempuan mempunyai tanggung jawab moral agama untuk mengasuh dan mendidik anak. Wiraswasta adalah pilihan paling rasional, meski tak sedikit yang menekuni bidang lain. Dan dunia fashion membuka banyak peluang yang bisa digarap secara maksimal.
Dunia fashion itulah yang kini digeluti Evi Feni Ekasanti. Sosok muda penuh talenta ini lahir pada 1982 dari pasangan suami istri bersahaja dan taak agama. Dididik mandiri sejak kecil. Kemauan keras, ketekunan, dan kerelaan belajar menjadi kunci kesuksesannya.
Evinda sapaan akrabnya, menjalani aktivitas sepenuh hati, total, dan berkompeten. Itulah kenapa sampai saat ini belum ada niat membuka cabang di daerah lain. "Karena usaha ini butuh totalitas saya sendiri. Belum bisa langsung dipercayakan kepada orang lain,” katanya yogyapos.com usai acara Iwapi Klaten, baru-baru ini.
Buah dari usaha penuh ketekunan itu menjadikan karya alumnus D3 Teknik Busana UNY ini diminati berbagai kalangan, tandas alumni D3 Teknik Busana UNY ini. "Alhamdulillah ada saja pesanan datang dari Yogyakarta, Solo, Klaten, dan Semarang. Mereka antara lain istri pejabat, pegawai bank, instansi, sekolah sampai perorangan. Saya pernah membuat pesanan busana muslim Bu Bupati Klaten Hj Sri Mulyani," katanya.

Salah satu karya Evinda yang kini sedang digandrungi masyarakat | Foto Udi
Dulu, papar dia, pihaknya pernah mau dirangkul oleh Deperindag, tetapi konsekuensinya harus menjadi pengajar. Maka terpaksa tawaran tersebut ditolak karena khawatir pekerjaannya bisa terbengkelai.
Kecintaan Evinda pada fashion bisa dilihat dari beragam model dan motif yang sebagian koleksinya dipajang di Evinda Fashion yang beralamat di Tirtomulyo RT 1 RW 12 Gang 4 No 85 Gergunung Klaten Utara Klaten, Jawa Tengah.
Kreativitas dan kebolehannya bisa dilihat dari keseriusannya dalam mendesain beragam pesanan. "Saya memadukan motif klasik, misal lurik, batik dikombinasikan dengan brokat dan tile yang memberinya kesan mewah. Beberapa desain menggunakan bahan kebaya brokat dan tile serta kombinasi kain motif klasik," jelasnya.
Perempuan yang pernah menjadi desainer PT Mondrian ini mengakui hanya menggunakan media sosial untuk memasarkan produk fashionnya. "Pemasaran untuk saat ini baru sesuai pesanan mas, karena dari pesanan saja saya sudah kewalahan," tuturnya sambil mengakui pernah kesulitan menemukan SDM yang memenuhi standar. Baginya, detail kebaya dan baju pengantin yang menjadi andalannya butuh ketelatenan, karena dari situ akan tercipta sesuatu yang lebih indah.
Diungkapkannya bahwa setelah memutuskan keluar dari Mondrian (2007), sejak itu Evinda Fashion digerakkan dengan modal 1 mesin jahit, 1 mesin obras dibantu 1 karyawan. Setelah berjalan 3 tahun usahanya berkembang. Karyawannya bertambah menjadi 10 orang, hingga sekarang menjadi 15 orang. Sampai saat ini sudah lebih dari 500 pelanggan yang setia pesan di Evinda Fashion yang omzet setiap bulannya berkisar Rp 20 juta - 25 juta.
Perempuan cantik yang berobsesi membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk para perempuan dan ibu rumah tangga ini sedang berusaha mengembangkan make up art (MUA). Saat ditanya salah satu kunci kesuksesannya, Evinda yakin berkata, “Layani konsumen dengan hati, maka hasilnya juga pasti sampai ke hati.” (Udi)
