Haul Abah Guru Sekumpul: Cermin Cinta dan Kesadaran Kolektif Umat

share on:
Haul ke-21 wafatnya Abah Guru Sekumpul

HAUL ke-21 wafatnya Abah Guru Sekumpul (KH Zaini bin Abdul Ghoni) kembali mencatatkan sejarah. Sekitar 4,9 juta jiwa, baik yang hadir langsung di Martapura maupun yang terhubung melalui jaringan digital, bersatu dalam satu majelis agung.

BACA JUGA: Otopsi Sosial 2025 Menuju Indonesia Versi Baru

Mereka datang bukan karena undangan formal, bukan pula karena iming-iming duniawi, melainkan karena satu hal: cinta kepada ulama dan kerinduan kepada kekasih Allah.

Fenomena ini bukan sekadar peringatan tahunan. Ia telah menjelma menjadi peristiwa spiritual terbesar di Nusantara, bahkan mungkin dunia Islam.

BACA JUGA: Haul Abah Guru Sekumpul: Cermin Cinta dan Kesadaran Kolektif Umat

Di tengah zaman yang penuh hiruk-pikuk dan disorientasi nilai, haul ini menjadi oase ketenangan. Ia menjadi ruang di mana jiwa-jiwa yang haus akan keteladanan berkumpul, berdoa, dan merenung bersama.

Abah Guru Sekumpul || YP-ist

Lebih dari sekadar jumlah, kehadiran jutaan orang adalah bukti nyata bahwa Abah Guru Sekumpul bukan hanya ulama besar, tetapi juga wali Allah yang jejaknya terus hidup dalam hati umat. Wafatnya tidak menghapus pengaruhnya. Justru, setiap haul menjadi pengingat bahwa warisan spiritual tidak pernah mati. Ia terus tumbuh, mengakar, dan menyinari jalan umat.

BACA JUGA: Polda DIY Selamatkan Potensi Kerugian Negara Rp 16,1 Miliar dari Tangan Koruptor

Yang membuat peristiwa ini semakin menyentuh adalah semangat gotong royong dan pengabdian yang menyertainya. Semua fasilitas digratiskan: makanan, transportasi, penginapan, bahkan layanan kesehatan. Aparat, relawan, santri, dan masyarakat umum bergerak dalam satu irama: melayani tamu-tamu pecinta ulama. Tak ada ego, tak ada pamrih. Yang ada hanyalah kerendahan hati dan cinta yang tulus.

Lautan umat

Haul ini mengajarkan banyak hal. Bahwa kecintaan kepada ulama adalah cahaya iman. Bahwa kebersamaan dalam kebaikan melahirkan ketenangan. Bahwa pengabdian tanpa pamrih adalah warisan para wali. Dan bahwa teknologi, jika digunakan dengan niat yang benar, bisa menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan hati-hati yang rindu.

BACA JUGA: Menkeu: Dana Darurat Rp 268 Miliar Cair, Pemulihan Bencana Sumatra Dipercepat

Haul ke-21 Abah Guru Sekumpul adalah cermin dari cinta, pengabdian, dan kesadaran kolektif umat. Di tengah dunia yang semakin individualistik, peristiwa ini membuktikan bahwa cinta kepada orang shalih mampu menyatukan jutaan hati. Semoga kita semua diberi taufik untuk meneladani akhlak beliau, dan kelak dikumpulkan bersama para kekasih Allah. Amin ya Rabbal ‘Alamin. (Samsuri Fadholi)


share on: