Yogyapos.com (YOGYA) - Lima menit menjelang minum kopi. Aku ingat pesanmu. Kurang atau lebih. Setiap rezeki harus dirayakan dengan secangkir kopi. (Jokpin)
Rangkaian Joglitfest 2019 menyuguhkan workshop penulisan puisi yang diikuti sekitar 50 peserta, di Kedai JBS Wijilan, Sabtu (7/9) sore. Hadir mengampu workshop tersebut, penyair nyeleneh Joko Pinurbo (Jokpin).
Jokpin begitu ia akrab disapa mengatakan, metode umum dalam menyusun sebuah puisi harus menguasai olah kata, ilham penulisan dan penderitaan. “Namun saya coba menawarkan metode baru. Yakni ‘metode diagram pohon’. Filosofinya simple. Sebatang pohon berasal dari akar dan tanah. Puisi juga harus berakar dari bawah. Dari tanah. Disitu ada pergulatan hidup dan jibaku. Ada yang diserap dan ada yang harus difilter. Korelasinya adalah sikap ‘membumi’. Manusia dan puisi harus membumi,” terang penyair kelahiran Sukabumi ini.
Penulis puisi ‘Surat Kopi’ ini menangkap antusiasme penyair muda yang bermunculan. Menurutnya, ini iklim yang sehat. Namun harus tetap diimbangi falsafah puisi yang mendalam. “Jangan terpaku deadline. Jangan asal coret. Puisi tidak bias dipaksakan. Karena dia berproses, seperti metode diagram pohon. Puisi itu akan merambat naik, lalu membentuk pohon yang rindang dengan buah yang segar,” imbuh Jokpin.
Jokpin juga menyoroti pasca reformasi, manusia lebih mudah terpantik oleh konflik. Sedikit-sedikit bertengkar. Saling melempar cacimakian. “Bagi saya situasi tersebut bias menjadi ilham penulisan, lalu dikembangkan lantas dieksekusi,” ungkapnya. (Dol)
