Yogyapos.com (BANTUL) - Bazar buku terbesar di dunia, Big Bad Wolf (BBW) resmi dibuka oleh Rachmat Gobel selaku utusan Presiden, bersama Kepala Dinas Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY, Dra Monika Listiyani MM, di Hall A JEC, Kamis (1/8) pagi. Nampak juga hadir Dandim 0734 Letkol Inf Wiyata Aji. Ratusan orang rela mengantri untuk bisa hadir di acara yang akan berlangsung dari tanggal 2-12 Agustus, selama 24 jam nonstop dengan memberikan diskon hingga 80 persen.’
Ditemui di sela-sela opening, Rachmat Gobel mengaku terkejut dengan animo ratusan orang yang rela mengantre demi hasrat mendapatkan buku yang berkualitas dan mencerdaskan.
“Acara bazar buku seperti ini sangat bagus untuk menumbuhkan literasi baca di masyarakat kita. Dan, syukur-syukur diadakan sesering mungkin. Walaupun sekarang eranya serba digital, namun sebuah buku masih menjadi rujukan pengetahuan,” kata Rachmat Gobel yang mengaku memborong buku-buku favoritnya.
Selaku inisiator acara BBW, Presdir PT Jaya Ritel Indonesia, Uli Silalahi mengatakan, semangat membaca di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Masyarakat harus memperluas cakrawala. Salah satu kuncinya adalah dengan banyak membaca, meningkatkan literasi dan kebiasaan membaca sejak dini. Awalnya kami menaruh segmen buku anak hanya 30 persen, namun lantaran permintaan yang massif, kemudian segmen buku anak malah mendominasi. Dan hanya di BBW ini pengunjung bisa menjumpai ‘Buku Ajaib’ yang tak ditemukan di bazar lain,” ujar Uli yang menyediakan stok buku sekitar 1,5 juta buku selama acara berlangsung.
Sedangkan Dra Monika menyoroti soal indeks minat baca masyarakat di Indonesia dan di Yogyakarta. Menurutnya, dari data tahun 2015 minat baca masyarakat Indonesia dibanding Negara lain di angka 0,01 persen. Beberapa waktu lalu ada sebuah survey yang menyatakan minat baca orang Indonesia bertambah di angka 0,40 persen. “Ini menjadi PR kita bersama untuk menggenjot angka minat baca. Kami juga menggulirkan program pembagian 200 buku gratis di tiap wilayah serta perpustakaan keliling. Buku itu dibaca, dipahami lalu implementasikan. Jangan cuma dipakai buat jadi bantal. Untuk DIY masih menjadi rangking teratas se-Nasional untuk minat baca masyarakat,” urai Kadis BPAD DIY ini.
Disinggung soal maraknya kasus pembajakan buku, Monika mengaku masih susah untuk membatasinya. “Sekarang scan buku mudah sekali. Fotokopi juga bisa. Namun kecenderungan masyarakat untuk membeli buku yang cetakan asli juga tinggi. Mereka mempunyai kesadaran yang patut diapresiasi,” imbuhnya.
Seorang pengunjung BBW, Gitra mengaku sudah ikut antre sejak jam 08.00. “Disini bukunya keren-keren. Kualitasnya juga bagus. Saya memborong buku anak dan juga buku ajaib. Maklum penasaran juga dengan isian di buku ajaib. Sedikit keluhan saya mungkin di venue yang kurang lega, yang hanya memakai satu hall saja. Dan antrean yang lumayan panjang,” ungkap wnaita asal Sewon Bantul ini. (Dol)
