Yogyapos.com (YOGYA) - Alumni Lintas Angkatan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa menggelar Webinar dengan tajuk ‘Membangun Tamansiswa melalui Seni dan Budaya’ pada Rabu (29/12).
Webinar ini dilaksanakan secara hybrid yang secara langsung digelar di Taman Budaya Yogyakarta dan disiarkan pula melalui platform Zoom dan live YouTube Swara Tamansiswa.
“Kita seminarkan tentang bagaimana masa depan Tamansiswa karena tahun depan Tamansiswa telah berusia 100 tahun. Ini usia yang sudah tidak muda lagi,” kata Ki M Munawaroh, Ketua Umum PKBTS (Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa) yang juga merupakan keynote speaker dalam acara ini.
Lebih lanjut, Ki Munawaroh sendiri mengatakan bahwa PKBTS tidak menginginkan usia 100 tahun Tamansiswa ke depan itu menjadi momentum kebangkrutan, melainkan harus menjadi momentum kebangkitan. Maka dari itu, perlu adanya reformasi baik dari segi struktural maupun kepengurusan. Sehingga harapannya di dalam webinar ini, narasumber dapat menyampaikan apapun hal yang dapat dilakukan guna membangun Tamansiswa dan menyatukan pemikiran yang sama dari anggota PKBTS dalam rangka membawa Tamansiswa Berjaya kembali.
Dalam penyampaian materinya, Ki Hadjar Pamadi, Dewan Pembina PKBTS, sekaligus narasumber dalam acara ini mengatakan bahwa Ki Hadjar Dewantara sendiri meyakini, dalam pendidikan seni, berkesenian itu merupakan sebuah katarsis, sebagai eksistensi diri atau human existence, serta sebagai sarana kreativitas. Dalam dunia pendidikan, hal ini pun kemudian memunculkan sebuah teori baru yang mulanya bernama STEM (Science Technology Engineering Mathematics). Pendidikan diharuskan dapat mengemas keempat hal itu dalam pembelajaran. Namun, saat ini Illinois University sudah menambahkan teori baru yang kemudian diberi nama STEAM, di mana A-nya adalah art dalam konteks artisticdan aesthetic. Hal ini dikarenakan setiap orang yang memiliki “art” tentu dapat mengembangkan kreativitasnya.
“Dunia kita butuh kreativitas. Maka diwajibkan, baik itu mathematics atau apapun juga harus ada konsep art-nya karena art itu mampu membangun kreativitas terus pada anak,” kata Ki Hadjar Pamadi.
Sementara itu, Ki Hadjar mengatakan bahwa hal kedua dalam konteks art, selain artisticadalah aesthetic. Aesthetic ini dimaksudkan dengan rasa indah dan dapat memahami orang lain atau disebut raos.
“Kalau hanya rasa atau taste sekedar ditempelkan atau dicubit akan merasakan sakit, tapi kalau raos itu sampai ke dalamnya,” tambah Ki Hadjar.
Di akhir penyampaian materinya Ki Hadjar mengungkapkan bahwa pendidikan seni termasuk dalam ruang imajinasi. Maka dari itu dalam pendidikan seni dibutuhkan beberapa hal seperti yang pertama, pengembangan habitus peserta didik. Habitus adalah menangkap peristiwa apapun juga kemudian ditata ulang dengan sistem syaraf kita.
Nantinya, konsep neuro-imagine akan membedakan konsep neuro-cognitive dan neuro-aesthetic yang bersatu dan akan disimpan di dalam sedimen otak manusia. Yang kedua juga dibutuhkan adanyaintervensi kognitif karena dengan ini nantinya akan menghasilkan seni-seni yang tidak konvensional, tetapi juga seni digital. Selain itu, yang terakhir pendidikan seni juga perlu membangun kepercayaan diri melalui seni, penguatan gagasan, adaptasi situasi, mengggugah ideologi menjadi ciri pribadi, serta pelatihan rasa dari rasa menjadi raos. (Akhir Lusono)
