Perlunya Pendidikan Anak Berbakat, Ini Pendapat Prof Rochmat Wahab

share on:
Prof Dr H Rochmat Wahab MPd MA, Rektor UNY 2009-2017

MENURUT The National Association for Gifted Children dan para ahli lainnya, bahwa jumlah anak berbakat itu sekitar 5-7 prosen dari populasi. Bahkan di The Rochester Community Schools, ada anak sebanyak 1000 orang. Jika bisa diambil contoh di Indonesia, di Yogyakarta, ada sebagian besar anak berbakat akademik di SMAN 1, SMAN 3 dan SMAN 8. Tapi mengapa banyak sekolah SMA-MA, SMP-MTs, atau SD-MI tidak banyak ditemukan Anak Berbakat. Menurut hemat saya, bukan tidak banyak ditemukan, naman mereka terabaikan, tak teridentifikasi. 

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-uny-bertambah-delapan-guru-besar-9311

Jika anak-anak berpotensi sebagai Anak Berbakat tidak ditemukan, maka akibatnya mereka tidak memperoleh layanan yang sesuai. Kondisi ini menandakan bahwa kita kurang mensyukuri karunia dan nikmat yang besar dari Sang Kholiq. Ingat, hampir banyak dijumpai orangtua yang menginginkan anaknya unggul, tapi mengapa setelah lahir, anak-anak itu kurang mendapat perhatian yang sesuai, bahkan diabaikan kehadirannya, sehingga mereka menjadi underachiever, bahkan ada yang bunuh diri. 

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-gadis-madura-yang-menjelajah-inggris-berkat-beasiswa-9296

Panggilan untuk menyelamatkan Anak Berbakat, setidak-tidaknya ada sejumlah alasan. Gifted education is needed to provide academically aligned education for advanced students, to teach gifted students skills needed in their careers and lives, to meet their social and emotional needs, and to keep them engaged in school so they don't drop out. (Rochestersage.com).

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-quorra-princy-asal-banjarmasin-torehkan-prestasi-turnamen-tenis-yunior-tdp-diy-9319

Apabila Anak Berbakat dilayani, dididik dan di bimbing dengan baik, Insya Allah mereka tidak hanya sukses dalam studinya, sukses karirnya, melainkan juga bisa sukses hidupnya. Kesuksesan Anak Berbakat di samping bertumpu pada anak sendiri, melainkan juga bertumpu pada orangtua, pendidik, dan pembina yang terkait dengan keberbakatannya. 

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-kuliah-di-uny-ini-pengalaman-mahasiswa-asal-gambia-9277

Pendidikan Anak Berbakat yang bermakna tidaklah asal berjalan, melainkan perlu mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, Gifted Education is Equal Education. Artinya,  bahwa Anak Berbakat seyogyanya tidak dilayani seperti anak katagori rata-rata, melainkan mereka harus dilayani sesuai dengan kondisi, potensi dan kebutuhannya. Sama (equal) disini tidak dipahami dengan layanan yang persis sama, melainkan sama-sama dilayani dengan  jenis dan kadar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang optimal. 

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-pation-fest-mahasiswa-ap-uny-asah-bakat-dan-jiwa-kewirausahaan-9247

Kedua, Gifted Education is Not Elite Education. Artinya bahwa pendidikan untuk anak berbakat tidak bersifat eksklusif, melainkan sesuai dengan potensinya. Posisinya memang di atas rata-rata, sehingga perlu penambahan dan adaptasi materi sehingga bisa menunjang untuk pencapain prestasi yang optimal. 

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-dua-pembobol-rumah-jaksa-diringkus-di-jakarta-9341

Ketiga, Having Gifted Education Can Be Inexpensive. Dengan memberikan pendidikan yang tepat bagi Anak Berbakat, maka mereka akan dapat menyelesaikan studinya lebih cepat daripada teman sebayanya. Dengan begitu pendidikan Anak Berbakat tidak berbiaya tinggi. Walaupun selintas membutuhkan sarana-prasarana yang berbiaya tinggi, tapi hasilnya di kemudian hari diharapkan dapat mendapatkan keuntungan yang banyak, karena anak berbakat bisa berkembang optimal dan berkontribusi untuk pemecahan masalah yang terkait dengan keberbakatannya. 

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-danlanud-adisutjipto-pimpin-apel-luar-biasa-tahun-2023-9338

Jika Anak Berbakat mendapat pendidikan yang sesuai, maka Anak Berbakat bisa tumbuh dan berkembang optimal dan bisa meraih sukses, baik melalui prestasi yang berupa kejuaraan, yang seringkali bisa angkat mama keluarga, sekolah dan bangsa/negara. Namun jika Anak Berbakat tidak mendapat layanan pendidikan yang sesuai, mak biaya sosialnya terlalu tinggi, bahkan kita bisa kehilangan kapital sosial yang tinggi. Yang merugi tidak hanya yang anaknya sendiri, melainkan juga orangtua, pemerintah dan masyarakat. Karena itu sebaiknya kita tidak berspekulasi. 

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-catatan-akhir-tahun-jcw-memprihatinkan-masih-banyak-vonis-ringan-kasus-korupsi-9335

Akhirnya, semoga kita sebagai orangtua, sekolah dan Pemerintah serta masyarakat perlu bersinergi untuk menyambut kehadiran anak berbakat, dengan menyiapkan sistem pendidikan yang sesuai, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan kepada Ilahi. Upaya positif ini bisa mengekspresikan sikap mensyukuri, bukan mengingkari. Terlepas dari semuanya, bahwa Anak Berbakat sebagai subjek, seharusnya juga untuk tumbuh dan berkembang perlu wujudkan sikap mandiri, dan mengeksplorasi diri dan semua yang melingkungi untuk bisa beraktualisasi diri. Semoga. (Prof Dr H Rochmat Wahab MPd MA, Rektor UNY 2009-2017)

 


share on: