JPIK DIY-Jateng Gelar Pertemuan di Destinasi Wisata UFO Menoreh, Ini yang Diperbincangkan

share on:
Pertemuan Daerah (Perda) JPIK DIY-Jateng, di Destinasi Wisata UFO Mnoreh Magelang, Sabtu-Minggu (21-22/2/2026) || YP-ist

Yogyapos.com (MAGELANG) – Destinasi wisata UFO Menoreh kembali menjadi perbincangan di Kabupaten Magelang. Di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, bangunan yang menyerupai piring terbang itu berdiri kokoh di atas bebatuan marmer Perbukitan Menoreh, seakan benar-benar mendarat di antara sunyi dan hamparan hijau.

BACA JUGA: Puisi Untuk Ketua BEM UGM karya Aprinus Salam

Terletak di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, tempat ini tak hanya menawarkan panorama asri yang memanjakan mata, tetapi juga pengalaman unik menjajal lift sepanjang 125 meter --membelah gelap dan cahaya, naik dan turun di antara langit dan bumi. Aksesnya pun mudah. Dari Kota Magelang, perjalanan sekitar 45 menit dengan mobil pribadi atau sepeda motor sudah cukup mengantar pengunjung tiba di lokasi.

BACA JUGA: Talkshow Ustadz Handy & Hj Ninoek di Masjid Al Ikhlas: Jangan Cuma 'Baperlu'

Namun pada Sabtu dan Minggu, 21–22 Februari 2026, suasana di UFO Menoreh tak sekadar tentang wisata. Pukul 21.00 WIB, ketika malam mulai menebalkan langit, kami pengurus Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Jateng-DIY, menggelar rapat daerah yang berlangsung hingga sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.

BACA JUGA: Berkah Ramadhan, PRNU Panjangrejo Santuni 47 Anak Yatim

Rapat dipimpin langsung oleh Direktur JPIK Jateng-DIY, Slamet Wasair, serta dihadiri perwakilan pengurus pusat. Sekitar 32 orang pengurus harian hadir, duduk melingkar dalam suasana hangat namun penuh kesungguhan. Di tengah udara pegunungan yang dingin, diskusi mengalir hangat, menyusun kepengurusan, merancang program kerja, memperkuat konsolidasi organisasi, hingga membedah isu-isu terkini terkait problem kehutanan di Jawa Tengah dan DIY, juga dinamika isu nasional lainnya.

BACA JUGA: 113 Siswa SMA Muhi Yogya Diterjunkan Sebagai 'Mubaligh Hijrah' di Dua Kapanewon

Di tempat yang biasa menjadi ruang menikmati cakrawala, malam itu UFO Menoreh menjadi ruang merumuskan langkah. Di atas bukit yang sunyi, gagasan dan komitmen bertumbuh --memandang jauh ke depan, sejauh mata memandang lanskap Menoreh yang gelap namun penuh harapan.

Peserta pertemuan || YP-ist

Pertemuan Daerah (Perda) JPIK Jateng–DIY di kawasan hutan Menoreh, tepatnya di UFO Menoreh, bukan sekadar agenda organisasi. Di tengah malam yang sunyi, di antara dingin udara pegunungan dan siluet pepohonan yang menjulang, forum diskusi itu mengalir dengan satu benang merah: hutan bukan hanya untuk dijaga, tetapi juga untuk dikelola dengan bijak dan kreatif.

BACA JUGA: IFI Yogyakarta Gelar Pameran Tunggal 'Road To Igo' Karya Igo Rizkullah

Dalam percakapan yang hangat hingga dini hari, tersimpul kesadaran bersama—ketika masyarakat setempat diberi ruang dan kepercayaan untuk mengelola hutan secara lestari, hasilnya justru lebih baik dan lebih bermanfaat. Kelestarian tetap terjaga, ekosistem tidak dikorbankan, dan hutan tidak kehilangan jiwanya. Sebaliknya, ia tumbuh menjadi sumber kehidupan.

BACA JUGA: Jogja Fashion Week 2026 akan Hadirkan 1.000 Karya Adiluhung Desainer Profesional

Contohnya nyata di hadapan kami. Kawasan Menoreh yang dulu mungkin hanya dipandang sebagai bentang alam biasa, kini menjelma destinasi wisata unik. UFO Menoreh berdiri sebagai simbol bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan konservasi. Hutan tetap hijau, namun juga menghadirkan daya tarik wisata yang mengundang orang datang, menikmati, dan menghargai alam.

