Kopi Sebagai Cermin Perubahan Sosial

share on:
Puji Qomariyah, konseptor ruang Coffe Lato di Dusun Barjan, Bantul || YP-Ist

Yogyapos.com (BANTUL) - Di tengah percepatan zaman, cara masyarakat memandang kopi telah bergeser. Dulu, secangkir kopi mungkin hanya ditemani obrolan ringan atau kesendirian di warung pinggir jalan. Kini, kopi menjadi medium pertemuan ide, ruang di mana batas antara pekerja, seniman, dan pemikir kian kabur.

Kopi bukan lagi sekadar minuman, melainkan bagian dari ritual budaya, simbol kolaborasi, refleksi, dan kadang perlawanan. Di Yogyakarta, salah satu episentrum gerakan kreatif Indonesia, transformasi ini terasa jelas, kopi dan seni mulai berbagi panggung yang sama.

BACA JUGA: GREAT Institute Apresiasi Prabowo, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Pertumbuhan

Pada 12 Agustus 2025, sebuah ruang baru dibuka di Brajan. Tanpa gemerlap iklan, tempat ini hadir dengan konsep yang sederhana, kopi sebagai penghubung, seni sebagai bahasa, dan ruang sebagai sarana dialog. Acara peluncurannya diisi dengan pameran tunggal karya Usmanto, seniman kriya muda yang mengolah material kayu menjadi instalasi kontemporer.

Aris Slamet Widodo, penggagas ruang ini, menyebutkan bahwa tujuannya adalah menjawab kegelisahan yang muncul di kota, kebutuhan akan tempat untuk berpikir tanpa distraksi, berdiskusi tanpa pretensi, dan menikmati karya seni tanpa jarak.

BACA JUGA: Ditangkap! Terduga Pencuri Barang Elektornik Pernah 'Bobol' RSUD Sleman

"Di sini, obrolan dan seni adalah musik latarnya, kami tidak perlu musik dari musisi terkenal untuk menciptakan atmosfer hangat. Di sini, percakapan dan seni adalah soundtrack terbaiknya, " ujarnya.

Dia menambahkan, ingin mengisi ruang kosong di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, ruang di mana orang bisa berpikir, berdiskusi, dan terinspirasi. Coffee Lato bukan hanya tentang kopi, tapi tentang cerita, ide, dan kolaborasi. Karya-karya seni yang dipamerkan di sini adalah bagian dari napas tempat ini.

BACA JUGA: PN Sleman Kabulkan Praperadilan, Advokat Chrisna Harimurti Apresiasi

Puji Qomariyah, konseptor ruang ini dan salah satu pengisi acara, menggambarkan filosofi tempat ini lewat narasi yang cair, bahwa kopi dan seni sama-sama bisa menjadi medium untuk memahami hidup. Rasanya tak perlu dikemas dengan jargon-jargon tertentu, biarkan orang menafsirkan sendiri.

Dalam narasi pembukaannya, Puji menyampaikan, kopi bukan sekadar minuman, tapi sebuah ritual. Seperti hidup, kadang pahit, manis, atau kuat tergantung bagaimana kita menyeduhnya.

Gelato? Ia adalah karya seni yang bisa dinikmati, lembut, kreatif, dan selalu membawa kebahagiaan. Di Coffee Lato, kami memadukan keduanya, serius tapi santai, klasik tapi modern," tukasnya.

BACA JUGA: Kisah Mbah Bancak Siap Dipentaskan Teater Khotekan

Usmanto, seniman yang karyanya dipamerkan, melihat ruang ini sebagai tantangan kreatif. "Seni kriya yang sering dianggap sekadar kerajinan, tapi di sini bisa berdialog langsung dengan penikmatnya, tanpa penghalang," katanya.

Tempat ini tidak menawarkan kemewahan atau konsep yang terlalu dikurasi. Sebaliknya, ia justru membaur dengan denyut kreativitas Yogyakarta, cair, egaliter, dan terbuka untuk interpretasi.

Usmanto, seniman kriya yang karyanya menghiasi indoor dan outdoor Coffee Lato, turut menyampaikan kegembiraannya.

BACA JUGA: Podcast Spesial Fakultas Kedokteran UAJY Hadirkan Walikota Yogya

"Seni kriya adalah bahasa universal. Saya bersyukur bisa memamerkan karya di tengah energi kreatif Coffee Lato, di mana setiap sudutnya mengundang percakapan. Semoga karya-karya ini tidak hanya dinikmati secara visual, tapi juga menginspirasi para pengunjung untuk melihat seni dari sudut yang berbeda,” ujarnya dengan tersenyum. (*/Red)


share on: