PUJI, PROFIL PEREMPUAN PEJAHIT : Bertahan dari Gempuran Toko Swalayan, Distro dan Online Fashion

share on:
Puji Rahayu didepan mesin jahit yang menjadi sandaran hidupnya | YP/Agung DP

KEBERADAAN penjahit pakaian agaknya tetap dibutuhkan masyarakat di tengah menjamurnya toko syawalan, super market, distro dan online shop di berbagai kota termasuk Yogyakarta. Dari waktu ke waktu para penjahit pakaian tetap bertahan dengan langgamnya yang berkecenderungan tradisional, tanpa promosi maupun menggunakan manajemen pemasaran laiknya bisnis jasa fashion.

Puji Rahayu (45) adalah satu di antaranya yang hingga kini tetap istiqomah sebagai penjahit pakaian di bilangan Kampung Krapyak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pelanggannya pun lumayan banyak, dari anak-anak hingga remaja dan dewasa strata ekonomi kelas menengah ke bawah.

“Dulu pelanggannya cuma ibu-ibu sekitar kampung sini saja, tapi alhamdulillah sekarang dari luar kampung juga banyak yang menggunakan jasa saya menjahit,” tutur perempuan asal Kandangan, Temanggung kepada yogyapos.com,  Minggu (27/1/2019).

Kedatangan yogyapos.com ke sana memang hendak memesan baju seragam untuk reporter. Tawar-menawar disepakati 1 unit hem berlogo obras, berbahan katun kombinasi dua warna, harganya cuma Rp 100 ribu. Relatif murah, dibandingkan jika membeli di toko atau pesan di penjahit-penjahit lain yang memang spesialis melayani pembuatan baju seragam.

Puji mengungkapkan, ilmu menjahit didapat dari pengalamannya bekerja di sebuah perusahaan konveksi di akhir 80-an di Cirebon, yakni ketika masih lajang. “Iya saya pernah merantau bekerja di perusahaan pakaian,” sela ibu dari seorang putera yang kini duduk di bangku SLTA.

Hanya butuh sekita 3 tahun, Puji memilih pulang kampung dan kursus bidang konveksi selama beberapa bulan. Merasa sudah bisa, ia pun nekat membuka jasa jahit pakaian di kampungnya. Ini berjalan sekitar setahun, lalu pindah ke rumahnya yang sekarang di Krapyak, Sleman.

“Ini saya ikut suami. Dan suami yang mendorong saya untuk melanjutkan pekerjaan yang berawal dari hobi ini. Alhamdulillah berkah,” kata perempuan yang dipinang seorang pria ini pada 2002.

Menurut dia, menjahit itu merupakan kegiatan yang membutuhkan ketrampilan teknis dan keindahan. Semua itu bisa digapai melalui proses dan ketekunan alias tidak asal-asalan, dari sejak melakukan ukur, menentukan pola, hingga memotong dan menjahit. Proses tersebut menjadi satu kesatuan yang sejak awal sudah terpatri di benaknya.

“Saya awalnya hanya menjahit baju wanita, kemudian pakaian anak-anak,” terang Puji yang mematok harga relatif murah untuk jasanya menjahit.

Secara ketok tular, ternyata permintaan meningkat dari hari ke hari. Bukan saja menjahit baju anak-anak dan perempuan saja, tetapi juga baju pria. Bahkan kini melayani permak pakaian.

Kenyataan itulah yang kini membuatnya tengah berencana menggaet partner kerja agar bisa melayani pelanggan yang cenderung bertambah. Apalagi di saat musim tahun ajaran baru atau lebaran, ia terpaksa bekerja ektra (long time) hingga tengah malam.

Puji adalah fenomena perempuan penjahit yang menekuni pekerjaannya secara tradisional, tanpa manajemen modern. Lazimnya para penjahit pakaian di kampung-kampung, ia tak pernah berpikir tentang persaingan. Tak pernah repot-repot atau mengeluh maraknya toko swalayan, bisnis pakaian online, distro, dan sejenisnya.

Bagi dia, hidup mengalir begitu saja. Karena ia yakin rezekinya tidak akan beralih ke lain orang. Terpenting sebagaimana ungkapan bijak Jawa, obah mamah (bergerak makan), artinya selama kita bekerja tentu akan beroleh rezeki.

Di sisi lain dia enggan punah walau diming-imingi bekerja di perusahaan besar dengan gaji lumayan besar. Tetap bertahan untuk mandiri, dan mungkin inspiratif bagi perempuan-perempuan lain untuk bergerak dengan ketrampilannya membantu ekonomi keluarga. (Adp)

  

 

 


share on: