HUJAN menyisakan gerimis ketika Rena (31) pengamen jalanan bernama asli Puji Lestari ini tiba di Rumah Makan Ikan Bakar Makasar, Kompleks Pertokoan Babarsari, Senin (15/11/2021) jelang petang.
Dengan menenteng biola, Rena tanpa canggung uluk salam seraya izin mengamen kepada para tamu yang sedang santap. Berkat anggukan kepala seorang pelanggan, ia pun memutar satu nomor hits mendiang Glenn Fredly dari recording yang dibawa di dalam tas kecil sembari memainkan alat musik gesek.
Satu nomor selesai, atas permintaan tamu, disusul nomor hits berikutnya yang tak kalah menyayat menghadirkan suasana ritmis. Suntuk ia memainkan biola hingga mengakhiri lagu kedua.
Hanya dua lagu, tapi ia merasa perlu mengulang ucapan terimakasih kepada seorang tamu yang tiba-tiba menyodorkan uang . Baginya, itulah pemberian uang yang cukup besar dalam perjalanan dari rumahnya di Kalasan hingga sampai di rumah makan spesial ikan bakar.
“Terimakasih sekali, terimakasih Pak,” ucap Rena kepada si pemberi uang yang ternyata seorang advokat senior Yogyakarta Aprillia Supaliyanto MS SH, yang tersentuh impresi batinnya dan kagum oleh permainan pengamen berparas maniez.
Ibu muda beranak tiga ini sudah cukup lama mengamen. Biasanya ‘beroperasi’ di Simpang Empat (trafigt light) UPN Babarsari, antara Pukul 15.00-21.00. “Biasanya kalau di perempatan jalan yang ngasih itu antara seribu (Rp 1.000) atau dua ribu (Rp 2.000),” katanya, tersenyum.
Pengamen yang mahir memainkan biola ini mengaku otodidak sejak remaja. Demikian pula suaminya, otodidak memainkan gitar tunggal. Di suatu waktu ada juga yang ‘nanggap’ untuk tampil bareng dalam acara hajatan dengan honor yang tak begitu banyak untuk ukuran pemain semahir mereka. Tetap disyukuri.
Setelah sekian lama beroperasi di jalan, ia berhasrat mengamen dari rumah makan ke rumah makan. Agar lebih pasti, tenang dan berharap mendapatkan imbalan yang lebih besar. Apalagi anak-anaknya kini sudah mulai sekolah. Si sulung sudah kelas 3 SD. Kalau lama ngamen di jalanan banyak risiko. Termasuk kesehatan dan kemungkinan terkena razia.
“Saya pernah digaruk, ditahan. Tapi cuma semalam, lalu dilepas setelah mendapat pengarahan. Istilahnya pembinaan gitu,” tukasnya, tersenyum.
Pengamen yang mengaku berpendapatan tertinggi Rp 150.000 dalam sekali beroperasi ini kembali mengucapkan terimakasih dan rasa syukur. Pasalnya, diantara kepulan asap aroma bebakaran ikan petang itu, ia mendapat tawaran mengisi sebuah acara dari seorang tamu advokat tadi.
Setelah saling tukar nomor ponsel, ia pun pamit meninggalkan RM Ikan Bakar Makasar. Meninggalkan advokat keren yang kebetulan juga telah usai santap bersama sejumlah rekannya. Mereka mungkin bakal bertemu lagi, entah kapan. (Met)
tonton videonya:
