Yogyapos.com (Gunungkidul) - Dosen luar biasa Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Pasundan Bandung Kolonel Inf Dr Tugiman mengatakan, narkoba menjadi ancaman bagi Indonesia. Begitu juga paham radikalisme. Keduanya menyerang anak bangsa khususnya generasi sebagai penerus kepemimpinan negeri ini.
“Narkoba dan radikalisme harus menjadi musuh dan diperangi bersama agar NKRI tetap kokoh berdiri,” kata Tugiman di Gunungkidul, Jumat (26/7/2019).
Pria kelahiran Gunungkidul 2 Januari 1963 ini menegaskan, narkoba tidak hanya beredar di perkotaan. Barang haram itu tidak hanya menyerang kalangan artis yang berduit, tetapi juga masyarakat biasa sampai ke pelosok desa.
Data di Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebutkan, DIY merupakan daerah dengan tingkat peredaran narkoba yang tinggi. Pada 2015 saja tercatat ada 60.128 penyalahgunaan narkoba.
Berdasarkan data itu, sebanyak 28 ribu orang masih dalam taraf mencoba pakai. Sebanyak 17 rib orang secara teratur pakai, 1.500 orang pecandu nonsuntik dan lebih dari 1.000 orang pecandu suntik.
Di sisi lain, kasus narkoba yang ditangani kepolisian juga meningkat dari tahun ke tahun. Data di Polda DIY mencatat, pada 2017 ada 371 kasus narkoba dengan 462 tersangka. Sedangkan pada 2018 melonjak menjadi 448 kasus narkoba dengan 551 tersangka.
Alumnus S3 Hukum Tata Negara Universitas Padjajaran Bandung mengatakan, dari data di atas menunjukkan narkoba sudah menjadi momok generasi bangsa. “Narkoba sudah merusak generasi muda yang merupakan calon penerus pemimpin bangsa,” katanya.
Gerenerasi muda sebagai penerus bangsa harus menjadi garda terdepan menanggulangi narkoba. "Pemuda Gunungkidul harus bahu membahu bersama TNI/Polri menangkal peredaran narkoba,” ujar dia.
Pria yang sukses meniti karir di dunia militer ini juga mengingatkan tentang bahaya radikalisme. “Radikalisme itu tumbuh dan mengancam kehidupan masyarakat. Ada faktanya,” ujar pria yang sukses meniti karir di dunia militer ini.
Mengutip sejumlah penelitian menyebut radikalisme tumbuh subur di kampus-kampus. Bahkab, Kemenristek Dikti menyebut ada tujuh perguruan tinggi negeri di Indonesia terpapar paham radikalisme.
Tugiman mengaku prihatin dengan kondisi ini. Dunia kampus sebagai kawah candradimuka dalam mencetak calon pemimpin bangsa sudah terpapar ideologi yang berseberangan dengan falsafah hidup bangsa, yakni Pancasila
“Tidak hanya narkoba, paham radikalisme in harus kita perangi bersama pula,” kata Tugiman.
Untuk itu, dia berpesan kepada generasi muda untuk menjauhi kedua ancaman bangsa Indonesia ini, narkoba dan radikalisme. “Pemuda merupakan generasi penerus bangsa, jauhi narkoba dan waspadai bahasa radikalisme. Kedua ancaman itu harus diperangi bersama,” ujarnya. (Wan)
