KONSEP GEE BATIK : Filosofi, Inovasi dan Diferensiasi

share on:
Sugeng Waskito bersama sejumlah model dalam sebuah acara fashion show || YP/Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Tren batik selalu mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Pola yang dinamis, kontemporer, serta warna-warna cerah sangat digemari pecinta batik saat ini. Para desainer batik pun dituntut selalu berinovasi dalam menelurkan karya kreatifnya. Salah satunya Sugeng Waskito. Pemilik sekaligus desainer Gee Batik.

Ditemui Yogyapos.com, Sabtu (6/7) di outlet pusat Jl Tunjung No.8 Baciro Yogyakarta, Sugeng menuturkan, tren batik setiap tahunnya selalu ada perubahan. Kini pecinta batik lagi kesengsem dengan warna-warna cerah, dengan motif yang unik. “Aspek diferensiasi (pembeda) yang terus kami eksplor di Gee Batik. Lantaran hal ini sangat penting sebagai ciri khas. Dan kami menonjolkan desain abstrak kontemporer cerah, motif tumpal, serta corak poleng Bali. Elemen-elemen tersebut lalu dikolaborasikan dalam sebuah karya batik tulis,” jelas Sugeng yang siang itu kedatangan sejumlah konsumen dari Jepang.

Lanjut Sugeng, proses pembuatan batiknya juga beda. Lazimnya, kain dicanthing dengan motif batik terlebih dulu. Baru dipola baju. Namun Sugeng menerapkan cara lain, dengan terlebih dulu memotong kain untuk dipola berbentuk baju. Baru setelah itu pola baju dibubuhi canthing batik. “Hasilnya sangat beda. Lebih good look, eye catching. Selain itu juga lebih efisien dari penggunaan kain serta bahan,” imbuh suami dari Sugistiyati ini yang telah bergelut dengan batik sejak tahun 2004.

Pria yang menjabat Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) DIY ini, cukup cerdas dalam membranding produknya. Kualitas sangat dipikirkan matang. Tidak serta merta mengejar kuantitas. Sugeng juga mengangkat sisi filosofi dalam setiap karyanya. Hal itu tergambar jelas dalam torehan motif tumpal dan corak poleng.

Sugeng menjelaskan, tumpal adalah sebuah motif segitiga yang banyak dijumpai pada ragam hias batik pesisir. Motif ini juga serapan akulturasi budaya dari India. Tumpal juga mempunyai nilai filosofis sebagai tolak bala, musibah ataupun bencana. “Sedangkan corak poleng kotak hitam-putih menggambarkan aspek kehidupan manusia yang selalu bertolak belakang. Baik-buruk, pria-wanita, tinggi-rendah, utara-selatan dan sebagainya,” ujar bapak dua putra ini.

Bicara soal gaya yang diusung, pria yang juga sebagai pengurus di Dekranasda DIY ini mengedepankan potongan siluet loose dengan permainan aksen pada lengan dan leher. Pada bagian lengan acapkali menonjolkan lengan dengan ujung melebar. Sementara bagian leher kerap dibubuhi aksen simetris ataupun kerah sanghai. “Sebagai desainer otodidak, saya harus kreatif, selalu berinovasi dan menonjolkan ciri khas ataupun aspek pembeda,” tandas Sugeng yang mengusung tagline bagi Gee Batik: ‘Sebenar-benarnya Batik Tulis Beda’.  (Dol)


share on: