|
Nama Sulistyo SH MMA bagi masyarakat Bantul adalah sosok yang ngayomi dan tahu persis tentang persoalan yang dialami warga Bantul, dari tingkat paling bawah. Yogyapos.com mencoba berbincang santai dengan Ketua Paguyuban Dukuh (Pandu) Bantul ini, kemarin siang di perkebunan Pepaya California miliknya, di Dusun Cangkring Sumberagung Jetis, Bantul.
Apa kabar Pak Sulis? Selain masih sangat aktif di Pandu, kesibukan dan kegiatan apa yang sedang Anda geluti sekarang ini. Ya, Alhamdullilah sehat. Di Pandu kayaknya jabatan seumur hidup yang bakalan saya emban. Lantaran jabatan Ketua Pandu ini saya pimpin sejak tahun 2005. Sudah tiga periode ini saya menjadi ketua. Sempat saya melontarkan kepada para dukuh, untuk tak lagi menjabat. Biar ada regenerasi. Namun mereka tidak merestuinya. Menurut para warga di 933 dusun se-Bantul saya sudah punya chemistry yang klop dengan Pandu. Selain di Pandu saya juga jadi Dewan Pembina Tagana Bantul, sebagai anggota Majelis Pertimbangan Karang Taruna (MPKT) Nasional, Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) Bantul dan baru-baru ini bergabung dengan Masyarakat Agrobisnis Indonesia (MAI).
Bagaimana cara Anda membagi waktu dengan beragam organisasai yang Anda geluti? Apakah ada skala prioritas? Terus, tanggapan keluarga bagaimana? Apakah ada protes dari istri dan anak-anak? Sejauh ini istri dan anak-anak tidak protes. Bahkan istri saya sangat mendukung dengan beragam aktivitas yang saya jalani. Untuk mengobati rasa kangen dengan keluarga, saya harus bolak-balik Yogya-Purwokerto. Karena istri menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan otomatis anak-anak juga bersekolah di sana. Untuk skala prioritas di organisasi sudah saya petakan. Mulai dari Pandu, Tagana, MPKT dan MAI sudah saya kelompokkan tingkat urgensinya masing-masing. Mana yang harus saya eksekusi, mana yang harus saya evaluasi, mana yang harus beri pembinaan. Itu semua ada klasifikasinya.
Menurut Anda, wajah Bantul yang sekarang ini apakah sudah mewakili aspirasi masyarakatnya, terkhusus espektasi dari Paguyuban Dukuh? Untuk di dalam struktural Pemkab Bantul, saya tidak tahu persis pola manajerialnya. Untuk sejumlah program yang telah berjalan, pasti ada sisi plus-minus nya.
Aspek apa yang belum berjalan optimal, dan potensi apa yang harus dikembangkan? Apakah ada solusi jitu dan mungkin menelurkan terobosan baru? Dari perspektif saya, pentingnya penguatan pemberdayaan masyarakat desa sangat krusial sekali. Karena awal dari sebuah sistem berjalan baik, jika Sumber Daya Manusia (SDM) nya juga punya kompetensi dan kapabilitas. Bangun SDM-nya dulu secara berjenjang dan beri penguatan, serta pembekalan kompetensi. Setelah itu berjalan baik, otomatis penataan sektor lain juga akan selaras. Nah, masalahnya: point kelebihan di Bantul itu di SDM. Dan kekurangannya juga di sektor SDM. Seperti buah simalakama. Untuk solusi dan terobosan yang paling logis adalah penguatan pemberdayaan masyarakat desa. Dari desa semua bisa tumbuh berkembang secara berjenjang.
Penguatan pemberdayaan di sektor apakah yang urgensi sekali untuk segera dibenahi? Tentunya kebutuhan pokok hidup manusia: Sandang, Pangan, Papan. Korelasi kebutuhan pokok tersebut sangat related (terkait) dengan yang terjadi di masyarakat. Jika kita breakdown(kupas), akan ada sub kebutuhan yang lain. Seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan (hukum). Berkaca dari geografis di Bantul, maka faktor yang urgen dan potensial digarap adalah sektor pertanian (agribisnis). Pola pengembangan dari agribisnis sangat urgen dilakukan lantaran erat hubungannya dengan ketersediaan pangan. Aspek ini juga optimalisasi pertanian sebagai komoditas. Petani harus dibekali soft skill. Petani Bantul harus cerdas. Harus menguasai ilmu produksi pertaninan, pengelolaan hasil, pendistribusian, hingga benefit keuntungan yang diperoleh. Tentunya semua harus mendapat support penuh dari stakeholder terkait.
Dari informasi yang saya ketahui, PAD Bantul dari sektor wisata, setiap tahunnya meningkat. Apakah hal tersebut bisa menjadi patokan keberhasilan? Atau perlu dipoles lagi? Wisata di Bantul memang tidak ada habisnya. Animo wisatawan yang dahaga dengan rekreasi juga selalu membuncah. Siapa yang menyangka jika Mangunan akan menjadi setenar sekarang. Pajangan juga bergerak cepat di wisata kuliner. Bahkan brand yang menancap begitu kuat. Kurang sreg rasanya jika makan ingkung tidak di Pajangan. Tembi sebagai desa wisata juga terus bersolek. Namun ada beberapa yang belum tergarap optimal dan perlu dibenahi. Ambil contoh seperti Goa Selarong, desa wisata Krebet, desa batik Wijirejo Pandak, bahkan sentra kerajinan kulit Manding dan gerabah Kasongan. Itu semua ikonik dari Bantul. Tapi kondisinya sekarang stagnan. Denyut ekonomi warganya tak lagi bergairah. Pemerintah harus gerak cepat mengatasinya. Lagi-lagi itu terkait dengan pemberdayaan warganya. Harus berani berinovasi, usung ide dan gagasan segar. Ini tanggung jawab kita bersama untuk memberi pendampingan kepada masyarakat, agar tumbuh ekonomi kreatif yang berusia panjang. Belum lama ini saya juga ngobrol dengan teman-teman Pandu, dan mengapungkan wacana membuat semacam pasar kuliner tradisional dengan konsep budaya, unik dan tentunya menarik. Masih kita godog wacana ini. *** Hari semakin siang. Saatnya rolasan tiba. Kami pun bergeser ke sebuah warung makan mangut lele di utara perempatan Jetis Bantul. Obrolan Yogyapos.com kepada Sulistyo SH MMA untuk edisi berikutnya adalah seputaran eskalasi politik jelang Pilbup Bantul 2020 yang semakin bergairah. Santer berkembang, jika Ketua Pandu ini akan maju sebagai Bantul 1. (Dol)
|
