ADA suasana yang berbeda di Kampung Miliran, Kalurahan Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Yogyakarta. Puluhan warga segala usia keliling kampung sambil membawa bunga tabur dan kentongan yang ditabuh secara berirama. Mereka berangkat dari Pos Ronda RT 13 dan berjalan menuju Tempat Pemakaman Umum kampung setempat. Kegiatan itu merupakan rangkaian dari Festival Nyekar Bareng yang tahun ini merupakan yang ke-5 kalinya diselenggarakan.
Ketua RT 13 Hartoyo menjelaskan, Festival Nyekar Bareng merupakan tradisi tahunan guna merawat lingkungan kampung. Awalnya digelar setiap tahun, tetapi selama dua tahun absen karena pandemi.
“Ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap akhir tahun. Selain sebagai ajang silaturahmi dan gotong royong, kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai sarana perenungan para warga mengenai asal usul sejarahnya,” ujar Hartoyo kepada wartawan disela-sela kegiatan.
Warga Kampung Miliran melakukan pembersihan makam dan mengirim doa untuk arwah para leluhur || YP-Ist
Hartoyo menyampaikan, kegiatan membersihkan makam dan Nyekar atau ziarah bersama ke makam kampung menjadi ajakan bagi seluruh warga Miliran untuk memahami kembali posisi mereka sebagai warga se-Kampung, yang selama puluhan tahun terkotak-kotak dalam administrasi RT dan RW. Perjalanan menuju makam akan diawali dengan jalan kaki keliling kampung dengan membunyikan kentongan, menyuarakan undangan untuk seluruh warga untuk bergabung.
Kentongan dengan irama titir dipilih sebagai penanda undangan bagi seluruh warga untuk keluar rumah guna membangun dan mengembalikan kerukunan dan kebersamaan warga kampung. Bunyi kentongan ini dipilih warga Miliran sebagai upaya memposisikan fungsi sosial komunikasi antar warga serta memperkuat sistem sosial yang semula bercorak patembayan menjadi kembali memuat semangat paguyuban.
“Komunikasi dalam ritual ini tidak terbatas untuk membangun komunitas, tetapi juga untuk melestarikan nilai dan norma yang sudah ada sejak lama. Sementara itu, reresik dan nyekar bersama di makam kampung tidak hanya diharapkan dapat memperkuat relasi sosial antar warga, tetapi juga menghidupkan kembali komunikasi antara warga dengan anggota keluarga yang telah pergi mendahului, serta dengan leluhur kampung,” tandas Hartoyo.
Ditambahkan Hartoyo, ritual akhir tahun ini juga menjadi salah satu oasis kebersamaan warga kampung, yang kian hari makin sulit ditemukan di ruang publik kota Yogyakarta. Oleh karena itu, melalui Festival Nyekar Bareng ini dimaksudkan juga untuk mempertahankan fungsi Kampung yang selama ini telahg terbukti mampu menghindarkan warga dari keruwetan, kemacetan, kebisingan, kekotoran, hingga kriminalitas di jalan-jalan kota.
Jadi, pada saat pejabat kota meminta warga tetap di rumah dan mengalah kepada wisatawan yang menyesaki kota; warga Miliran justru mengajak semua tanpa kecuali untuk keluar rumah reresik dan nyekar bersama. (Sulistyawan Ds)
