Minim, SMK (Penyiaran Seni Broadcasting dan Film) di Kota Pendidikan

share on:
Akhir Lusono SSn MM

KISARAN tahun 2000-an, dunia pendidikan penyiaran mulai menggelinding. Terus menggelinding, hingga saat ini. Bahkan sekarang di kota-kota besar jurusan penyiaran sudah menjamur. Di Indonesia, SMK yang membuka jurusan atau kompetensi keahlian penyiaran juga dikenal dengan broadcast sangat banyak. Tidak hanya puluhan namun sudah sampai hitungan ratusan. Demikian pula guru yang menjadi sumber daya manusia utama program keahlian ini, hitungannya sangat banyak, (Sumber: Program Keahlian Seni broadcasting dan Film PPPPTK Seni Budaya 2019).

Eksistensi tersebut juga semakin menguat dengan adanya Peraturan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud RI Perdirjen Nomor: 06/D.D5/KK/2018 tentang Spektrum Keahlian Sekolah Menengah Kejuaruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan/MAK. Perdirjen tersebut juga berisi tentang bidang keahlian, program keahlian, kompetensi keahlian seluruh jurusan SMK/MAK yang ada di Indonesia, sebagai acuanbagi SMK/MAK dalam pelaksanaan pembelajaran termasuk kurikulumnya.  Salah satu bidang keahlian yang ada dalam spektrum tersebuat adalah Bidang Keahlian: Seni dan Industri Kreatif, Program Keahlian:Seni Broadcasting dan Film, dan Kompetensi Keahlian: Produksi dan Program Siaran Radio, Produksi dan Program Siaran Televisi, Produksi Film dan Program Televisi, Produksi Film.

Yogyakarta terkenal dengan sebutan kota perjuangan, budaya dan pendidikan. Termasuk salah satunya adalah pendidikan penyiaran, khususnya pendidikan tinggi. Jika kita sebut pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan penyiaran adalah: Universitas Gajah Mada, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC), STIKINDO (dulu Akindo), AKRB dan tentunya masih banyak lagi PT yang membuka jurusan penyiaran. Yogyakartajuga layak disebut sebagai kota penyiaran. Bagaimana tidak, dengan keluasan Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak seluas propinsi atau daerah lain, menyimpan potensi stasiun penyaiaranyang luar biasa. Baik LPP Televisi, Radio, LPS TV,  Radio, LPK Radio serta Poduction House.  Banyaknya stasiun penyiaran dan productionhouse,  mengabarkan kepada masyarakat luas, bahwa kebutuhan SDM jurusan ini sangat banyak. Sehingga peluang membina karier sangat terbuka lebar. Jurusan ini juga jurusan yang dapat dijadikan pilihan utama bagi generasi muda untuk melanjutkan sekolah. Terlebih diera milenial,  jaman revolusi indutri 4.0, pekerjaan di dunia penyiaran adalah pekerjaan yang update, yang akan selalu dapat mengikuti perkembangan jaman.

Pentingnya pendidikan program keahlian penyiaran sepertinya belum disadari betul, khususnya pemilik yayasan amal usaha pendidikan yang ada di sekolah menengah kejuruan. Mereka belum melihat sebagai ceruk yang menjanjikan, tidak hanya aspek bisnis tetapi juga prospektifnya lulusan. Acapkali jurusan yang dibuka adalah jurusan-jurusan yang sudah jenuh di pasaran. Menarik untuk dibincangkan, mengapa Yogyakarta sebagai kota penyiaran, namun belum membuka jurusan penyiaran.Ekstrimnya Yogyakarta saat ini menurut penelusuran penulis baru ada satu SMK yang membuka program keahlian seni broadcasting dan film kompetensi keahlian: Produksi dan Program Siaran Televisi, yakni SMK Muhammadiyah 1 Kota Yogyakarta, serta SMK Putra Tama Bantul membuka kompetensi keahlian  Produksi dan Program Siaran Radio. Mengapa ini bisa terjadi di kota Yogyakarta, yang banyak sekolah menengah kejuruan. Menjadi keprihatinan sendiri, dengan realitas yang demikian. Semoga Yogyakarta tidak berlarut-larut akan minimnya sekolah kejuruan penyiaran. Kedepan akan bertumbuh bagaikan tumbuhnya jamur dimusim hujan. 

Lalu pertanyaannya kira-kira apa yang dapat dijadikan koreksi mendapati kenyataan yang seperti ini. Adakah ide, gagasan atau sodoran solusi untuk mengatasinya? Adabeberapa hal yang perlu dilakukan oleh stakeholders.

Pertama, publikasi secara terstruktur, masif dan sistematis bahwasannya jurusan ini adalah jurusan yang menjanjikan. Jurusan yang memiliki prospektif dan tidak akan tenggelam dimakan jaman. Bukti sudah menjanjikan, setidaknya kita tahu sejak jaman sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan, sesudah kemerdekaan, sampai jaman milenial ini. Bidang penyiaran tetap eksis dan selalu saja dapat mengikuti perkembangan jaman. Masih tetap hidup lestari dan baik-baik saja. Bahkan gempuran gadged tidak meluluhlantakkan dunia penyiaran. Dunia penyiaran juga dihuni oleh SDM yang cerdas, kreatif dan inovatif. Kedua,untuk pemerintah yang berwenang mengeluarkan ijin dibukanya jurusan atau kompetensi keahlian di sebuah SMK, mohon dapat membuka kran yang sebesar-besarnya, tentunya dengan tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Argumentasinya dengan dibukanya kran selebar-lebarnya akan memantik para pemilik amal usaha pendidikan untuk mengerling dan membuka jurusan ini. Jangan-jangan ada rasa khawatir akan sulitnya membuka jurusan di SMK. Sehingga keprihatinan akan sedikit, minim atau bahkan tidak adanya pendidikan jurusan penyiaran baik radio, televisi dan film akan terjawab.

Ketiga, kepada masyarakat luas utamanya yang memiliki yayasan dan memiliki amal usaha pendidikan, perlu mengajukan ijin untuk membuka jurusan atau kompetensi keahlian penyiaran. Karena jelas saat ini Yogyakarta kalah jauh dibandingkan dengan kota besar lainyang lebih dahulu sudah menjadikan jurusan broadcast atau penyiaran sebagai jurusan yang harus ada di sekolah menengah kejuruan yang dipimpinnya. Ada pepatah terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali. Ibarat lagu ilir-ilir yang syairnya berbunyi: mumpung padhangrembulane, mumpung jembar kalangane. Selagi belum banyak pesaing yang ada di Yogyakarta. Dengan kasunyatan ini tentu semua pihak akan mendukung lahirnya tunas-tunas baru di dunia penyiaran televisi, radio dan film, di kota pendidikan ini. Izin dipermudah penyiapan fasilitasi tentu juga akan didukung.

Ketiga hal yang terpaparkan tersebut, mudah-mudahan membuka wawasan, tentang jurusan atau kompetensi keahlian yang ijoroyo-royo, namun belum dilirik dengan seksama ini bisa segera terwujud. Yogyakarta yang terkenal dengan kawah candradimuka untuk menempa generasi penerus bangsa dalam berbagai jurusan keilmuan termasuk penyiaran yang kemudian menelorkan tokoh-tokoh bangsa. Yogyakarta tidak menjadi kota yang justru kering dengan jurusan yang sebenarnya memiliki sawah garapan yang luas. Semoga SMK dengan program keahlian penyiaran atau seni broadcasting dan film segera terealisir. Berdiri sebagai salah satu garda terdepan untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga! (Akhir Lusono SSn MM, Praktisi Penyiaran Radio dan Televisi)


share on: