Komunitas Kalipa Gelar Prosesi Serah Terima Koleksi Benda Pusaka

share on:
Pendongeng Bagong Soebardjo berperan sebagai Semar memimpin prosesi dengan peran menjadi cucuk lampah untuk mengantar benda pusaka tersebut diserahterimakan kepada Dhiah Ayu Wartaningsih , warga Kalipa, Kamis (24/9/2021) || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Praktisi literasi yang tergabung dalam Kampung Literasi Pakem (Kalipa) Yogyakarta menggelar prosesi budaya Serah Terima Benda Pusaka, di Pawon Kalipa, Pakembinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (23/9/2021) sore.

Pendongeng Bagong Soebardjo berperan sebagai Semar memimpin prosesi dengan peran menjadi cucuk lampah untuk mengantar benda pusaka tersebut diserahterimakan kepada Dhiah Ayu Wartaningsih yang juga warga Kalipa dan pemilik Pawon Kalipa. 

Bagong menyerahkan wayang Petruk dan bonang berikut alat pemukulnya kepada Dhiah di beranda Rumah Pusaka. Penyerahan secara simbolik itu menandai serah terima hibah benda koleksi Linda Maslianto asal Malang, Jawa Timur yang diangkut dua unit truk. 

Prosesi tersebut disaksikan Pendiri Yayasan Kalipa Indra Ismawan, Pembina Kalipa Budi Sardjono, Ketua Kalipa Dr Aprinus Salam serta pengurus dan warga Kalipa. 

Dhiah mengatakan, sebenarnya awalnya ia hanya akan membangun rumah limasan berikut pendapa  untuk membuka usaha warung kuliner Pawon Kalipa. Namun, salah satu koleganya, Budi dari Surabaya memberitahukan ada pemilik benda pusaka, Linda yang berencana menghibahkan benda koleksinya dan merasa cocok dan rela dihibahkan kepada Dhiah. 

Linda Maslianto mengatakan, ia sudah 30 tahun memiliki semua barang yang dihibahkan, yaitu dua perangkat gamelan pelog slendro. Salah satu perangkat gamelan merupakan peninggalan leluhur sedangkan gamelan satunya milik guru spiritualnya yang diberikan kepadanya.

“Gamelan yang peninggalan leluhur itu berserakan. Ada yang dibawa saudara, kerabat, bahkan ke orang-orang yang akhirnya tak terjangkau entah siapa. Akhirnya butuh waktu 10 tahun untuk bisa mengumpulkan kembali jadi lengkap. Gamelan yang ini nggak boleh ditabuh. yang boleh ditabuh gamelan satunya,” ungkapnya.

Selain gamelan, Linda juga menghibahkan tiga kotak wayang kulit serta benda-benda pusaka berupa berbagai macam keris dan tombak.

Menurut Kuncoro Hadi, kolega Linda dari Cilacap, Jawa Tengah, pemberian hibah  sebagai peristiwa luar biasa. Linda dapat dijadikan teladan mengingat kerelaannya menyerahkan benda pusaka, gamelan, dan wayang koleksinya.

“Dari hibah ini, satu per satu anak Nusantara akan mengerti arti pusaka. Kalipa menjadi tonggak awal berkembangnya budaya Nusantara,” cetusnya.

Bagong Soebardjo yang juga akan mendirikan Sanggar Wayang Dongeng di Kalipa mengaku senang mendapat kesempatan merawat gamelan dan wayang. 

"Ini jadi seperti tumbu oleh tutup. Saya senang. Nggak usah beli. Bisa gladhen, berlatih mendalang dan menabuh gamelan bersama anak-anak di Pakem.

Pembina Yayasan Kalipa Budi Sardjono menambahkan, pemberian hibah gamelan, wayang, dan pusaka itu berproses secara alami, tanpa direkayasa, bersamaan dengan berdirinya Kalipa. Kelak, di tanah seluas 3,4 hektar itu menyusul berdiri Museum Sepeda dan Permainan Anak Tradisional, Balai Literasi, Perpustakaan, dan rumah warga dari kalangan pegiat literasi. (*/Sulistyawan Dibyosuwarno)

 


share on: