Gunungkidul Paling Ekstrem Terdampak Kekeringan

share on:
Bagus Suryanto dan Reni Kraningtyas saat memberikan keterangan kepada awak media || YP/Fadholy

Yogyapos.com (BANTUL) - Musim kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia, berdampak kekeringan. Dari data di BMKG, sekitar 65 persen wilayah di Indonesia mengalami curah hujan rendah. Imbasnya, 55 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Nusa Tengggara mengalami kekeringan.

Kepala Klimatologi BMKG DIY, Reni Kraningtyas dalam press conference, Rabu (21/8), menjelaskan jika di bulan Agustus ini akan terjadi puncak musim kemarau di wilayah DIY. Pihak BMKG sudah memprediksi, musim kemarau pada tahun 2019 terjadi pada Mei-Oktober. Akan lebih kering dari tahun 2018. “Sejumlah wilayah di DIY pada Agustus ini sudah mengalami kekeringan meteorologis level ekstrim. Kami mencatat ada daerah yang pada waktu 60 hari tidak mengalami hujan. Bahkan di Bantul, durasi waktu tanpa hujan sampai 130 hari. Dampak hebat pun dirasakan masyarakat. Seperti kekeringan pertanian, kekurangan air bersih, hingga ancaman gagal panen,” ujar Reni Kraningtyas didampingi Koordinator ACT DIY, Bagus Suryanto.

Merespon situasi tersebut, BMKG DIY bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY berusaha memberi update informasi berkesinambungan, serta bergerak sosial ke sejumlah daerah yang mengalami kekeringan.

Menurut Bagus Suryanto, daerah Gunungkidul adalah wilayah yang terdampak kekeringan paling ekstrim. Ada sekitar 134 ribu jiwa di 14 kecamatan yang terlanda kekeringan. Bahkan ada beberapa daerah yang sudah kesulitan mendapatkan air bersih. “Gunungkidul dengan geografis yang didominasi bukit kapur (karst), membuat air tertahan di dalam tanah. Bencana kekeringan itu sifatnya laten. Berdampak pada kematian. Kami menyebut bencana kekeringan itu, slow on set. Bukan rapid on set. Pelan namun membahayakan keselematan jiwa manusia. Dan ini menjadi tujuan bagi ACT DIY dan BMKG untuk berkolaborasi memecahkan masalah tersebut,” papar Bagus.

Pihak ACT DIY mengklasifikasikan kebutuhan akan air bersih adalah kebutuhan yang paling mendesak sekarang ini. Untuk makan-minum, aktivitas MCK (mandi cuci kakus), pertanian dan peternakan. Dengan menggandeng sejumlah instansi seperti BMKG, Pemkab, BPBD, dan mitra donatur, ACT sudah bergerak menyalurkan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah.

Bagus menambahkan, untuk di Gunungkidul pihaknya sudah menggulirkan program Humanity Water Tank. Distribusi ini dilakukan secara massif. Tiap hari memasok sekitar 6 tangki (30ribu liter air). “Bencana kekeringan ini menjadi concern utama ACT Nasional dan DIY. Untuk skala nasional kami telah menyalurkan 2,1 juta liter air bersih. Sedangkan program jangka panjang untuk di Gunungkidul, kami akan membangun sumur wakaf di 18 titik. Sedangkan program Humanity Water Tank di Kota Yogyakarta akan diresmikan oleh Walikota Yogya Drs Haryadi Suyuti, pada Kamis 22 Agustus besok,” tandas Bagus Suryanto.  (Dol)

 

 


share on: