KENDURI ALA KOMUNITAS BANYU BENING : Sadarkan Masyarakat, Air Hujan pun Bertasbih

share on:

Ana kidung rumeksa ing wengi, teguh ayu luputa ing lara, luputa bilahi kabeh, jimse tanda tan purun, paneluhan tan anawani, miwah panggawe ala, gunaning wong luput, geni atemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah mringmami, guna duduk pan sirna. (Diselimuti awan mendung acara kenduri banyu udan dengan mengusung tema “Banyu Udan Bertasbih” diawali kirab banyu bening didendangkan kidung dan  dangguladi doa kanti gakiai diakhiri diskusi prosesi Kenduri banyu udan terasa sejuk).

 

Di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (4/12/2018). Kenduri Banyu Udan 2018 kembali dilaksanakan tahun ini untuk ketiga kalinya. Kenduri ini disebut sebagai rasa matur nuwun atas berkah air hujan. Kegiatan ini didukung Balai Pengelolaan Sumber Daya Air DIY, dan Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta (AKSY), Pemerintah Desa Sardonoharjo, Karang Taruna desa beserta komunitas banyu bening.

Ritual kenduri banyu udan diikuti ratusan orang yang berasal dari siswa, mahasiswa, akademisi, pemerintah desa, tokoh masyarakat jaringan pemanfaat air hujan, dan pecinta alam.

Anggota DPD dari Daerah Pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta Drs HM Afnan Hadikusumo, dalam sambutannya mengatakan bahwa dunia kini terjadi krisis air yang disebabkan bertambahnya populasi manusia, kerusakan lingkungan yang muaranya adalah berkurangnya sumber air bersih. Pembabatan hutan dan penebangan pohon yang mengurangi daya resap tanah terhadap air turut serta pula dalam menambah berkurangnya asupan air bersih ini. Selain itu pendistribusian air yang tidak merata juga ikutan dil dalam permasalahan ini.

“Pengelolaan sumber daya air yang buruk yang mengakibatkan tidak meratanya penyebaran air. Tentu saja ini berdampak pada kemampuan masyarakat miskin untuk menikmati pelayanan air bersih. Dapat dilihatsekarang masyarakat miskin tidak mempunyai akses terhadap air bersih,” tuturnya.

Bahkan, lanjut dia, masyarakat miskin harus membayar jauh lebih mahal guna mendapatkan air bersih tersebut sehingga banyak dari mereka yang tidak sanggup membayar, harus menggunakan air yang tidak bersih.

Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih berharap melalui kegiatan ini, masyarakat umum semakin memahami pentingnya manfaat air hujan. Dan akan dapat mengurai permasalahan air di Indonesia  semakin pelik lantaran air bersih yang layak untuk konsumsi makin menurun. Ini berbanding terbalik dengan meningkatnya jumlah masyarakat.

“Artinya, kebutuhan air bersih untuk konsumsi pun semakin tinggi. Tingginya konsumsi terhadap air minum dalam kemasan berakibat numpuknya sampah dimana mana,” ujar Ning.

Air yang dikomersilkan tidak memenuhi syarat baku mutu air minum. Dalam jangka panjang, jika konsumsi terus menerus dapat menyebabkan permasalahan kesehatan, dan proses pengambilannya dapat menimbulkan permasalahan lingkungan.

Ada penurunan muka air tanah karena eksploitasi yang berlebihan, keringnya irigasi untuk lahan pertanian, dan munculnya konflik social akibat permasalahan tersebut. Untuk mengatasi itu, Indonesia dirasa masih ada secercah harapan.

Pasalnya, Indonesia memiliki dua musim yaitu penghujan dan kemarau dan saat musim penghujan air sangat melimpah. Apalagi, air hujan telah terfilter langit dan dapat menjadi solusi permasalahan air bersih.

Sebab, lanjut Sri, air hujan dapat digunakan sebagai air minum yang memiliki nilai ekonomis, praktis dan higienis. Praktek pemanfaatan air hujan untuk air konsumsi ini tengah diperkenalkan kepada masyarakat luas.(Dewo Subroto)


share on: