Menyapa Sang Nyai di Watulumbung

share on:
Dramatic Reading 'Menyapa Sang Nyai' : Lisa Sulistyowati, Agus 'Seteng' Yuniawan' , Budi Sardjono dan Astri Aldo || YP-R Toto Sugiharto

Yogyapos.com (BANTUL) - Bangsa Nusantara, terutama Jawa, menggunakan kecerdasan spiritual dalam menciptakan peradaban. Upaya tersebut dirintis dan dipelopori, antara lain oleh Danang Sutawijaya yang kelak menjadi raja Mataram Islam pertama bergelar Panembahan Senopati.

Penerusnya, Sultan Agung pun menyempurnakan peradaban Jawa Islam dengan trilogy karyanya, Serat Sastra Gendhing (budipekerti), Serat Nitipraja (moralitas dan kewajiban penguasa), dan Pangracutan (hal-ihwal kematian). Sementara, Sutawijaya menciptakan paradigm baru dalam mengelola dunia dengan penciptaan mitologi Nyai Rara Kidul yang kemudian dikenal sebagai perspektif gender.

Meristz Hindra

Demikian disampaikan HM Nasruddin Anshoriy CH dalam oras isingkat menyambut peringatan Hari Asyuro yang jatuh pada 10 Muharram di Watulumbung Alasnew Kuliner, Pleret, Bantul,  Kamis (27/7/2023) sore.

Orasi Gus Nas, demikian panggilan akrabnya, merupakan bagian dari serangkaian acara tersebut, di antaranya pembacaan prolog Dramatic Reading “Menyapa Sang Nyai” oleh actor Meritz Hindra dan berikut pertunjukannya yang dibawakan oleh Budi Sardjono (penulis naskah Menyapa Sang Nyai), Agus “Seteng” Yuniawan, Lisa Sulistyowati, dan Astri Aldo.

“Ini (tanggal 10 Muharram) secara spiritual jadi titik balik yang akan mengubah sejarah. Ini ada peristiwa sebagai cara Tuhan mengubah sejarah. Tapi, ada peristiwa tragis yang dialami cucu Nabi yang dipenggal lehernya dan menjadi trauma berkepanjangan bagi umat Islam, sebagaiperistiwa kebiadaban luar biasa. Maka, tradisi Jawa(selama bulan Suro/Muharram) melarang peristiwa yang berisifat selebrasi,” ujar Gus Nas.

Nasrudin Anshoriy Ch

Pemrakarsa acara, Muhammad Rivai mengemas acara tersebut dengan memadukan kultur Jawa dan Islam dengan sajian menu kerakyatan, seperti soto rempah, srengsengan kepala kambing, bubursubuh, dan aneka minuman. Sebelumnya, pada 2018 Mbah Boy, demikian sapaan akrabnya, juga pernah menanggap Dramatic Reading Sang Nyaidari penulis sama, Budi Sardjono hingga dua kali berturut-turut dengan sutradara Indra Tranggono dan LuwiDarto. 

Dramatic Reading Menyapa Sang Nyai berlangsung selama hampir 50 menit di panggung yang berbeda, pada bagian lereng bukitdi Watulumbung itu. Sejumlah seniman dan wartawan menghadiri acara tersebut, di antaranya Teguh Mahesa, Ituk, Bambang Haryana, Ki “Taro” Mujar Sangkerta, Tri Adiwijaya, dan lainnya. (R Toto Sugiharto)

 


share on: