Yogyapos.com (KLATEN) - Revitalisasi Rowo Jombor, Desa Krakitan, Bayat, Klaten msih terkendala dengan penertiban warung apung dan keramba di sekitar rawa. Namun demikian, penertiban warung apung akan tetap jadi prioritas tahun ini. Karena hal itu merupakan salah satu pendukung revitalisasi rawa.
Kepastian tersebut diungkapkan Dandim 0723/Klaten Letkol Inf Joni Eko Prasetyo. Saat ini informasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo ada refocusing, sehingga ada kegiatan yang dialihkan di tahun depan.
Tetapi untuk penertiban warung apung, keramba dan pemancingan tetap jadi prioritas untuk diselesaikan tahun ini,” ucapnya, Jumat (1/10/2021).
Selama ini Kodim 0723/Klaten selalu dilibatkan dalam revitalisasi untuk menyosialisasikan kepada pemilik warung apung, keramba dan pemancingan. Terkait kegiatan sosialisasi akan dilanjutkan kembali ketika Klaten turun ke PPKM Level 2. Mengingat saat ini pembatasan kegiatan masih dilakukan guna menekan penyebaran Covid-19.
Terdapat 2.000 keramba baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak digunakan lagi. Disepakati nanti untuk keramba yang tidak aktif akan menjadi prioritas untuk ditertibkan.
“Untuk pemilik warung apung juga telah mendapatkan sosialisasi dari Dinas Kepemudaaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah. Kami juga sempat dihubungi Disporapar untuk kelanjutan sosialisasi ke pemilik warung apung menunggu Klaten turun level. Mengingat untuk kegiatan sosial masih dibatasi,” imbuhnya.
Terkait hal ini, para pemilik warung berharap masih bisa tetap berjualan dan diberi lokasi di Rowo Jombor. Para pemilik warung ini masih mencoba untuk bernegosiasi dengan pihak terkait.Menurut beberapa pemilik warung apung ,apabila warung apung dipindah ke daratan akan menghilangkan ciri khas dari kuliner setempat. Ramainya Rowo Jombor tidak bisa terlepas dari deretan warung apung yang menjadi ikon sejak 1998 tersebut.
Menurut salah satu pemilik warung apung di Rowo Jombor, Sutomo (49) setelah sosialisasi terakhir yang dilakukan pada Juni lalu belum ada kelanjutannya lagi. Pihaknya masih menunggu sosialisasi dari pihak terkait terkait rencana warung apung yang hendak dipindah ke daratan dalam kegiatan revitalisasi rawa tersebut.
”Untuk saat ini warung apung dan pemancingan yang masih aktif di Rowo Jombor ada sekitar 30 warung. Saat ini kami masih menunggu kelanjutannya. Apalagi jika pembongkaran warung apung dilakukan secara mandiri biayanya cukup besar sehingga kami harapkan ada pemihakan,” tuturnya.
Sebagian besar pemilik warung apung ini adalah warga Desa Krakitan sendiri. Kalau nanti dipindahkan yang sudah disiapkan oleh pemerintah itu lokasinya kurang cocok. Dikarenakan berdekatan dengan peternak ayam sehingga ketika musim penghujan tiba dan apabila ada angin akan tercium bau.
Para pemilik warung ini berharap ada win-win solution terkait keberadaan warung apung dalam revitalisasi Rowo Jombor. Meski begitu, pada prinsipnya mereka mendukung terkait revitalisasi tahap II yang menelan anggaran Rp 50 miliar bersumber dari APBN. (Arifin)
