Yogyapos.com (YOGYA) - Aileen Nathania Pranata (8), pelukis kecil asal Kotagede Yogyakarta, menggelar pameran tunggal tunggal bertema ‘Aku dan Goresanku’ di Kopi Macan & Gallery Coffe Shop Jalan Bugisan Selatan 9B Tegal Senggotan, Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Bantul, Kamis (10/08/23).
Pameran yang akan berlangsung hingga 20 Agustus 2023 ini dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendali Penduduk) DIY Erlina Hidayati Sumardi SIP MM ini memajang sekitar 80 lukisan, dikuratori Dr Drs Hajar Pamadhi MA Hons. Hadir dalam acara pembukaan tersebut: Tazbir Abdullah, Bu Angling Kusuma, Yani Sapto Hudoyo, Yusman (pematung, owner Gallerty Kopi Maca),
Gelar pameran ini merupakan tindak lanjut kegiatan sebelumnya, yaitu launching buku “Aku dan Goresanku”, kumpulan foto aktivitas keseharian serta beberapa hasil karya lukisnya pada bulan Januari 2023 lalu. Di sela pembukaan, Aileen yang saat ini duduk dibangku Kelas 2 SDN 1 Kotagede merasa senang dan bangga bisa menggelar pameran tunggal ini. “Senang bisa pameran tunggal. Saya memang suka menggambar,” ujar Aileen polos.

Aileen Nathania Pranata lahir pada 1 Januari 2015 dari pasangan Ismanto Pranata dan KRNgt Mawar Dyah Kusumowati. Aileen memiliki hobi melukis, foto model dan game. Ia memiliki cita-cita menjadi foto model sekaligus pelukis terkenal, agar bisa membantu dan manfaat untuk orang banyak. "Tak ada kata lelah dalam keseharian, selalu ceria dan peduli dengan sesama, lembut hati dan suka menolong siapa saja,” katanya.
Ibunda Aileen, KRNgt Mawar Dyah Kusumowati dalam kesempatan tersebut mengatakan pameran tunggal bertujuan memperkenalkan putrinya dengan karya-karyanya kepada khalayak luar. Mawar – begitu Ibu Aileen disapa – juga untuk menyemangati putri ketiganya agar terus konsisten dalam berkarya nyata dan bisa meninspirasi teman-teman sebaya lainnya.
Mawar mengatakan sejak Playgroup putrinya itu sudah suka corat coret, hingga saat duduk di bangku Taman Kanak Kanak hasil goresannya semakin berbentuk. “Setiap melukis dia langsung menggoreskan alat lukisnya (baik bolpoint atau spidol), jadi begitu melukis langsung jadi tanpa ada revisi atau dihapus-hapus dulu. Apa yang dia pengen lukis, ya sudah itu, langsung jadi sesuai mau dia. Di situ saya semakin terpikir kalau Aileen punya bakat seni,” ujarnya.
Selama ini Aillen sudah berkali-kali ikut pameran bersama. Pertama, Pameran Seni Rupa Komunitas Kompilasi “Berkan Art” bulan Maret lalu di Pendopo Warung Makan Eteng, Sleman. Kedua, Pameran “Bersama-sama Bergembira” dalam rangka perayaan Hari Menggambar Nasional 2 Mei di Griya Abhipraya, Gondomanan, Yogyakarta. Pernah juga ikut Bazar Art di Museum Sonobudoyo, Melukis on the spot Haul Maestro Sapto Hoedojo di Makam Seniman Imogiri.
Dalam kegitan melukis, ibunda Aileen tidak pernah memaksa seseorang untuk berkarya. “Jangan paksa anak untuk menjadi apa atau siapa biarkan dia tumbuh & berkembang sesuai firahnya,” tukas KRNgt Mawar Dyah Musumawati
Sebelumnya, Aileen sudah terlibat dalam berbagai kegiatan, antara lain: Lounching buku kumpulan karya 'Aku dan Goresanku" di Hotel Bifa Yogyakarta, pameran bersama pelukis senior lainnya, OTS bersama seniman lukis di musium Sonobudoyo, Bazar ART bersama Seniman Lukis di Musium Sonobudoyo dan puluhan event pameran seni lukis lainnya. Juga pameran “Quarto Art Gembira Menggambar” Indonesia Menggambar 2023 di Rumah Dhogk Art Pandak, Bantul dan Taman Budaya Jateng Surakarta.
Kurator Hajar Pamadhi mengatakan, kehebatan karya anak adalah ekspresinya yang selalu indah ditunjukkan dengan komposisi matang, mempunyai natural boalncing yang dilakukan dengan otomatis. Seperti karya-karya Aileen, gerakan tangan itu disentuh oleh imajinasinya melalui tatapan mata. Gerakan wajah yang diangkat itu seperti merujuk kepada sifat objek yang dibuka dengan menggambar mata.
“Mata bagi Aileen adalah kamera, ketika akan mengangkat dan memilih objek berkarya dimulai dari menggambarkan mata. Hal inilah yang menjadikan ciri khas proses representasi yang dilakukan Aileen. Mata sebagai objek berkarya, mata sebagai alat berkarya dan mata sebagai kamera mencatat peristiwa hariannya,” tuturnya.
Catatan harian ini memilih objek yang dipilih dan ditampakkan sebagai mata, seperti mata ular, mata sebagai kamera memotret objek yang dipilih. Mata seolah kamera hidup sepanjang masa, melihat, mengamati, memilah bentuk dan warna yang diakhiri dengan ungkapan realis dalam karya karya. Menurut Hajar Pamadhi, pola Aileen seperti kata Plato (filsuf) yang menyarankan pengamatan dari mata, kejelian mata akan menghasilkan keunikan karya. Namun dia juga mengangkat saran Aristoteles bahwa “the aim of art is to represent not the outwark apprearance og things, but their inward significance”.
“Inilah kehebatan Aileen dalam menglah objek, objetivitasnya berangkat dari mata yang dijadikan sebagai titik nadir konsentrasi menemukan karakter wajah objek tersebut,” ujarnya.
Maestro Pelukis Nasirun mengatakan, Aileen merupakan anak-anak yang menarik karena dari goresannya menunjukkan keperibadiannya dan terlihat sekali warna serta garis-garis karakter si anak itu. “Saya menyambut dengan gembira munculnya Aileen karena bisa berikan satu kontribusi dan mempengaruhi teman sebaya menjadi generasi kreatif. Syukur jadi seniman. Untuk membangun negeri ini dibutuhkan insan kreatif,” tandas Nasirun.
Beberapa karya Aileen antara lain berjudul: Manusia Pelangi, Joker, Model, Tamanku, Miss Amerika, Manusia Kelinci, BermakeUp, Foto Bertiga, Anime, Diwaktu Malam, dan lain-lain. Beberapa pihak mengapresiasi dan mendukung pengembangan bakat Aileen. Kepala SDN 1 Kotagede, Siti Sulandari, berharap kiprah Aileen bisa memotivasi teman-temannya menciptakan karya lain sebagai wujud ekspresi dan kreativitas anak negeri. (Tor)
