NAMA lengkapnya, Himawan Sutanto. Tapi lelaki supel dan kalem ini lebih akrab disapa Japrak oleh kalangan aktivis dan seniman di Yogyakarta. Pada era 80-an nama tersebut selalu bergaung dalam setiap demontrasi melawan Orde Baru.
Japrak bukan sosok kemarin sore dalam mengenal perpolitikan. Benih-benih pemahaman politik sudah dikenalinya sejak mahasiswa. Ia pernah bergabung didalam Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) yang sangat lantang dengan aksi-aksinya mengkritisi dan melawan kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat cilik; dari kasus tanah Kedung Ombo sampai protes terhadap penhancuran gerakan pro Demokrasi di Cina.
FKMY tak berapa lama eksis. Jakprak yang tercatat sebagai mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini bergabung dengan Dewan Mahasiswa dan Pemuda Yogyakarta (DMPY). Dalam setiap aksinya, selalu menggunakan istilah GEMPUR DERU (Gerakan Mahasiswa Purna Orde Baru).
“Gempur Deru adalah khas DMPY,” kata Himawan Sutanto kepada yogyapos.com, Sabtu (23/3/2019).
Saat ada usulan pembongkaran Gedung Kesenian Senisono, Himawan Sutanto ikut menggalang solidaritas dengan teman-teman di kampusnya dan seniman Yogya melakukan aksi dengan menggunakan bendera DSMI (Dewan Seniman Muda Indonesia). Aksi tersebut mendapat respon positif dengan hadirnya Rudini (Mendagri ketika itu, red) dan akhirnya membatalkan pembongkaran Gedung Senisno dan menjadikannya situs sejarah bagi seniman Yogyakarta.

Selalu guyub bersama kerabat dan warga | YP/Ist
Himawan Sutanto boleh dikata tidak pernah absen dari kegiatan ‘Parlemen Jalanan’ berupa demonstrasi di Yogyakarta. Dalam setiap aksi demonstrasi, lelaki bertubuh lencir ini lebih sering membacakan puisi-puisi protes sosialnya Rendra, disamping ikut berorasi membakar semangat para peserta aksi dan masyarakat yang kebetulan melintas ikut menyaksikannya.
“Alhamdulillah banyak puisi-puisi Rendra yang saya hapal di luar kepala,” tukas mantan aktivis mahasiswa yang usai lulus kuliah memilih hijrah ke Jakarta.
Beberapa menginjakkan kakinya di Jakarta, Himawan menikahi Zaitu Asrilla seorang aktivis PP Muslimat dan dikaruniai dua anak. Sembari bekerja, diam-diam gairah politiknya menggelora lagi. Jika dulu menjadi bagian dari ‘Parlemen Jalanan’, ia kini memilih untuk menjadi anggota parlemen dalam arti yang sebenarnya, yakni dengan mencalonkan diri menjadi anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Demikrat.
“Saya hanya ingin berpihak kepada warga. Sebab selama ini tidak pernah warga dilibatkan dalam proses pembangunan secara langsung, tapi hanya dijadikan obyek suara lima tahunan. Kalau ada reses paling juga hanya dikumpulkan dan dikasih sembako dan transport kemudian ketemu lagi tahun depan,” ungkapnya.
Himawan menegaskan, proses pembangunnan seperti itu masih terus berlangsung dan tidak ada yang baru. Padahal setiap pembangunan yang gagal berdialektika dengan masyarakatnya, cenderung menimbulkan gejolak karena merugikan rakyat.
Sebagai Caleg Dapil 4 Jakarta Timur yang meliputi wilayah Cakung, Pulogadung dan Matraman, Himawan menggelontorkan gagasan dengan mendirikan Rumah Aspirasi Warga yang dibiayai dari dana reses.
“Sebab selama ini dana tersebut ada, tapi hanya dibagi-bagi kepada tim suksesnya saja. Bukan untuk konstotuen. Nah cara seperti itu harus kita ubah, dibuat dengan yang lebih transparan melalui Rumah Aspirasi Warga yang akan menampung dari berbagai warga dari tiga kecamatan, kelurahan dan RT/RW sesuai dengan suara yang saya dapatkan,” paparnya.
Sejauh mana efektivitasnya, Himawan mengungkapkan bahwa dari Rumah Aspirasi tersebut akan direalisasi 8 program unggulan yang merupakan menjadi kewajiban bagi setiap anggota legislatif, antara lain meliputi pembangunan TPA (Tempat Penitipan Anak) bagi Buruh. Hal itu sangat penting untuk dibuatkan, karena membantu buruh dalam bekerja agar tidak lagi bingung menitipkan anaknya. Dan hal itu akan ditopang dengan Rumah Bantuan Hukum bagi warga.

Disuka oleh banyak kalangan, termasuk para emak-emak | YP/Ist
Sebagai caleg, dia benar-benar memiliki konsep dan program pendampingan masyarakat. Bahklan pengalamannya melakukan advokasi ketika mahasiswa cukup bervariasi sebagaimana pernah dia abadikan melalui tulisannya berjudul “Tentang Kebijakan Yang Berpihak”. Dalam tulisan itu ia merekam segala pengalamannya melakukan advokasi terhadap kasus ‘pencaplokan’ Jalan MHT milik warga Kampung Baru, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung oleh Pengembang. “Jalanan tersebut telah dimiliki Pengembang dengan dikeluarkannya SK.1323 Tahun 2017 oleh Djarot Saiful Hidayat,” jelas Himawan.
Bersama dengan warga, ia pun semangat penuh empati mendampingi aksi warga di Balaikota DKI. Hingga malamnya Anies Baswedan mendatangi lokasi penutupan jalan tersebut. Respon positif datang dari pihak Pemprov DKI Jakarta dan jalan akan dibuka kembali dan itu juga disampaikan oleh Bu Lurah Kayu Putih. “Semoga saja sesuai rencana. Saya juga sedang melakukan advokasi di daerah Cakung Timur. Kalau itu masalah ganti rugi saja yang belum ketemu. Semoga juga segera selesai,” ujar Caleg yang ternyata masih gemar mendaki gunung ini, tersenyum.
Himawan menegaskan, sebagai caleg memang harus memiliki komitmen politik kepada warga. Bukan bagi-bagi sembako dan serangan fajar demi meraih kursi. Komitmen demikian sudah direalisasi dengan menunjukkan keberpihakannya terhadap kepentingan warga hingga berhasil. Ini sekaligus membuktikan dirinya ikut memperjuangkan kepentingan warga sejah jauh-jauh hari sebelum menjadi caleg.
Dengan kata lain sosok lelaki supel dan kalem ini kuyup bersama warga bukan saat hendak pemilu saja. Tetapi sudah dilakukannya hampir setiap saat sebagai panggilan hati nuraninya. Ia tak luntur membela kepentingan rakyat. “Mungkin saya memang ditakdirkan untuk selalu bersama dan membantu membela kepentingan warga yang diabaikan dalam proses pembangunan,” pungkas sarjana seni yang kini didorong oleh konstituennya untuk mempraktikkan seni berpolitik. (Met)
