Yogyapos.com (YOGYA) - Indonesia adalah negara yang memiliki keberagaman terbesar di dunia. Bangsa yang multiras, multisuku, multietnis, multikultur, multiagama dan multibahasa. Kekayaan warisan nenek moyang ini jika tidak dikelola secara benar akan berdampak pada multikonflik.
Dinisiasi Gerakan Persatuan Indonesia (GPI) yang diketuai Widihasto, sebanyak 13 tokoh lintas adat/daerah hadir urun rembug dalam acara Dialog Kebangsaan di Gedung Punokawan, Jl KH Ahmad Dahlan No.73 Yogyakarta, Minggu (8/9) sore.
Sekitar 100 peserta juga begitu antusias mengikuti dialog yang dibuka penampilan akustik Suara Minoritas, seniman ISI Memet Chairul dan tarian dayak Balian Dadas.
Widihasto mengungkapkan, menjadi komitmen kita bersama untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Ini semata bukan pekerjaan TNI atau Polri. Ini pekerjaan yang harus kita emban bersama, dengan melibatkan stakeholder terkait dan para tokoh lintas adat. Beda itu harmoni. Jangan sampai menjadi disharmoni,” ujar Widihasto yang sore itu juga berperan sebagai moderator.
GKR Mangkubumi yang didapuk sebagai ‘tuan rumah’ menitikberatkan soal merawat toleransi antar pemeluk agama. Baginya, merawat itu lebih sukar dibanding membangun.
“Merawat itu butuh proses dan pendekatan persuasif. Dan tentunya butuh ekstra kerja keras. Pemahamam kepada masyarakat soal persaudaraan, menjunjung prinsip demokrasi, sikap adil, dan patuh pada aturan hukum, harus terus diasah dan dikembangkan. Forum dialog ini bisa menjadi pijakan awal bagi kita untuk membangun Nusantara lebih baik dan solid,” jelas GKR Mangkubumi.
Adapun ketiga belas tokoh yang hadir memberi gagasan adalah GKR Mangkubumi (Kraton Ngayogkarta Hadiningrat), Nila Riwut (Dayak/aktivis social), Elga Sarapung (Sulut/LSM Dian Interfidei), Nelles Semberi (Manokwari/ aktivis Rejomulia), Dikson Situmorang (Batak/mantan KNPI DIY), Jacky Latuperisa (Ambon/Dewan Penasehat Pattimura Muda), Suyanto Siregar SH (Batak/Ketua Peradi Wonosari), Agung Gde Iswara (Bali/LSM), Ki Demang Wangsyafudin (Sunda/penggiat FPUB), Heri Maulizal (Aceh/mahasiswa S2 UGM), Frans Djalong (NTT/Dosen Sosiologi UGM), Abdur Rozaki (Madura/Dosen UIN) dan Jumaldi Alfi (Minang/Sakato Art). (Dol)
