Kurikulum Keris di Sekolah dan Kampus, Perlukah?

share on:
Salah seorang narasumber dalam sarasehan ‘Ekosistem Kreatif Perkerisan di Era Millenial’ yang diselenggarakan Kunda Kabudayaan DIY bekerja sama dengan Komunitas Lingkar Kajian Keris (LKK), di Hotel El Royal Yogyakarta, Jumat (18/10/ 2023) || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (YOGYA) - Pemerintah hendaknya mengenalkan keris sebagai warisan budaya eksotik original karya seni budaya leluhur asli Nusantara di sekolah-sekolah maupun kampus perguruan tinggi. Bahkan kalau perlu dibuatkan kurikulum sebagai mata pelajaran bagi siswa siswi maupun mahasiswa. 

BACA JUGA: Dari Hearing Disbud, Perlu Dipikirkan Sleman Jadi Rumah Bersama

Demikian benang merah sarasehan ‘Ekosistem Kreatif Perkerisan di Era Millenial’ yang diselenggarakan Kunda Kabudayaan DIY bekerja sama dengan Komunitas Lingkar Kajian Keris (LKK), di Hotel El Royal Yogyakarta, Jumat (18/10/ 2023). Acara yang dihadiri puluhan orang dari berbagai segmen masyarakat penggiat perkerisan di wilayah Yogyakarta ini menghadirkan Pembicara Wahyu Hidayat (Akademisi dan Pemerhati Keris dari Surabaya), Cahyono Budi Santoso (Pemerhati Keris Yogyakarta) dengan moderator Tunggul Masyrofi (Sekretaris LKK).

Akademisi Pemerhati Keris Wahyu Hidayat atau Ki Dayat mengatakan, keris merupakan perwujudan dari konsep filsafat atau lokal knowledge yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Benda warisan budaya yang diakui UNESCO ini, merupakan warisan budaya pelengkap aksesori masyarakat Indonesia. Bahkan masyarakat  juga mempercayai keris sebagai senjata sekaligus sebuah benda yang memiliki kekuatan supranatural, memiliki nilai-nilai filosofis kosmologi dan ontologis. 

BACA JUGA: Sleman Creative Week Kembali Digelar di Taman Kuliner Condongcatur

“Keris merupakan simbol dan representasi jati diri budaya dalam perspektif semiotika dan hermenutika. Karena itu sebagai perwujudan pelestarian budaya, penting sekali adanya kurikulum khususnya pengenalan keris. Bahkan kalau perlu ada pengenalan keris di sekolah-sekolah atau kampus perguruan tinggi,” katanya. 

Sementara Cahyono Budi Santosa yang lebih dikenal sebagai Budi Kajena menyatakan bahwa keris juga merupakan industri kreatif. Pembuatan keris melalui proses kreativitas ide dan bakat individu maupun kelompok yang diwujudkan menjadi karya yang meningkatkan kesejahteraan selama proses kreatif. Hal ini sudah menjadi perilaku sehari-hari bagi para empu tosan aji serta para pengrajin atau mranggi aksesoris keris.

BACA JUGA: Kapolda DIY: Yogyakarta Barometer Indonesia, Ajak Masyarakat Sukseskan Pemilu 2024

“Persoalan untuk mewujudkan daerah kreatif untuk DIY hampir tidak ada masalah, tidak ada hambatan, karena segala  persyaratan untuk terwujudnya kota kreatif secara alami sudah ada. Karena mayoritas warganya cukup  berpendidikan dan relatif mandiri. Harapan kita keris akan lestari karena ada juga generasi millenial yang peduli dan mencintai keris,” jelasnya. (Tor)

 


share on: