LAUNCHING MAJAPAHIT MILENIA : Menyaksikan Bre Redana yang Tak Pongah

share on:
Didampingi Putu Sutawijaya, Bre Redana melayani tanda tangan para penikmat novelnya. Insert Majapahit Milenial || YP/Fadholy

Yogyapos.com (YOGYA)- Ketika Majapahit jatuh pada abad ke-15, dua abdi, Banca dan Naya, sebelum moksha mengeluarkan sumpah bahwa keduanya akan menitis pada individu terpilih. Dari masa ke masa.

Lalu pada abad ke-21, mereka menitis ke dalam diri seorang pendongeng yang hidupnya luntang-lantung tanpa tujuan. Hobinya berziarah dari candi satu ke candi lain. Dirasuki kedua roh tadi, pendongeng ini menguak misteri jatuhnya Majapahit. Sisi kelam dan juga aspek kemahsyuran Majapahit sebagai kerajaan terbesar di Nusantara.

Begitulah sepenggal sinopsis dari novel lansiran terbaru karya Bre Redana bertajuk ‘Majapahit Milenia’. Dalam menggarap project novel ini, Bre tidak sendirian. Dia menggandeng seniman kontemporer ekspresif asal Tabanan Bali, Putu Sutawijaya. Dua maestro dilininya masing-masing yang tak segan mendobrak batas primordialisme dalam berkarya.

Acara book launching dan exhibition ini bertempat di Langgeng Art Foundation (LAF), Jl Suryodiningratan 37 Yogya, Sabtu (27/7) pagi. Dipandu host yang juga aktris film Happy Salma, dengan iringan narasi musik oleh Tommy F Awuy, Dosen Filsafat di FIB UI dan mengampu Pasca Sarjana di IKJ.

Buku setebal 210 halaman ini dalam setiap sub judulnya akan disisipi ilustrasi karya Putu Sutawijaya yang related dengan alur cerita. Imaji dan memori para pembaca akan ditarik jauh ke belakang pada abad ke-15. Dengan gaya penulisan khas wartawan dan dengan sisipan ala milenial, Bre tidak berusaha umuk (pongah) menonjolkan kepiawaiannya. Penulis asal Salatiga Jawa Tengah ini tampil andhap asor (rendah hati). Bahkan membebaskan para pembacanya menafsirkan titik akhir novel Majapahit Milenia.  

Owner LAF Deddy Irianto mengungkapkan, suatu kebanggaan pihaknya bisa menjadi tempat peluncuran novel Bre Redana. “Saya dan Bre sudah kenal sejak lama. Namun belum pernah kerja bareng seperti ini. Saya excited sekali dan tentunya bangga banget bisa bersanding dengan seorang pujangga seperti Bre. Saya menganalogikan Bre Redana adalan Pendekar dari Pulau Persik. Selamat menikmati karya Bre Redana dan Putu Sutawijaya,” ujar Deddy Irianto didampingi penggagas acara Candra Guatama.

Sementara itu Candra Gautama menambahkan, acara ini sengaja menyinkronkan momentumnya dengan perhelatan ArtJog MMXIX. Bisa dikatakan side part dari Jogja Art Weeks. “Energi kreatif Yogya luarbiasa. Event seni dan budaya tumpah ruah. Saling berkelindan. Saling mengisi. Tidak egois. Manusia boleh merencanakan. Tetapi Ilahi yang menyelenggarakan. Mari bercengkerama dengan susunan kata Bre Redana. Dan mengudap coretan ilustrasi khas Putu Sutawijaya,” ungkap Candra Gautama.

Sejumlah seniman, budayawan, kolektor dan pemilik galeri menghadiri acara sesrawungan ini. Ada pelukis kawakan Djoko Pekik, Samuel Indratma (seniman mural), Heri Pemad (director ArtJog), Nasirun (perupa kontemporer), Ong Hari Wahyu (perupa dan pengagas Pasar Kangen), Wani Dharmawan (penggiat teater), Kris Budiman (dosen studi kajian budaya pasca sarjana UGM), Listia Prajoga (pemilik galeri Facade Art), Cicilia King (kolektor barang seni), Jefry Tan (fashion designer), Delia Murwi (founder Kamala Nusantara), Jais Darga (owner Darga & Lansberg Galerie) dan tidak ketinggalan rekan kerja Bre Redana di Harian Kompas, Ninuk Mardiana Pambudy.

Ditemui Yogyapos.com di sela acara, Ninuk mengatakan jika Bre Redana adalah ‘perpustakaan berjalan’ lini sejarah dan budaya yang dipunyai Kompas. “Tulisan-tulisannya tidak menggurui. Apa adanya. Mudah dicerna. Namun acapkali multitafsir. Buku ini sangat milenia sekali, namun tidak meninggalkan kekhasan seorang Bre Redana. Sekali lagi, selamat Bre,” ujar Pemred Kompas ini. (Dol)

 

 


share on: