JUAL TANAH MALAH DIPIDANAKAN, ADVOKAT YUWONO : Ini Murni Perdata, Kami Segera Eksepsi

share on:
Advokat Yuwono Riyagung SH | YP/Ismet

Yogyapos.com (SLEMAN) – Advokat senior Yuwono Riyagung SH segera menyiapkan eksepsi untuk kliennya, DYS (40) warga Bantulan Condongcatur, Sleman, yang didakwa menggelapkan uang pembatalan jual beli tanah senilai ratusan juta rupiah.

“Klien kami tidak menggelapkan, dan perkaranya sarat masuk ranah perdata. Makanya akan kami ajukan eksepsi pada persidangan sepekan mendatang,” ucap Yuwono usai sidang pembacaan dakwaan oleh jaksa Nilla Ardiani SH, di PN Sleman, Selasa (23/1/2019).

Dalam surat dakwaan jaksa yang dibacakan di muka hakim diungkapkan, kasus bermula kehendak terdakwa DYS menjual tanah miliknya seluas 1737 M2 di Desa Caturtunggal Depok Sleman. Tanah ini ditawarkan kepada Dhayu Anggraini dengan harga per meter Rp 1,5 juta, sehingga total Rp 2,5 miliar.

Pada 5 September 2017 terjadi kesepakatan di kantor notaris Esnawan SH Jalan Gayam Yogyakarta. Ini menyusul pembayaran pembelian oleh saksi korban Dhayu secara trasnfer Rp 550 juta, dan tahap II sebesar Rp 350 juta. Sedangkan sisanya Rp 1.650.000.000 dijanjikan akan dilunasi pada 31 Agustus 2017.

Meski kesepakatan jual beli tanah itu di kantor Esnawan, namun keduanya bersepakat membuat akte jual beli (AJB) di Notaris Indra Zulfizar di bilangan Merapi View Sleman. Berikutnya Dhayu minta pengunduran pelunasan pembayaran pada pertengahan September 2017. Tapi terdakwa berkeberatan, sehingga diambil jalan keluar yakni Dhayu menghubungi Arif Budi Sulistya melalui perantara Sukisno untuk membeli tanah tersebut.

Ketiganya kemudian mendatangi terdakwa di rumahnya, hingga diperoleh kesepakatan bahwa Arif bersedia membeli tanah itu seharga Rp 2 miliar asalkan pembeli pertama yaitu Dhayu membatalkan AJB.  Kesepakatan berjalan mulus. Dhayu membuat surat pembatalan AJB dengan terdakwa, selanjutnya Arif membuat AJB sebagai pembeli dan membayar uang pembelian tanah tersebut kepada terdakwa seharga Rp 2 miliar.

Persoalan meruak lantaran terdakwa tidak mengembalikan seluruh uang yang telah diterima dari Dhayu sebesar Rp 900 juta. Padahal sebelumnya disepakati pasca jual beli dengan Arif , pihaknya akan membayarkan seluruh uang yang telah diterima dari Dhayu yang akhirnya berkenan membatalkan kesepakatan jual beli.

Menurut jaksa, terdakwa hanya mengembalikan uang kepada Dhayu sebesar Rp 100 juta pada September 2017 dan Rp 300 juta pada November 2017. Di situlah letak penipuan dan/atau penggelapan yang dilakukan terdakwa. “Perbuatan terdakwa melanggar pasal 378 KUHP,” tegas jaksa.

Berbeda dengan jaksa, advokat Yuwono Riyagung SH selaku pengacara terdakwa menyatakan bahwa dakwaan jaksa sangat dipaksakan dan cacat yuridis. Karena kasus ini sebenarnya murni perkara perdata yang didahului dengan adanya kesepakatan. Terdakwa tidak mengembalikan uang kepada Dhayu, itu bukan merupakan perbuatan pidana melainkan karena ulah Dhayu sendiri.

Sebenarnya tak ada kewajiban bagi terdakwa mengembalikan uang kepada Dhayu. Karena urungnya pembelian tanah milik terdakwa disebabkan kesalahan Dhayu sendiri yang tidak sanggup melunasi kekurangan pembelian tanah yang dijanjikan pada 31 Agustus 2017.

“Itu dakwaan sangat-sangat dipaksakan. Kami akan eksepsi, bahkan lakukan pembelaan untuk membuktikan bahwa kasus ini murni persoalan perdata,” pungkas Yuwono dari YPBHI Peradi Bantul. (Agung DP/Met)

 


share on: