Yogyapos.com (YOGYA) - Spirit baru begitu kental pada perhelataan FKY 2019 yang tahun ini memasuki usia ke-30 tahun. Acara ini akan dihelat pada tanggal 4-21 Juli dan berpusat di desa wisata Panggungharjo Sewon Bantul.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya akronim FKY adalah Festival Kesenian Yogyakarta. Untuk tahun ini berubah menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta. Sedangkan tema besar yang diusung adalah: ‘Mulanira’. Dalam filosofi bahasa Jawa bisa diartikan muasal, wiwitan, kelahiran, awalan.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) DIY, Aris Eko Nugroho dalam jumpa pers di Pendopo Disbud DIY, Rabu (26/6) sore mengatakan, perubahan nama dari Festival Kesenian Yogyakarta menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta bukan sesuatu yang tiba-tiba. Pihak Disbud DIY sudah menggodog dan mengkaji secara matang. Perubahan nama dari kesenian menjadi kebudayaan sebetulnya akan dipakai pada FKY 2018 lalu. Namun lantaran ada sejumlah aspek yang belum siap, perubahan tersebut baru bisa terealisasi tahun ini.
“Dan ini bisa dikatakan sebagai langkah wiwitan atau awalan sebuah spirit baru. Sejalan dengan benang merah tema besar yang diusung: Mulanira. Yang bisa ditafsirkan, mengembalikan Yogya yang kosmopolitan sebagai ruang yang mewadahi keragaman dan interaksi berbagai budaya dan peradaban,” jelas Kadisbud DIY, didampingi Direktur Kreatif FKY 2019 Gintani Swastika, Ketua Umum FKY 2019 Paksi Raras dan Lurah Desa Panggungharjo, Wahyudi.
Paksi Raras melanjutkan, latar belakang acara ini adalah membangun spirit kreatifitas kebudayaan dalam konteks yang luas untuk mengakomodir kelompok masyarakat, baik secara individu ataupun komunal. Paksi Raras mengajak masyarakat untuk proaktif dan produktif dalam menelurkan ide segar dan berbagai gagasan baru yang masih relevan dengan budaya kita. Budaya dan berbagai gagasan baru harus sinergis. Tidak boleh tumpang tindih. “Bisa diambil contoh, kolaborasi berbasis konten kultural kita balut dengan sisi kekinian teknologi digital ataupun seni kontemporer. Terkait pemilihan desa Panggungharjo sebagai titik pusat FKY 2019, karena desa ini secara infrastruktur sudah sangat siap dan mapan. Dari sisi venue juga mampu menampung pengunjung dalam jumlah banyak, serta mempunyai titik keunikan yang bisa dieksplorasi dalam konten kreatif. Pokoknya banyak kejutan di FKY 2019 kali ini,” jelas Paksi Raras.
Sementara itu Gintani Swastika selaku Direktur Kreatif FKY 2019 menambahkan, banyak program/agenda yang sayang untuk dilewatkan. Mulai dari pawai pembukaan pada 4 Juli yang dimulai dari dua titik yang berbeda. Titik pertama kontingan akan dilepas dari Kepatihan. Titik kedua, kontingen akan dilepas dari Pakualaman. “Kedua kelompok kontingen pawai lalu bertemu di satu titik, di kawasan nol kilometer. Tepatnya di depan Museum Sonobudoyo (eks KONI). Pawai ini akan diikuti 33 kontingen dari sejumlah sanggar dan komunitas budaya,” ujarnya.
Masih menurut Gintani, lalu pada tanggal 8-16 Juli ada tiga kegiatan yang dinamai: Wirama, Wiraga dan Wirasa. Konten dari Wirama adalah pameran seni rupa yang dilaksanakan di Museum Sonobudoyo. Sementara Wiraga merupakan pameran instalasi public yang berlokasi Alun-alun Selatan. Sedangkan Wirasa adalah lokakarya yang memadukan 3 seniman musik dari genre yang berbeda. Komposisi music Kinanti Sandung akan dirubah komposisinya sesuai dengan genre music ketiga seniman.
“Sementara pada tanggal 17 Juli akan ada pertunjukan teater di Pendopo Art Space yang dibawakan Teater Gajah Mada. Ada juga panggung kontemporer pada tanggal 19 Juli yang memadukan unsur elektronik-gamelan-visual. Lalu pada 13 Juli ada pesta rakyat kampung Terban. Sedangkan tanggal 15 Juli ada program Panggih yang bakal dihelat di Museum Pangeran Diponegoro,” ungkap Gintani.
Terkait pemilihan Panggungharjo sebagai pusat acara FKY 2019, Lurah Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro mengaku sangat bangga dan mengapresiasi penunjukan desa Panggungharjo sebagai ‘tuan rumah’ FKY 2019.
“Saya mewakili warga desa Panggungharjo sangat bangga dengan penunjukan oleh panitia. Kami akan support total acara ini. Warga dan komunitas budaya juga akan kami libatkan. Mari sama-sama kita bersinergi untuk nguri-uri kebudayaan kita yang beragam. Ini juga upaya kita melestarikan budaya local untuk kita wariskan kepada anak-cucu kita,” pungkas Wahyudi. (Dol)
