KOMUNITAS TERBAIK PEDULI SAMPAH: KSM Brama Muda Peroleh Penghargaan Kementerian

share on:

Yogyapos.com (SLEMAN) - Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Brama Muda Dusun Dayakan, Sardonoharjo, Ngaglik mendapat apresiasi dan penghargaan sebagai komunitas peduli sampah terbaik dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Penghargaan diberikan bersamaan dengan perayaan Peringatan Hari Habitat Dunia 2018
“Benar pada 28 November 2018 yang lalu penghargaan tersebut kami terima,” ujar Sutarjo selaku Ketua KSM Brama Muda kepada yogyapos.com, Rabu (10/12).
Selain penghargaan juga disampaikan bantuan berupa kendaraan bermotor roda tiga diserahkan langsung oleh Prasetyo, Kasubid Penyerahan Teknis Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman.
Dalam sambutannya Prasetyo menjelaskan, semula penyerahan bantuan direncanakan akan dilaksanakan di Palu, Sulawesi Selatan. Selang beberapa waktu ternyata di Palu ada bencana gempa bumi dan tsunami maka agenda tersebut dibatalkan. Akhirnya bantuan dan penghargaan diserahkan langsung di daerah masing-masing.
Dijelaskan, KSM Brama Muda mampu menyisihkan ratusan kelompok lain yang bergerak di bidang yang sama. Berdasarkan hasil penilaian, kelompok tersebut meraih 5 besar se-Indonesia.
KSM Brama Putra merupakan salah satu dari lima KSM yang meraih penghargaan. Sedangkan yang lain berada di Provinsi Bali, Jawa Barat, Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan.
Menurut Prasetyo, tempat pengelolaan sampah dengan sistem Reduce, Reuse, Recycle (3R), awalnya cukup banyak. Pada akhirnya banyak yang tidak mampu menghadapi berbagai kendala menjadikan mereka tidak dapat berkembang bahkan berhenti aktifitasnya.
Dipilihnya KSM Brama Muda sebagai komunitas peduli sampah terbaik karena memiliki kelebihan dibanding kelompok lain, yaitu memiliki unit usaha lain semacam wahana edukasi untuk anak sekolah.
Wakil Ketua KSM Brama Muda, Sutarjo usai acara penyerahan menyampaikan, tempat pengelolaan sampah debngan sistem 3R dibangun sejak Desember 2017. Hingga saat ini telah memiliki 318 pelanggan dengan yang timbunan sampah per hari rata-rata sekitar 680 kilogram.
Sampah tersebut kemudian dipilah dari sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik selanjutnya dipilah lagi antara yang laku dijual dengan yang tidak laku. Sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos dan dijual.
“Hasil kompos per bulan kami dapat menghasilkan 500 kilogram dengan harga jual Rp 1000 per kilogram. Dalam mengelola sampah, kami bukan tanpa hambatan karena masyarakat belum terampil memisah sampah secara mandiri. Sehingga anggota kami harus memilah sendiri antara sampah yang ekonomis dengan yang tidak ekonomis,” jelasnya. (Wid)


share on: