Yogyapos.com (BANTUL) - Dialektika dan perdebatan adalah hal yang wajar dan lumrah dalam sejarah. Tak akan pernah tuntas sejarah disempurnakan. Selagi itu masih dalam koridor akademis tak ada yang perlu dicemaskan. Lain halnya kalau kepentingan politis yang diutamakan, pendidikan karakter generasi muda bisa jadi korban.
Museum Bibis adalah adalah salah satu jejak sejarah yang kian mengenaskan. Berlokasi di dusun Bibis, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, seolah tak kuasa menahan tangis. Persentuhannya dengan Letkol Suharto menjadi sebab kenapa kondisinya kini kian merana. Selain tidak terawat, beberapa bagian bangunanya sudah mulai rusak.
“Dulu orang tua kami pejuang, namanya Harjowiyadi. Menjabat Dukuh Bibis. Beliaulah yang menyembunyikan Pak Harto saat dikejar Belanda. Semua kepentingan pejuang disiapkan orang tua kami dan didukung oleh warga sekitar. Tetapi sekarang mana ada yang peduli dengan keberadaan museum ini,” kata Susamto anak bungsu dari enam bersaudara keluarga Harjowiyadi kepada yogyapos.com, di rumahnya belakang Museum Bibis, Minggu (6/8/2023) siang.
Komandan Brigade X Divisi III/Wehrkreise III, Letkol Suharto, pernah singgah dan tinggal di rumah tersebut. Letak rumah yang berada di puncak bukit kecil memang strategis untuk bertahan dan mengintai ibukota negara Yogyakarta yang diduduki Belanda. Dari rumah Harjowiyadi inilah, Letkol Suharto menyusun strategi, mengendalikan operasi, dan berkomunikasi melalui radio dengan pemimpin perjuangan dan pemerintahan seperti Jenderal Soedirman dan Sjafrudin Prawiranegara yang menjabat Kepala Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatra Barat.
Susamto di belakang Museum Bibis || YP-Wahjudi Djaja
“Apapun perdebatan yang menyangkut tokoh, peristiwa atau tempat, tak boleh memadamkan api sejarah. Nilai kejuangan dan kegoyongroyongan harus diestafetkan kepada generasi muda. Sampai kapan pun, dendam sejarah tak pernah memberikan manfaat bagi generasi penerus. Resiko terburuknya adalah bangsa ini semakin amnesia, lupa pada sejarahnya,” tandas Ketua Umum Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Wahjudi Djaja SS MPd di Museum Bibis.
Potensi yang dimiliki Bangunjiwo, lanjutnya, sangat lengkap dan menjanjikan. “Semua pihak perlu duduk bersama untuk memberdayakan potensi agar karakternya bisa terangkat. Bangunjiwo bisa didesain seperti Bali dengan karakter seni dan sejarah yang kuat. Kolaborasi dan sinergi menjadi keniscayaan jika kita ingin maju dan sejahtera,” kata Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY ini.
Sementara itu pengurus Badan Usaha Milik Kalurahan Bangunjiwo “Bangun Kamulyan,” Bambang Daryono, menyambut positif upaya untuk mengangkat potensi sejarah Bibis dan Bangunjiwo.
“Selama ini Bumkal Bangun Kamulyan memiliki tiga unit usaha, yaitu kawasan kuliner Sekar Mataram, wisata edukasi dan penyelenggaraan wedding. Pengembangan sejarah Museum Bibis bisa kita masukkan dalam wisata edukasi yang sampai sekarang belum maksimal tergarap. Prinsipnya kami siap untuk kolaborasi,” katanya di Kafe Sekar Mataram.
Dalam catatan redaksi, Monumen Bibis telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Permenbudpar RI No. PM.89/PW.007/MKP/2011. Dari sisi arkeologi, Museum Bibis merupakan warisan budaya Jawa. Tipe bangunan limasan dan joglo lengkap dengan emper, dalem, dan gandok. (Iud)
