Kethoprak adalah seni tradisi yang tumbuh berkembang di DIY dan Jateng. Kethoprak yang merupakan Sandiwara Jawa, pada mulanya selain untuk hiburan sekaligus untuk menyampaikan warta atau berita yang di samarkan. Warta yang dirahasiakan, sehingga pengungkapannya menggunakan media seni. Yakni sandiwara, kethoprak salah satunya. Dalam khasanah Teater kethoprak merupakan seni tradisional yang memiliki pakem ataupun aturan baku dalam pementasannya. Yang menjadi kekhasan seni kethoprak adalah adanya keprak, jejeran kerajaan, katumenggungan, kawedanan, kademangan, nembang atau tetembangan, bagen binagen, gandrung antara tokoh utama pria dengan pemeran utama wanita, juga ada geculan yang gegojegan untuk menghibur bendaranya. Dulu banyak grup kethoprak yang sangat masyur ada Sapta Mandala, Among Mitro, PS. Bayu, Agung Budiaji, Kethoprak RRI, Kethoprak Arma Sebelas, dll. Sering tampil dan wara-wiri di layar kaca TVRI Stasiun Yogyakarta.
Adalah Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, dalam kurun waktu 9 (sembilan ) hari berturut turut setiap malam. Dimulai 12 - 20 Juli 2019. Mengambil tempat di Lapangan Baratan, Candibinangun, Pakem, Sleman. Diikuti kelompok ketoprak dari 17 kecamatan, Ngaglik, Sayegan, Berbah, Godean, Kalasan, Tempel, Cangkringan, Mlati, Sleman, Ngemplak, Turi, Moyudan, Minggir, Pakem, Prambanan, Gamping, dan Depok. Cerita yang diangkat juga sangat beragam mulai dari cerita carangan maupun babat. Ada yg menggarap cerita Rara Mangli, Bengawan Sore Dadi Seksi, Ki Ageng Mangir, Pedhut Ing Bumireja, Sang Anusapati, Tumbak Kyai Pleret, Pedhut Ing Singasari, Sukerta Tapak Liman, Singasari Panglong, Tumetesing Embun Ing Lemah Cengkar, Nambi Mbalela, Mendhung Ing Singgelo, Trunojoyo Tundhung, Kembang Katumenggungan, Elang Sutajaya, Mawar Ing Watu Candi.
Kegiatan dibuka oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSi, didahului laporan dari Kadisbud Sleman AY. Aji Wulantara SH MM. Disaksikan penonton yang berjubel. Banyaknya penonton menjadi pertanda ketoprak masih lekat di hati warga.
Selama sembilan hari berturut setiap malam. Cuaca yang sangst dingin karena boleh dikata lapangan yang digunakan untuk Festival Kethoprak Sleman 2019 berada di kecamatan yang cukup dekat dengan gunung Merapi. Sehingga cuaca dingin terasa ekstrim dan menusuk tulang. Dewan juri yang terdiri dari Drs Purwadi, Suksca dan KRT Akhir Lusono Wibaksodipuro, SSn MM pun terpaksa berbaju dan berjaket.
Namun sekali lagi yang menjadi tanda tanya adalah berjubelnya penonton setiap malam tersebut. Bahkan tanpa ragu dan jengah banyak sekali penonton yang duduk lesehan berdekatan dengan para piyaga/pradangga dan pesinden yang mengiringi kethoprak. Mereka mendekat ke panggung. Bahkan sisi kanan, kiri juga depan dewan juri banyak yang duduk. Tentu suasana ini sangat luar biasa. Ditengah deraan era milenial, era android, era tv digital dan media sosial yang membanjir.
Namun seni tradisional kethoprak masih juga disukai. Apakah mereka haus hiburan, apakah suguhan ketoprak tersebut betul-butul tontonan yang sarat dengan makna tuntunan. Tidak hanya sekadar hiburan yang hanya berha ha hi hi. Setelah itu bubar tanpa ada pesan moral yang dapat diserap. Pastinya penulis mengikuti dari hari ke hari setiap malam tanpa henti. Menjadi penyaksi banyaknya penonton. Mereka berduyun duyun dengan berkerudung sarung dan juga ada yang berselimutkan jarik. Sangat mengherankan. Ada kontradiksi dalam hal ini. Bukankah kini mereka bisa tinggal memutar chanel tv yang jumlahnya luar biasa banyaknya. Demikian pula dengan gadged yang ada digenggaman yang siap menyajikan apapun yang mereka inginkan. Apapun karena bisa memenuhi hasrat mereka.
Mendapati kasunyatan yang sedemikian luar biasa inilah, apresiasi yang tinggi untuk Dinas Kebudayaan Sleman. Tentu penyelenggaraan kegiatan semacam ini akan menumbuhkan komunitas di masyarakat semakin giat untuk menumbuh kembangkan kesenian kethoprak yang merupakan seni tradisi penguat dan pengokoh keistimewaan Yogyakarta. Jika tidak terperhatikan oleh institusi terkait apalah daya mereka. Tentunya hasutan media teknologi untuk berselancar dengan kemewahan semu akan mewabah dan akan menjadi tragedi yang bak kejadian luar biasa yang merajalela. Mumpung saat ini seni tradisional masih memiliki mereja (penikmat, pemirsa) perlu terus menerus dirawat dan dijaga agar tetap lestari keberadaannya. Gelaran peristiwa tahunan Festival Kethoprak ini patut ditiru untuk festival seni tradisi yang lain. Seperti festival Srandul, Kuntulan, Tari, Teater, Musik Gamelan dan seni tradisi lain. Semoga Sleman tetap sembada. Yogyakarta tetap istimewa. Indonesi Jaya. NKRI utuh, Bhineka Tinggal Ika terjaga. (Akhir Lusono, Wartawan Yogyapos.com)
