SKM dan Sekber Keistimewaan DIY Menjamas Puluhan Pusaka Leluhur

share on:
Ritual prosesi jamasan dimulai || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (BANTUL) - Jamasan Tosan Aji Mangasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi, Memayu Hayuning Bawana Sanggar Keris Mataram (SKM) dan Sekber Keistimewaan DIY, Sabtu – Minggu (12-13/8/2023) atau bertepatan dengan 25-26 Suro Jimawal 1975, di Ndalem Widihastan Tegalsari Sewon Bantul.

Tercatat lima puluh tosan aji berupa pusaka keris dan tombak dijamasi. Di antara tosan aji itu ada pusaka Keris Kanjeng Kiai Kembar, Keris Sekar Melati Mataram, Kiai Rekso, Kiai Careng serta pusaka lainnya. 

Tosan Aji keris yang akan dijamasi || YP-Yuliantoro

Prosesi jamasan yang dimulai dengan iringan ladrang gending Mugi Rahayu itu dihadiri Ketua Sanggar Keris Mataram (SKM) Ki Nurjiyanto, Ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasta Wasana Putra, KRAT Edi Basuki, Ketua Paguyuban Tosan Aji Semar Kinandhu Wonogiri Sulistiyono, Eko Supriyono, Ki Endroyo, Romo Budihardjo, Arya Pandhu dan beberapa tokoh pelestari tosan aji dari Jogja dan Solo.

Ketua SKM Ki Nurjiyanto mengatakan, tradisi ini dilakukan dalam rangka merawat atau memetri warisan dan kenang-kenangan dari para leluhurnya. Pusaka Keris dan Tosan Aji memiliki segudang makna di balik wujud fisik bendanya. Benda pusaka merupakan buah hasil karya cipta dalam bidang seni dan ketrampilan tradisional dari para leluhur kita di masa silam. “Dan keris sebagai mahakarya seni tempa logam yang memiliki falsafah hidup yang begitu tinggi. Selain itu, koleksi benda pusaka telah menjadi situs dan monumen sejarah, dan memudahkan kita simpati dan berempati oleh kemajuan teknologi dan kearifan lokal para perintis bangsa terdahulu,” ujar Nurjiyanto yang juga Wakil Sekjen Senapati Nusantara (Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara).

Ki Nurjiyanto menjamasi keris || YP-Yuliantorto

Masih kata Gus Poleng – sapaan Ki Nurjiyanto - landasan utama dalam prosesi ritual Jamasan Tosan Aji ini adalah yang dikenal sebagai semangat Tri Mataram: Mangasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi, dan Hamemayu Hayuning Bawono. Kiranya, perlu kembali disegarkan pemahaman tentang keris. Dalam pemahaman Jawa, seorang lelaki dewasa harus memiliki: Wisma, Turangga, Curiga, Kukila, Wanita. Secara harfiah orang menerjemahkan Rumah, Kuda, Keris, Burung dan Isteri (Wanita), meski makna simbolisasinya jarang dipahami.

“Keris dapat dipahami sebagai senjata perang, sangu atau bekal hidup. Bekal untuk hidup itulah yang diwujudkan dalam bentuk uba-rampe yang secara nyata diwujudkan dalam bentuk berbagai barang duniawi. Tetapi sesungguhnya simbolisasi inilah yang harus ditangkap dan dimaknai. Sebab orang Jawa tidak pernah memberi nasehat secara langsung, tetapi biasanya tersirat dalam suatu simbol,” jelasnya.

Sementara Ketua Sekber Keistimewaan DIY yang juga tuan rumah jamasan tosan aji, Widihasto Wasana Putra berharap kegiatan jamasan tosan aji yang diinisiasi SKM bersama Sekber Keistimewaan DIY ini semakin memperkuat kesadaran dan wawasan masyarakat terhadap nilai-nilai kebudayaan sehingga salah satu visi besar founding father kita Trisakti Bung Karno yakni berkepribadian secara budaya dapat semakin kokoh. 

Ubo rampe jamasan || YP-Yuliantoro

“Peristiwa tahun 2020 yaitu pengembalian keris Pangeran Diponegoro bernama Kiai Nogo Siluman yang dirampas kompeni Belanda di era Perang Jawa tahun 1830 lalu misalnya, dapat dipergunakan menjadi materi edukasi yang menarik bagi generasi muda masa kini bahwa keberadaan sebuah benda pusaka keris lekat dengan nilai kesejarahan bangsa sehingga keberadaannya patut diselamatkan dan dilestarikan,” katanya.

Untuk keperluan jamasan tersedia uba-rampe tumpeng lengkap,  ingkung ayam, pisang raja, jenang-jenangan, anak ayam hidup, gula jawa setangkep, suruh ayu, bunga setaman, sekul punar, jajan pasar, serta lauk-pauk. Berbagai uba rampe itu ada yang manis, gurih dan pahit.

“Semuanya ini diharapkan agar, tumetesing kacuwan dadiya rerentenging kanugrahan, agar segala kekecewaan berubah menjadi anugerah. Ubo-Rampe lain dalam prosesi Jamasan Pusaka Tosan Aji, juga air mengalir, kuas bersih, lerak, jeruk nipis, warangan, kain bersih, minyak keris, dan lain-lainnya,” Gus Poleng mengakhiri pernyataannya. (Yuliantoro)

 

 

 

 

 

 

 

 


share on: