Yogyapos.com (YOGYA)- Penyakit ginjal kronis masih menjadi penyebab kematian nomor enam di dunia. Belakangan ini, jumlah pasien gagal ginjal makin banyak dan memerlukan penanganan yang kompleks.
Membicarakan penyakit ginjal, seperti dikatakan dr Tanaya Ghinorawa SpU, dua ginjal yang dimiliki manusia sangat vital fungsinya. Karena mempunyai daya kompensasi sangat tinggi. Artinya, rusak separuh pun tetap bisa bekerja.
Dikatakan Tanaya satu sisi sebagai anugerah, tapi di sisi lain menjadi malapetaka karena deteksi dini terlewatkan. Saat ini, sekitar 850 juta orang di dunia diperkirakan menderita penyakit ginjal. Untuk penyakit ginjal kronis menyebabkan 2,4 juta orang meninggal dalam setiap tahunnya, sedangkan gangguan ginjal akut -- yang juga merupakan salah satu penyebab penyakit ginjal kronis -- mempengaruhi lebih dari 13 juta orang di seluruh dunia.
“Selain itu, ditemukan 85 persen kasus ini ditemukan di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah,” kata Tanaya dalam press conference rencana peringatan Hari Ginjal Sedunia yang diselenggarakan RSUP dr Sardjito, Jumat (1/3/2019).
Acara yang akan berlangsung poada 17 Maret 2019 ini mengusung tema Kidney Health for Everyone Everywhere melalui Sardjito Fair bekerjasama Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) dan Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) Yogyakarta, di sepanjang Jalan Margo Utomo (Jalan P Mangkubumi) Yogyakarta.
Kegiatan diawali talkshow pada 10 Maret 2019, di Atrium Jogja City Mall (JCM) Yogyakarta untuk membahas gagal ginjal. Berlanjut 14 Maret 2019 diadakan simposium bagi para dokter dan perawat di pusat dialisis. Atau, rumah sakit yang ada unit menjalankan cuci darah. Hal itu untuk meningkatkan kualitas pelayanan di pusat dialisis. Kemudian 16 Maret 2019 training CAPD atau cuci darah mandiri di rumah. Hal ini agar pasien tahu prosesnya sesuai prosedur yang ada.
Sementara Dokter H Heru Prasanto SpPD-KGH FINASIM didampingi dr Calcarina Fitriana Retno Wisudawati SpAn KIC, menyatakan masyarakat harus lebih sadar diri mengenai kesehatan ginjal agar mengurangi angka pasien gagal ginjal. Karena tiap tahun semakin bertambah.
Menurut Heru, pasien yang sedang menjalani cuci darah didorong untuk meningkatkan kualitas hidup yang baik. Selain itu juga penanganan gagal ginjal melalui cangkok ginjal.
Di sisi lain seperti disampaikan dr H Iri Kuswadi SpPD-KGH, Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, gagal ginjal bisa dilakukan tindakan dengan cara cuci darah secara rutin ataupun dengan transplantasi ginjal.
Saat ini pasien yang sudah menjalani cuci darah secara rutin seminggu dua kali di RSUP Dr Sardjito sebanyak 153 orang. Selain itu juga terdapat 83 orang yang melakukan cuci darah secara mandiri dan setiap bulannya masih melakukan kontrol di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.
Sedangkan untuk transplantasi ginjal sendiri, sampai saat ini RSUP Dr Sardjito Yogyakarta sudah menangani 52 orang pasien. Adapun transplantasi internasional mencapai 30 persen, tapi untuk di Indonesia masih 1 persen.
Tahun 2019 RSUP Dr Sardjito Yogyakarta akan melakukan terobosan melakukan transplantasi ginjal dari orang yang sudah meninggal.
Dari 52 orang pasien yang ditangani RSUP Dr Sardjito Yogyakarta ada 14 orang pasien tidak ada hubungan keluarga dengan pasien. Ini kemajuan cukup pesat.
Ke depan RSUP Dr Sardjito akan melakukan transplantasi ginjal tidak hanya dari orang hidup, tapi orang yang meninggal. Kalau bisa itu merupakan yang pertama di Indonesia.
"Bulan September kita akan melakukan transplantasi ginjal dari orang meninggal," papar dr Iri Kuswadi.
Penyakit ginjal dinilai semakin mengkhawatirkan dan sering menyerang kelompok usia produktif, bahkan usia anak-anak. Gaya hidup manusia sekarang menjadi salah satu penyebab penyakit gagal ginjal, yang menyerang kelompok usia produktif. Aktivitas fisik yang kurang, bisa menimbulkan risiko terjadi gangguan ginjal. Untuk itu setiap orang diharapkan mampu mengetahui risiko gangguan gagal ginjal.
Menurut Heru, jika sudah menderita hipertensi atau diabetes, biasanya risiko gagal ginjal tinggi dan harus segera memeriksakan diri. Tidak kalah penting untuk memperhatikan batu ginjal yang sering dibiarkan karena belum merasa terganggu. Meski ringan harus segera ditangani.
Usia yang paling sering terjadi gagal ginjal pada usia produktif antara 35-65 tahun. Meski begitu, usia kurang dari 18 tahun sekarang sudah banyak sekali kejadian gagal ginjal karena hipertensi.
Untuk penanganan ginjal selain cuci darah atau hemodialisis di rumah sakit juga ada Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). "Tapi dinilai paling efektif dengan transplantasi," papar dr Darwito. (Afn)
