Rasulan di Padukuhan Jelok, Bupati Sunaryanta Melarung Ubarampe ke Sungai Oyo

share on:
Upacara adat tradisi Rasulan digelar tiap tahun bertepatan musim panen pada Minggu Kliwon di Padukuhan Jelok, Beji, Patuk, Gunungkidul  || YP-R Toto Sugiharto

Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) - Masyarakat petani berbasis kultur agraris cenderung berempati dan bersahabat dengan alam. Pernyataan syukur atas panen yang mereka peroleh, misalnya, dilaksanakan dengan perayaan Rasulan atau Bersih Dusun setiap tahun.

Warga Padukuhan Jelok Kalurahan Beji Kapanewon Patuk Kabupaten Gunungkidul melaksanakan Rasulan, Minggu (18/6/2023) siang. Perhelatan budaya tradisional itu dimulai dengan kenduri angon dan ingkung dilanjutkan kirab gunungan hasil bumi, larungan ubarampe Rasulan, pethikan, dan upacara adat juga dimeriahkan dengan pergelaran karawitan siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 Patuk, pentas seni, dan flashmob.

Tokoh masyarakat atau sesepuh Jelok, Loso (82) mengilustrasikan Rasulan digelar pada musim panen jatuh pada hari Minggu Kliwon. Upacara tersebut sudah dilakukan oleh leluhur atau nenek moyang mereka. Warga setempat kemudian berupaya melestarikannya hingga kini.

Rasulan menika minangka melestarikan saking zaman simbah riyin. Dadi, putra wayah niki melestarikan napa ingkang dipun warisi saking simbah,” terang Loso yang juga menyandang nama sepuh Harjodiyono.

Padukuhan Jelok termasuk daerah subur di Kalurahan Beji. Terdapat sungai Oya yang cukup aliran airnya sehingga lahan pertanian dan ladang tidak pernah paceklik. Bahkan, dalam enam bulan terakhir warga setempat sudah menuai panen hingga dua kali.

Lha niki panene nembe sae. Sampun kaping kalih panen,” imbuhnya.

Dari sumber daya alam setempat, petani memanfaatkan air sungai Oya dengan mesin pompa air untuk mengairi tanaman di lahan mereka yang tidak jauh dari sungai. Di samping juga tersedia saluran irigasi tersier.

Pelaksanaan Rasulan tahun ini lebih meriah. Jembatan yang baru dua tahun terakhir dibangun menjadi pusat rebutan gunungan hasil bumi oleh masyarakat. Jembatan Jelok tersebut menggantikan jembatan lama dengan konstruksi besi dan kayu yang pernah hancur diterjang badai Cempaka pada 2017. Pemerintah membangun jalan baru beserta jembatan yang lebih besar.

Penyerahan hasil panen secara simbolis

Warga berebut gunungan hasil bumi berupa aneka macam sayuran dan buah-buahan. Tidak sampai tembang pengiring Ilir-Ilir dinyanyikan selesai, gunungan hasil bumi sudah ludes. Warga juga antusias turut menyaksikan dari atas jembatan saat Bupati Gunungkidul H Sunaryanta (52) melarung ubarampe Rasulan di bawah jembatan tepi Sungai Oya.

Bupati beserta kepala dinas/instansi terkait beserta Panewu Patuk Martono Iman Santoso SIP serta Dukuh Jelok Galih Agung Satriya melaksanakan pethikan dengan memetik padi menggunakan ani-ani, alat petik padi tradisional. Petikan padi tersebut kemudian disimpan oleh Dukuh untuk dijadikan benih padi.

Padukuhan lainnya di wilayah Kalurahan Beji, seperti Kerjan, Gunungan, Gedali, Krakalan, dan Beji juga menyiapkan gunungan hasil bumi. Mereka mengusung gunungan masing-masing ke Kantor Lurah Beji di Balaidesa setempat setelah Rasulan di Padukuhan Jelok usai. (R Toto Sugiharto)

 

 


share on: