Yogyapos.com (BANTUL) - Sejak dini anak-anak harus dikenalkan sejarah agar mereka tak kehilangan akar. Banyak di lingkungan terdekat yang kadang memiliki beragam jejak peninggalan masa lalu. Belajar sejarah adalah kebutuhan, bukan karena gagal move on dari masa lalu.
Demikian disampaikan arkeolog lulusan UGM yang juga epigraf Goenawan A Sambodo dalam Sarasehan "Menyibak Kali Progo" dalam rangkaian Memetri Kali Progo di Kedai Nyawiji Bendo Trimurti Srandakan Bantul, Sabtu (24/6/2023) pagi. Bertindak sebagai moderator Wahjudi Djaja (Ketua Keluarga Alumni Sejarah UGM).
Lebih jauh diungkapkan, Progo tak hanya sungai tetapi juga lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu masyarakat di sisi timur Progo (Bantul) untuk bekerja sama dengan sisi barat Progo (Kulonprogo). “Sekarang memang ada perbedaan dengan apa yang ada di masa lalu. Dahulu kanan kiri sungai sebagai kesatuan yang tak bisa dipisahkan,” katanya.
Bicara Kali Progo, lanjutnya, juga harus membicarakan hulu hilir. Hulu Kali Progo ada di Sindoro yakni Umbul Jumprit yang menjadi peradaban masa lalu. “Sekitar tahun 2008-2009 ditemukan situs Liyangan yang sangat lengkap, berisi kompleks peribadatan, pemukiman, dan pertanian seperti desa yang hilang karena letusan Sindoro,” urainya.
Sedangkan di sisi tengah ada Borobudur, Mendut dan Pawon yang ada sejak abad VIII. Ada juga Gunung Wukir yang ditemukan bukti berupa prasati yang jadi titik awal peradaban Hindu Budha dimana di tempat lain berupa candi. Di Nanggulan ditemukan prasasti Salimar yang memuat batas wilayah. “Tanah perdikan Salimar (Sleman) membentang sekitar Code (UIN) sampai Nanggulan yang hidup pasa abad VIII-IX. Ada juga prasasti berangka tahun 822 berupa daerah Huwung dan para pejabatnya,” jelasnya.
Bendung Sapon yang diduga pernah menjadi dermaga pada masa lalu || YP-Wahjudi Djaja
Bendo Trimurti Srandakan Bantul, imbuhnya, merupakan bagian akhir perjalanan Kali Progo yang kininsangat tinggi sedimentasinya. “Kali Progo ini dulu merupakan sarana transportasi sampai masa kolonial. Dulu sempat ditemukan kapal atau perahu yang digunakan penduduk untuk mengirim barang dagangan,” ungkapnya.
Di sepanjang lingkungan Kali Progo, katanya, dulu juga pernah dijadikan asrama atau padepokan para brahmana mirip univeritas yang multidisiplin yang mengajarkan teknologi, filsafat dll, yang kemudian terbagi lagi menjadi 377 bidang ilmu.
“Wajar jika perahu yang ditemukan telah menggunakan teknologi maju. Di relief Candi Borobudur ada bentuk kapal untuk samudera maupun sungai,” paparnya.
Tujuh sungai di Medang (DIY Jateng bagian selatan) sering disebut sapta sindawa. Pada era HB I hal itu merupakan manifestaai dari sisi mikrokosmis dunia, yakni tujuh samudera tujuh benua. Maka letak Yogyakarta berada di tengah untuk mengembalikan pusat ke dalam bentuk yang nyata.
Terkait jejak arkeologis di Bendo, ada bekas tambatan dermaga di area yang kini di sekitar Bendungan Sapon yang menjadi bukti peran sungai pada masa lalu. “Dulu dikenal istilah nambangan atau sabrangan yang kini mungkin sebagai nama desa. Penyeberangan menggunakan model rakit sehingga tak aneh ditemukan pilar atau rantai,” tandasnya.
Pohon bendo menjadi sumber air karena mempunyai daya serap yang bagus. Baik jika kemudian diikuti dengan penanaman kembali pohon bendo untuk membantu bumi menabung air. “Pohon bendo biasanya mempunyai sendang yang bisa menjaga vegetasi di sekitarnya. Budaya sangat gampang berubah tetapi ketika kita ingat akan peran akar, akan menjadikan kita kukuh. Itulah kenapa nenek moyang kita terhubung langsung dengan lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Dukuh Bendo, Partono, dalam sambutannya menyampaikan Memetri Kali Progo yang digelar ini adalah upaya untuk mengangkat potensi wisata. Memiliki beragam potensi yang bisa diangkat. Selain sebagai sentra mie lethek, Bendo juga memiliki makam tua, destinasi Omah Bubrah dan UMKM.
“Warga kami juga memiliki beragam jenis pusaka yang kurang terawat. Untuk itu kita perlu kolaborasi dengan Komunitas Kandang Kebo dalam rangkaian jamasan pusaka,” tandasnya.
Hadir dalam sarasehan Ketua Komunitas Kandang Kebo Dr Maria Tri Widayati dan anggota, mahasiswa dan warga. Terkait upaya mengangkat potensi Bendo, Maria beserta Komunitas Kandang Kebo menyatakan kesiapannya.
“Rencana Pak Dukuh untuk menggelar jamasan pusaka pada bulan Sura nanti, sangat penting untuk mengedukasi warga. Harapannya adalah agar warga memiliki pemahaman yang benar tentang benda dan jejak peninggalan,” tuturnya. (Iud)
