Rerasan Akhir Lusono: Mensikapi Zaman 'Apa Sudah Edan'

share on:
Dr Akhir Lusono SSn MM

TULISAN Ronggowarsito dalam serat Kalatidha pupuh tujuh berbunyi: Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wakasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling lan waspada. Menarik sekali tulisan pujangga ternama yang hingga kini namanya masih sangat tenar. Seakan sang pujangga masih hidup, dekat dengan realita kehidupan dimasa kini.

Pertanyaannya adalah apakah kondisi saat ini menunjukkan ada tanda-tanda zaman edan tersebut? Becik ketitik ala ketara adalah ungkapan Jawa yang sangat dikenal. Bagi masyarakat Jawa ungkapan itu diartikan sebagai segala perbuatan yang baik akan catat dan perbuatan jahat atau jelek itu akan nampak. Segala perbuatan akan mendapatkan imbalan atas perbuatan yang dilakukan. Jika kita cermati, kondisi saat ini masih ada yang berbuat baik dan ada yang berbuat jahat. Contoh kongkrit perbuatan yang jahat adalah tindak pidana korupsi disaat pandemi.

Namun sebaliknya saat ini juga ada perbuatan baik yang hingga kini masih digalakkan. Contoh: Gerakan Jumat berkah dan aksi sosial lainnya. Jika demikian zaman ini belum bisa dikatakan sebagai zaman edan sepenuhnya. Karena hal ini masih kontradiktif, terjadi ditengah masyarakat. Bahkan jika dikaitkan dengan bait terakhir tulisan Ranggawarsita: sakbeja-begjane wong edan, isih begja wong kang eling lan waspada, maka  masih ada orang-orang yang memilih untuk waspada.

Tulisan ini ingin mengungkap ungkapan bahasa Jawa “narima ing pandum”. Masihkah ada di zaman yang setengah edan setengah waras ini? Jika narima ing pandum diterjemahkan sebagai sikap menerima apa yang diberikan oleh Tuhan setelah berupaya dengan bekerja keras. Kembali kepada zaman yang masih setengah-setengah ini, agaknya sikap narima ing pandum pun masih berwarna abu-abu.

Tidak sepenuhnya orang yang hidup di zaman ini khususnya masyarakat Jawa yang masih menerapkan. Berdasar pengamatan penerimaan terhadappanduming Allah SWT masih sering ditawar. Bahkan menawarnya sampai lupa diri, bahwa tawar menawarnya dengan Sang Pencipta Alam. Buktinya acapkali kita saksikan penyelesaian masalah sampai harus mengorbankan nyawa.

Menurut hemat penulis, itulah contoh konkrit dari hilangnya rasa penerimaan terhadap apa yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Acapkali juga terjadi rebutan balung tanpa isi, berebut sesuatu yang sebenarnya tidak ada esensinya. Termasuk sikap rubuh-rubuh gedhang, manut grubyukngalor-ngalor, ngidul-ngidul. Maka tidak mengherankan silang sengkarut dan problema kehidupan saat ini tersajikan dengan gamblang dan tampak nyata. Memang memprihatinkan, disaat masyarakat masih belum merasakan kesejahteraan sepenuhnya. Disisi lain masyarakat masih banyak yang belum mampu memaknai sikap narima ing pandum. Akhirnya inginnya berbuat untuk kebaikan dirinya tetapi malah akhirnya menjadi korban dari sikapnya rubuh rubuh gedhang.

Itulah kasunyatann yang masih memprihatinkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kadang membuat ngelus dhada, prihatin dan unjal ambegan dengan realitas yang terjadi. Mensikapi hal itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh masyarakat.

Pertama, sikap narima ing pandum perlu di perkuat. Maknai ungkapan Jawa narima ing pandum dengan sebenar-benarnya. Bukan pasrah, bukan pula ngaya. Boleh memiliki cita- cita atau keinginan. Silahkan punya ambisi, namun jangan ambisius yang hanya hantam krama, tabrak sana-sini, injak sana-sini, pukul dulu urusan belakang.

Kedua, jangan mau rebutan balung tanpa isi. Bahkan rebutan balung yang berisi pun jangan mau. Apalagi rebutan balung tanpa isi. Karena rebutan balung adalah rebutan rejeki. Yakinlah bahwa rejeki itu tidak akan tertukar. Rejeki itu tidak akan kemana-mana. Rejeki itu sudah dipilah-pilah oleh Sang Khaliq untuk makluknya. Kita percaya saja dengan hal itu. Karena jika kita hanya rebutan balung pasti kita akan bertengkar. Karena yang direbut rejekinya tidak akan mau dan akan sekuat tenaga mempertahankan. Akhirnya tawur, perang,  berkelahi sebagai hal yang tidak terhindarkan.

Ketiga, jangan rubuh-rubuh gedhang. Artinya  sebagai masyarakat jangan hanya ikut-ikutan. Karena dijaman yang serba medsos ini, jika sikap ikut-ikutan dijadikan panglima maka akan remuk redam. Sosmed akan menjadi harimau yang siap dan sigap menerkam bagi masyarakat yang elu-elu. Singkirkan sikap membeo atau mengekor. Kembali kepada kata-kata eling lan waspada, ingat dan waspada. Cermati, renungkan, camkan dan laksanakan untuk tidak sekehendak hati melu ombyaking jaman. Namun hiruk-pikuk yang terjadi harus tetap menjaga kewaspadaan. Hati-hati dengan berita hoax. Jangan transfer berita yang belum diyakini kebenarannya. Hanya karena ingin dianggap up date dan share terdepan, tetepi tidak berfikir akan validitas berita. Kata kuncinya adalah, tiga perilaku baik yang perlu dilakukan, dijaman ‘apa sudah edan’  ini:. Nerima ing pandum, aja rebutan balung tanpa isi dan aja rubuh-rubuh gedhang. (Dr Akhir Lusono SSn MM, PTP BBPPMPV Seni Budaya dan Alumni Program Doktoral FEB Konsentrasi MSDM Universitas Islam Indonesia, Tinggal di Yogyakarta).

 


share on: