Yogyapos.com (SLEMAN) - Setelah sekian lama terpuruk lantaran terpaan Covid-9, obyek wisata Embung Senja di Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati sementara ini difungsikan sebagai lokasi latihan olahraga sepeda tanpa pedal (pushbike) dengan memanfaatkan halaman depan atau area parkir.
Direktur BUMDes Tirtamas selaku pengelola Embung Senja, Wahjudi Djaja mengatakan bahwa selama ini pihaknya telah berhasil mewadahi sejumlah komunitas dengan memberikan ruang yang tersedia, salah satunya menjalin kerjasama dengan Keluarga Besar Pushbike Yogyakarta (KBPY), ountuk menggelar latihan di seputar lokasi Embung Senja.
“Karena Covid-19 kita sempat tutup cukup lama, saat kita lakukan kerjasama dengan komunitas pushbike, intinya untuk mengisi kevakuman, kita manfaatkan area parkir sebagai tempat latihan sepeda tanpa kayuh ini, tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” terang Wahjudi kepada yogyapos.com, Jumat (17/9/2021) di lokasi.
Dia berharap, agar pintu pariwisata dapat dibuka kembali secara berangsur-angsur termasuk dengan keberadaan Embung Senja, menyusul 3 lokasi wisata yang telah resmi dibuka oleh Pemda DIY, yaitu Tebing Breksi, GL Zoo, dan Hutan Pinusari Mangunan.
“Berjalanya waktu, semua sudah menyadari keberadaan pandemi Covid-19 dan masing- masing sudah paham cara antisipasinya, kita pelan-pelan membuka dengan tetap menerapkan protkes yang ketat, intinya kita mulai promosi kembali,” ujarnya.
Dhesy Hayu selaku pendamping latihan pushbike menungkapkan dipilihnya Embung Senja sebagai kegiatan KBPY karena lokasinya layak , diantaranya lintasan luas dan dukungan fasilitas lokasi parkir yang memadahi.
“Biasanya kita latihan di SCH namun karena masih tutup karena PPKM, di sini fasilitasnya cukup luas dan track-nya sesuai, maka kita minta izin dengan pengelola untuk menggelar latihan di sini,” jelas Dhesy.
Di lokasi ini, kata dia, digelar latihan rutin dan sekaligus persiapan menjelang kompetisi sepeda roda dua tanpa pedal ini, latihan rutin dilaksanakan setiap hari Senin dan Kamis.
“Hari ini ekstra waktu, karena untuk persiapan event lomba, biasanya diikuti sekitar 20 anak umur 2 hingga 7 tahun, jadinya kita terbantu dengan disediakanya tempat latihan ini,” katanya.
Olahraga ini lebih popular dikenal dengan istilah push bike, training bike, run bike, baby bike dan trainer wheels.
Pengemudi anak-anak cukup menjadikan kaki mereka sebagai pengganti pedal, yaitu anak-anak mendorongnya dengan kaki yang berlari agar sepeda tersebut tetap melaju dengan kencang, siapa yang lebih dulu mencapai finish,maka dialah juaranya. (Eko Purwono)