BACA JUGA: Geliat Wisata Grojokan Watu Purbo Kian Terasa, Menawarkan Eksotisme yang Khas

Dari sana, manfaatnya berlapis. Pendapatan asli daerah (PAD) desa maupun kabupaten berpotensi meningkat. Ekonomi masyarakat terdongkrak melalui sektor wisata, kuliner, jasa, hingga usaha kecil yang tumbuh di sekitarnya. Hutan tak lagi dipandang semata sebagai sumber kayu, melainkan sebagai ruang hidup yang memberi nilai jangka panjang.

BACA JUGA: Ini Susunan Lengkap Direksi dan Dewan Pengawas Baru BPJS 2026-2031

Malam itu, di ketinggian 600 mdpl, di bawah langit Menoreh yang temaram, diskusi Perda JPIK Jateng–DIY terasa seperti menanam benih. Benih gagasan bahwa masa depan kehutanan tak harus selalu tentang eksploitasi atau pembatasan semata, tetapi tentang keseimbangan—antara menjaga dan memanfaatkan, antara merawat alam dan menguatkan kesejahteraan masyarakat.(ato)

BACA JUGA: Gandeng Bobon Santoso, Brigjen TNI Bambang Sujarwo dan Istri Masak Besar di Kebumen

Pertemuan Daerah (Perda) JPIK Jateng–DIY di kawasan hutan Menoreh, tepatnya di UFO Menoreh, Kulonprogo, Minggu (22/2/2026), bukan sekadar agenda organisasi. Di tengah malam yang sunyi, di antara dingin udara pegunungan dan siluet pepohonan yang menjulang, forum diskusi itu mengalir dengan satu benang merah: hutan bukan hanya untuk dijaga, tetapi juga untuk dikelola dengan bijak dan kreatif.

BACA JUGA: Polres Bantul Sita Ratusan Botol Miras Selama Ramadhan

Dalam percakapan yang hangat hingga dini hari, tersimpul kesadaran bersama—ketika masyarakat setempat diberi ruang dan kepercayaan untuk mengelola hutan secara lestari, hasilnya justru lebih baik dan lebih bermanfaat. Kelestarian tetap terjaga, ekosistem tidak dikorbankan, dan hutan tidak kehilangan jiwanya. Sebaliknya, ia tumbuh menjadi sumber kehidupan.

BACA JUGA: Tiga Sepeda Motor Tabrakan, Seorang Lansia Meninggal Dunia

Contohnya nyata di hadapan kami. Kawasan Menoreh yang dulu mungkin hanya dipandang sebagai bentang alam biasa, kini menjelma destinasi wisata unik. UFO Menoreh berdiri sebagai simbol bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan konservasi. Hutan tetap hijau, namun juga menghadirkan daya tarik wisata yang mengundang orang datang, menikmati, dan menghargai alam.

BACA JUGA: Pembawa 2,71 Kilogram Ganja Dari Baturaja Ditangkap di Terminal Jombor

Dari sana, manfaatnya berlapis. Pendapatan asli daerah (PAD) desa maupun kabupaten berpotensi meningkat. Ekonomi masyarakat terdongkrak melalui sektor wisata, kuliner, jasa, hingga usaha kecil yang tumbuh di sekitarnya. Hutan tak lagi dipandang semata sebagai sumber kayu, melainkan sebagai ruang hidup yang memberi nilai jangka panjang.

BACA JUGA: Harda Kiswaya Safari Tarawih di Masjid Al Ma'unah dan Salurkan Santunan

Malam itu, di ketinggian 600 mdpl, di bawah langit Menoreh yang temaram, diskusi Perda JPIK Jateng --DIY terasa seperti menanam benih. Benih gagasan bahwa masa depan kehutanan tak harus selalu tentang eksploitasi atau pembatasan semata, tetapi tentang keseimbangan-- antara menjaga dan memanfaatkan, antara merawat alam dan menguatkan kesejahteraan masyarakat. (Sarwanto H Swarso)


share on: