Yogyapos.com (SLEMAN) - Pementasan Kethoprak Guru Besar UNY di Performance Hall UNY, Jumat (26/5/2023), berjalan sangat meriah. Selain penuh dengan dialog-dialog lucu dan segar, banyak otokritik yang dilontarkan secara spontan oleh para pemainnya.
Kethoprak Guru Besar UNY yang berjudul ‘Suminten Edan’ tersebut terselenggara dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-59 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Lakon ini dipilih sebagai upaya untuk memperkenalkan seni budaya tradisional kepada para dosen yang sebelumnya belum pernah terlibat dalam kesenian kethoprak. Dalam pergelaran ini, para pemain dihadapkan pada tantangan improvisasi dalam waktu latihan yang sangat singkat, yaitu hanya 3 kali.

Sutradara Kethoprak, Prof Suminto A Sayuti, menjelaskan lakon ‘Suminten Edan’ dipilih karena merupakan cerita berbasis historiografi yang mudah untuk diperlakukan dalam pertunjukan kethoprak. Beberapa kesulitan dalam menyutradarai para pemain antara lain karena sebagian besar pemain awam dalam bidang akting bahkan gendhing, Meskipun demikian dengan adanya improvisasi maka pertunjukan dapat berjalan dengan baik.
“Para guru besar itu terbiasa membuat karya ilmiah. Dalam karya ilmiah itu terdapat sejumlah kata kunci. Dalam pertunjukan ini yang saya berikan hanya kata-kata kunci saja. Selebihnya untuk dialog bisa dikembangkan pemain diatas panggung sesuai kreatifitas masing-masing “ ujar Suminto disela-sela pertunjukan.
Ditambahkan Suminto, meski dirinya sudah menginstruksikan untuk lebih banyak berimproviasi dalam berdialog, tetapi diakuinya beberapa pemain masih berakting secara kaku karena terlalu terpaku pada naskah. Padahal seharusnya mereka mampu bermain dengan spontanitas dan merespons situasi panggung. Meskipun demikian, usaha keras para pemain dan sutradara terlihat dalam usaha untuk melepas atribut dan menampilkan perpaduan yang menarik antara berbagai unsur seni.
Selain sebagian besar dimainkan oleh para guru besar, dalam pertunjukan ini juga diperkenalkan gending baru berjudul "UNY CN-CN", sebagai upaya untuk menghadirkan unsur-unsur baru dalam kethoprak. Selain itu, dalam pagelaran ini juga ditunjukkan aksi kanuragan dari Padhepokan Silat SH Teratai .
”Tujuan dari pementasan Kethoprak Guru Besar UNY, lanjut Suminto, semata-mata ini adalah untuk mendidik warga masyarakat, khususnya civitas akademika UNY, agar lebih peduli terhadap keberlanjutan budaya. Seni budaya diharapkan dapat terus hidup dan tidak tercerabut dari bumi sendiri. Melalui panggung kethoprak ini, UNY berusaha melestarikan kebudayaan dengan menghadirkan pertunjukan yang menghibur sekaligus mendidik,” jelas Suminto.
Ditegaskan Suminto, pementasan Kethoprak Guru Besar UNY juga sejalan dengan perubahan status UNY sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH). UNY berusaha untuk menjadi lembaga pendidikan tinggi yang mampu membawa nama baik Indonesia ke tingkat dunia. Upaya ini sejalan dengan moto UNY, yaitu ‘UNY Hanjayeng Bawono’, yang berarti menuju masa depan yang cemerlang. (Sulistyawan Ds)
