Purwanto 'Profesor Lebah' Temukan Madu Terbaik se Asia

share on:
Purwanto Hadi Saroso || YP/Yuliantoro

BERPRESTASI tak harus mengenyam pendidikan formal. Demikian yang dialami Saroso Hadi Purwanto, penemu madu terbaik se Asia asal Gunung Kidul Yogyakarta. Walau hanya lulusan sekolah dasar, namun berkat kegigihannya menekuni keunikan Apis Cerena (lebah lokal) ia dijuluki “Profesor” lebah. Nama Purwanto – begitu panggilan akrabnya – kini terkenal hingga Eropa. Purwanto (65) menceritakan, sudah puluhan tahun menggeluti madu. Bermula dengan mencari madu lebah liar di hutan Wanagama Gunung Kidul hingga akhirnya mulai tahun 19883 -an, dirinya memelihara lebah madu untuk menambah penghasilan keluarga. Selama memelihara lebah Purwanto selalu mengamati prilaku lebah. Suatu ketika, ia melihat lebah mengelilingi pohon akasia jenis mangium dan eukaliptus. Ia pun penasaran melihat banyaknya lebah yang berada di sekitar pohon setinggi 10-15 meter itu. Beberapa waktu kemudian, dirinya melihat daun akasia yang masih basah terkena embun, dan menjilatnya, ternyata di sana muncul rasa manis. "Saya penasaran. Lebah kok mengililingi pohon bukan bunga. Lain hari saya mengecek. Sebenarnya makan apa tho lebah ini," kata Purwanto, Minggu (22/2/2020).

Setelah diamati dengan seksama, ternyata lebah mengambil sari makanan dari nektar atau cairan manis yang muncul daun. “Saya lalu mengecek, keluarnya nektar ini dari mana. Daun muda diambil dari ujung daun dan kelopaknya,” ujarnya.

Berangkat dari rasa penasaran inilah, Purwanto lantas menanyakan ke pengelola hutan Wanagama yang merupakan hutan penelitian milik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk bisa memelihara lebah di kawasan hutan tersebut. Upaya tersebut berjalan lancar dan mudah karena dirinya juga sebagai karyawan bagian pengukur tanaman Wanagama. Bahkan bersama warga, dirinya diberi keleluasaan untuk memanfaatkan lahan di sekitar hutan untuk berkebun.

“Waktu itu, tumbuhan akasia belum diketahui menjadi makanan lebah. Setelah mendapatkan izin, dirinya pun mulai membuat sangkar lebah madu di sekitar hutan yang dekat dengan sumber makanan. Lama-kelamaan penanaman pohon akasia mangium dan eukaliptus diperbanyak. Dua jenis pohon itu sudah ada di hampir seluruh kawasan hutan Wanagama, yakni petak 19, 18, 17, 16, dan 5,” terangnya.

Saat ini di sekitar hutan Wanagama, Playen, Gunung Kidul, diperkirakan terdapat 3.000 kotak rumah lebah milik warga setempat. Lebah yang dipelihara pun berbeda dengan kebanyakan petani, yaitu lebah mellivera. Peternakan lebah yang dilakukan Purwanto bersama warga desa setempat adalah jenis lebah lokal Cerana. Purwanto sendiri sekarang memiliki 300 kotak rumah lebah. Madu terbaik Asia Purwanto mengatakan seiring dengan keberhasilan peternakan lebah tersebut, UGM ketika itu menyebarkan informasi ke berbagai negara, baik Asia hingga Eropa, soal makanan khas lebah tersebut. Purwanto mengatakan pernah ada peneliti dan mahasiswa dari Tiongkok datang ke Hutan Wanagama untuk melihat sistem peternakan lebah serta kualitas madu yang dihasilkan.

"Mereka datang mengetes madu di sini. Katanya kualitasnya nomos satu di Asia. Sejelek-jeleknya madu di Hutan Wanagama, ini paling bagus dianggap orang Cina," beber Purwanto.

Dari madu berkualitas itu, Purwanto kemudian memberanikan diri untuk usaha mandiri. Ia lantas keluar dari susunan kepengurusan Hutan Wanagama, meskipun masih beraktivitas di sana. Di sisi lain Purwanto tetap diminta membantu pengelola Hutan Wanagama setiap saat ada yang ingin belajar pengelolaan lebah. Masih berkaitan dengan lebah, ia mengatakan temuan pohon akasia jenis mangium dan eukalipsus, sumber makanan lebah kemudian direspons serius oleh UGM. Bahkan begitu kagumnya terhadap Purwanto banyak pihak menyebarkan informasi ke berbagai negara di Asia hingga Eropa. Bahkan, negara China waktu itu menganggap madu yang dihasilkan dari hutan Wanagama merupakan yang terbaik di Asia. Seiring perkembangan peternakan madu, dirinya pun keluar dari pengurusan hutan Wanagama, tetapi tetap diminta membantu pengelola hutan Wanagama setiap saat ada yang ingin belajar pengelolaan lebah.

Saat ini perkembangan madu sudah menunjukkan tren positif. Saat panen pada bulan Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober, ia dan warga tak perlu takut menjual karena pembeli dari berbagai kota sudah siap menampung. Saat panen, setiap kotak bisa menghasilkan 3-5 kilogram madu dalam sebulan. Per kilogramnya dijual seharga Rp 750.000.

"Madu di hutan Wanagama tak perlu ditawar. Dari orang mana-mana itu yang beli. Mereka sudah tahu kualitas, rasa, dan keasliannya," ujar Purwanto. Penghasilan yang menggiurkan ini bisa meningkatkan perekonomian warga dan mengurangi potensi keinginan warga menebang pohon di hutan. "Istilahnya untuk menanggulangi kerusakan hutan juga," ucapnya. (Yuliantoro)

 

 

 

 


share on: